Mengapa Rezim Militer Pakistan Kalap hingga Kehilangan Akal Sehat dan Bertindak dengan Krisis Mental?! Tidaklah mudah memahami perilaku tega...
Mengapa Rezim Militer Pakistan Kalap hingga Kehilangan Akal Sehat dan Bertindak dengan Krisis Mental?!
Tidaklah mudah memahami perilaku tegang rezim militer di Pakistan tanpa membaca situasi secara utuh; eskalasi yang berulang kali terjadi bukanlah sekadar luapan kemarahan sesaat, melainkan buah dari akumulasi kegagalan bertubi-tubi dalam berbagai isu. Melalui berbagai isu tersebut, mereka berupaya mengepung dan menekan Afghanistan, namun setiap kali mereka justru berhadapan dengan realitas yang bertolak belakang dengan perhitungan mereka.
Kartu pertama yang dimainkan adalah kartu "ISIS". Organisasi ini diandalkan untuk mengacaukan situasi internal Afghanistan dan mengguncang stabilitas keamanan pasca-kepergian pasukan pendudukan Amerika dan sekutunya dari Afghanistan. Namun, kampanye besar-besaran yang dilancarkan oleh Imarah Islam terhadap sisa-sisa kekuatan organisasi (ISIS) tersebut tidak menyisakan ruang bagi mereka untuk membangun kembali kekuatan atau meluaskan pengaruh.
Ketika ruang gerak mereka semakin sempit, elemen-elemen mereka tercerai-berai; ada yang tewas, terluka, maupun tertawan. Banyak pula dari mereka yang melarikan diri melintasi Garis Durand ke dalam wilayah Pakistan, di mana otoritas Pakistan menyediakan pusat-pusat perekrutan dan mobilisasi bagi mereka. Dengan demikian, gugurlah kartu yang semula dirancang sebagai alat untuk menguras kekuatan Kabul dan pemerintah Islam barunya secara berkelanjutan, melainkan justru berbalik menjadi beban keamanan bagi pihak yang mempertaruhkannya.
Ketika taruhan pada kekacauan keamanan gagal, tekanan beralih ke senjata ekonomi. Perlintasan-perlintasan perdagangan berulang kali ditutup, bahkan pada musim panen dan hari raya, pergerakan truk dihentikan, dan para pedagang Afghanistan dirugikan berkali-kali. Hal ini merupakan upaya rezim militer Pakistan untuk mencekik pasar Afghanistan dan memaksanya tunduk. Namun, insiden terakhir menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam kebijakan ekonomi Kabul. Kali ini, pemerintah Afghanistan berupaya mendiversifikasi jalur perdagangan, memperkuat hubungan dengan negara-negara lain, serta mengurangi ketergantungannya pada pintu-pintu masuk Pakistan. Dengan demikian, alih-alih menjadi alat untuk menundukkan, blokade tersebut justru menjadi pendorong untuk menata ulang prioritas dan membangun alternatif yang lebih mandiri.
Adapun di kancah internasional, Islamabad dan rezim militernya telah berupaya mengkerdilkan pemerintah Afghanistan, dengan memanfaatkan belum adanya pengakuan resmi internasional di beberapa forum. Namun, jalur ini tidak membuahkan hasil yang diharapkan, terlebih dengan semakin meluasnya hubungan diplomatik Imarah Islam dengan kekuatan regional dan internasional yang berpengaruh seperti Tiongkok, Rusia, dan sejumlah negara Arab. Hal ini memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi Kabul untuk mematahkan isolasi yang ingin dipertahankan oleh sebagian pihak, membantah narasi Pakistan terkait dirinya, mematahkan berbagai tuduhan dan klaim, serta menegaskan independensi kebijakan luar negerinya tanpa tunduk pada pihak mana pun.
