Tentang Pasukan Delta Force Penulis: Dr. Yasin Aktay* Kemarin, pasukan "Delta Force" Amerika Serikat menggiring pemimpin sosialis...
Tentang Pasukan Delta Force
Penulis: Dr. Yasin Aktay*
Kemarin, pasukan "Delta Force" Amerika Serikat menggiring pemimpin sosialis Maduro dari rumahnya dalam waktu 2,5 jam. Pasukan yang sama ini, 25 tahun yang lalu, pernah melancarkan serangan udara dan darat ke rumah pemimpin Taliban, Mullah Muhammad Omar, di Kandahar.
Namun, para prajurit mujahid pemberani yang membela Mullah Omar hingga titik darah penghabisan, berkat kecerdikan dan ketajaman naluri mereka yang bahkan mengejutkan intelijen Amerika Serikat, telah membuat orang-orang Amerika tersebut gagal menemukan atau menangkap Mullah Omar.
Di hadapan perlawanan para pahlawan yang gagah berani, mereka (pasukan delta force) tercerai-berai seperti anak ayam yang ketakutan, dan kembali dalam keadaan hina serta memalukan.
Mereka tidak mampu merebut bahkan sandal wudhu Mullah Omar dari sebuah rumah desa tua yang sederhana, terbuat dari lumpur, dan tanpa benteng pertahanan. Melainkan, mereka tercerai-berai dan terserak seperti wol yang diurai, di hadapan segelintir mujahid yatim piatu.
Para mujahid Afghanistan, dengan kaki yang beralas sandal compang-camping, dan dengan alat peledak yang mereka buat selama 20 tahun menggunakan toples plastik kuning serta panci presto yang primitif, telah menjadikan Amerika Serikat, badut dunia yang sombong, sebagai bahan tertawaan di antara bangsa-bangsa.
Adapun rekan-rekan sosialis Maduro, mereka menyerahkan pemimpin mereka kepada para perampok Amerika seolah-olah di atas piring emas, tanpa duri (tanpa perlawanan sedikit pun).
Sebuah rakyat yang muak dan jenuh dengan sistem sosialis, terbenam dalam tidur yang sangat lelap, dan rekan-rekan "merah" dari pemimpin yang terguling itu meniru burung unta (berpura-pura tidak melihat kenyataan). Tiba-tiba, para perampok Amerika menculik kepala negara semudah mencabut sehelai rambut dari mentega, di depan mata seluruh dunia dan rakyat Venezuela.
Adapun para mujahid Afghanistan di pegunungan Hindu Kush, yang kemiskinan dan kekurangan mereka telah mencapai tingkat mengunyah pohon karena lapar, mereka tetap berdiri tegak di tengah kondisi cuaca yang sangat ekstrem dan membekukan, dengan air wudhu yang membeku, sambil berdiri di hadapan Allah. Selama 20 tahun, mereka menjadikan tanah Islam yang penuh berkah ini, yang tidak mereka lepaskan sejengkal pun, sebagai kuburan bagi raksasa Rusia dan kafir Amerika.
Afghanistan hari ini adalah kuburan raksasa bagi tank-tank. Dan ia adalah tanah yang paling mulia di dunia, yang tidak mengulurkan tangan kehinaan, tidak menggosok-gosokkan kedua telapak tangan (sebagai tanda tunduk) kepada Trump di bawah belenggu terorisme Amerika, dan tidak pernah mengatakan "ya" (tunduk) kepada raksasa Rusia sama sekali.
Ia adalah saksi atas kejayaan, kehormatan, dan kewibawaan dalam geografi Islam.
Jihad yang epik dari para kesatria ini selama 20 tahun adalah sebuah akademi yang lengkap dalam kesadaran Islam yang sesungguhnya.
Alih-alih mengagungkan pahlawan dari nilon (pahlawan palsu), kurikulum seharusnya ditulis tentang para pemberani ini. Dan semua orang berpenampilan rapi pemakai dasi itu harus bersimpuh dan duduk di atas pelana pendidikan di sekolah para lelaki sejati ini.
Majalah Al Somood Edisi 242
https://www.alsomood.af/%d8%b9%d9%86-%d9%82%d9%88%d8%a7%d8%aa-%d8%af%d9%84%d8%aa%d8%a7-%d9%81%d9%88%d8%b1%d8%b3/
*Dr. Yasin Aktay, jurnalis senior dan cendikiawan Islam di Turki

COMMENTS