Kemudian ada kartu pengungsi, yang merupakan salah satu isu paling sensitif dan memiliki dampak kemanusiaan paling besar. Rezim militer Pakistan melihatnya sebagai alat menekan yang efektif, sehingga mereka menempuh langkah-langkah brutal seperti deportasi massal, penyitaan harta benda, dan pembongkaran kamp-kamp pengungsi berulang kali dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kebijakan ini, di tengah gencarnya kritik hak asasi manusia yang ditimbulkannya, tidak menghasilkan pergeseran politik mendasar yang diinginkan oleh militer dan rezim Pakistan. Sebaliknya, kebijakan ini justru memperdalam ketegangan dan meningkatkan gejolak di kalangan masyarakat di kedua sisi perbatasan.
Di tengah situasi saling tarik-menarik ini, berulang kali terjadi peristiwa penyelundupan senjata dan bahan peledak melalui perlintasan dari Pakistan ke dalam Afghanistan. Otoritas Afghanistan pun berulang kali mengumumkan penyitaan truk-truk yang memuat mesiu dan perlengkapan militer yang berasal dari wilayah Pakistan. Setiap kali peristiwa ini terjadi, situasinya mencerminkan sebuah konflik tersembunyi dengan ciri khas "mengekspor krisis" alih-alih mengatasinya, serta "memindahkan ketegangan" alih-alih meredamnya.
Kemudian, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai Pangkalan Udara Baghram menambah dimensi baru dalam krisis ini. Ketika ia mengisyaratkan apa yang disebutnya sebagai "konsekuensi buruk" jika pangkalan tersebut tidak diserahkan, situasi tampak seolah-olah sedang dibentuk ulang di tingkat regional. Ancaman-ancaman ini pun berbarengan dengan pergerakan militer Pakistan di dalam wilayah Afghanistan, yang memunculkan berbagai pertanyaan mengenai waktu dan motif di balik eskalasi tersebut.
Demikianlah, setelah kartu-kartu tekanan di bidang keamanan, ekonomi, politik, dan kemanusiaan mengalami kegagalan, tidak ada lagi pilihan selain menggunakan kekuatan militer sebagai cara untuk memaksakan persamaan baru. Namun, jalan kekerasan bersenjata, terlebih lagi di bulan suci Ramadhan, tidak menghasilkan terobosan yang diharapkan. Sebaliknya, hal ini justru membuka pintu menuju konfrontasi yang lebih luas dan mengembalikan kawasan ini ke titik awal ketegangan, di mana rakyat sipillah yang pada akhirnya harus menanggung harganya.
Apa yang terjadi saat ini tidak dapat dilepaskan dari konteks yang lebih luas, yakni perebutan pengaruh dan reposisi di era pasca-keberadaan militer asing. Namun, satu hal yang pasti dari berbagai pengalaman yang ada adalah bahwa kebijakan pemaksaan tidak akan pernah membangun stabilitas, dan tekanan melalui kekacauan tidak akan menciptakan pengaruh yang langgeng. Geografi tidak akan berubah, dan tetangga akan tetap menjadi tetangga. Setiap taruhan untuk melemahkan pihak lain pada akhirnya dapat berbalik merugikan pihak yang mempertaruhkannya.
Pada akhirnya, eskalasi ini tampaknya bukanlah cerminan dari kekuatan, melainkan lebih merupakan refleksi dari krisis pilihan. Ketika kartu-kartu tersebut gagal satu demi satu, jalan konfrontasi menjadi upaya terakhir untuk menggambar ulang peta situasi. Namun, sejarah terdekat telah membuktikan bahwa peperangan hanya akan menghasilkan lebih banyak kerumitan, dan jalan tercepat menuju keamanan adalah melalui dialog yang terus-menerus ditekankan oleh pemerintah Afghanistan saat ini, bukan melalui moncong senapan yang dipaksakan oleh militer dan rezim Pakistan demi memenuhi keinginan Presiden Amerika.
Majalah Al Somood Edisi 243
https://www.alsomood.af/%d9%84%d9%85%d8%a7%d8%b0%d8%a7-%d8%ac%d9%86-%d8%ac%d9%86%d9%88%d9%86-%d8%a7%d9%84%d9%86%d8%b8%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d8%b9%d8%b3%d9%83%d8%b1%d9%8a-%d9%81%d9%8a-%d8%a8%d8%a7%d9%83%d8%b3%d8%aa%d8%a7/

COMMENTS