Tokoh-Tokoh Pemimpin Islam, Ketika Pejabat Menjadi Pelayan Umat

Tokoh-Tokoh Pemimpin Islam, Ketika Pejabat Menjadi Pelayan Umat Oleh: Zainuddin Al-Balushi Sangat disayangkan bahwa jauhnya kita dari era ...


Tokoh-Tokoh Pemimpin Islam, Ketika Pejabat Menjadi Pelayan Umat

Oleh: Zainuddin Al-Balushi

Sangat disayangkan bahwa jauhnya kita dari era Khulafaur Rasyidin secara khusus, dan dari era Kekhalifahan Islam secara umum, serta kian langkanya tokoh-tokoh pemimpin Islam yang mampu mewujudkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip agama dalam praktik nyata mereka, telah menyebabkan umat Islam kehilangan manfaat dari pemerintahan islam yang sejati. Pemerintahan semacam itu berdiri di atas dasar keadilan, kasih sayang, dan pelayanan kepada umat; di mana para pemimpin dan pejabat dipandang sebagai pelayan bagi individu-individu umat, yang senantiasa terjaga kepentingannya, bersungguh-sungguh memenuhi kebutuhan mereka, memberikan nasihat dengan tulus, serta berinteraksi dengan lemah lembut dan penuh rahmat. Mereka mencurahkan seluruh tenaga dan upaya mereka semata-mata untuk melayani, tanpa mencari ketenaran atau kekuasaan duniawi. Sebaliknya, mereka mengejar pahala akhirat, mengharapkan ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan menyadari sepenuhnya bahwa tanggung jawab ini adalah amanah agung serta tanggung jawab syar’i yang berat, yang akan dimintai pertanggungjawaban di Hari Kiamat, baik untuk hal-hal kecil maupun besar.

Di sisi lain, pengaruh Barat dan gagasan-gagasan asing yang tidak selaras dengan nilai-nilai dan ajaran Islam dalam banyak aspek, telah menyusup ke dalam diri kaum Muslimin di berbagai bidang, terutama dalam ranah pemerintahan dan politik. Hal ini membuat banyak dari mereka memandang isu-isu politik melalui kacamata pemikiran Barat, menundukkannya pada ukuran dan standar Barat, serta menilai benar-salah berdasarkan kriteria tersebut. Mereka lupa atau lalai bahwa mereka memiliki agama yang komprehensif dan sempurna, yang mencakup pengaturan rinci bagi seluruh aspek kehidupan, mulai dari ibadah hingga muamalah, dari akhlak hingga politik, dan dari urusan individu hingga masalah masyarakat dan negara. Kondisi ini semakin memperburuk keadaan, memperdalam kesenjangan antara teori dan praktik, serta menjadikan persoalan pemerintahan Islam jauh dari kehidupan sehari-hari kaum Muslimin, padahal di masa lalu, hal tersebut merupakan realitas hidup yang dipraktikkan dan diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan mereka.

Namun, alhamdulillah, Imarah Islam telah kembali berkuasa di Afghanistan, membawa serta semangat baru yang menghidupkan kembali gambaran pemerintahan Islam dalam ingatan banyak orang. Apa yang sebelumnya hanya dibaca di halaman-halaman buku, kini berubah menjadi realitas nyata yang dapat dilihat oleh mata dan dialami dalam kehidupan sehari-hari. Kita kini dapat menyaksikan secara langsung apa yang sebelumnya hanya kita bayangkan secara teoritis atau pelajari secara historis, serta merasakan penerapannya dalam berbagai bidang pemerintahan, administrasi, dan pelayanan publik. Dengan demikian, hiduplah kembali kenangan akan era-era ketika pemerintahan berdiri di atas prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama, dan kita diingatkan kembali pada tokoh-tokoh pemimpin Islam sepanjang berbagai periode sejarah; mereka yang menggabungkan ilmu dan amal, antara kepemimpinan dan pelayanan, serta menjadi teladan dalam keikhlasan, pengorbanan, dan tanggung jawab.

Baru-baru ini, saya melihat sebuah cuplikan video dari kunjungan Mawlawi Abdul Salam Hanafi, Wakil Administratif Perdana Menteri, ke Provinsi Jowzjan, yang menimbulkan kekaguman di hati banyak orang. Saat ia tiba, kerumunan besar berbaris untuk menyambutnya. Ia mulai menjabat tangan semua orang, baik muda maupun tua, kecil maupun besar, dengan menggunakan kedua tangannya. Ini adalah gambaran langka dari kerendahan hati yang tulus, jauh dari kesombongan kekuasaan, hawa nafsu jabatan, atau sikap angkuh, meskipun ia dikawal ketat dan dikerumuni banyak orang. Pada momen-momen tersebut, ia tampak dekat dengan semua orang, seolah-olah meleburkan sekat-sekat formalitas dan mengubah pertemuan tersebut menjadi interaksi kemanusiaan yang murni, yang dipenuhi keakraban.

Saya juga melihatnya dalam video lain saat ia menghadiri sebuah madrasah. Di sana, para siswa kecil berbaris untuk menyambutnya dengan kegembiraan yang terlihat jelas. Ia menjabat tangan mereka dengan cara yang sama seperti disebutkan sebelumnya; dengan penuh kerendahan hati dan ketundukan, serta senyuman tenang yang mencerminkan ketenangan jiwa. Ia berlaku seolah-olah sedang menjabat tangan orang-orang yang setara dengannya dalam kedudukan dan jabatan, tanpa membedakan satu pun dari mereka. Ia tidak menunjukkan rasa lelah akibat banyaknya jabat tangan, tidak terlihat bosan atau jengkel. Sebaliknya, ia tetap konsisten dengan sikap tenang dan ceria tersebut. Melalui gaya yang indah ini, ia meninggalkan kesan positif dan citra yang indah tentang akhlak mulia dan kelembutan hati di benak para hadirin serta siapa saja yang menonton video tersebut.

Saat saya menonton video itu, terlintas di pikiran saya tindakan mantan pemimpin Afghan etnis Uzbek, Abdul Rashid Dostum (menjadi Jendral Militer sejak 1978, menjadi Wakil Presiden Afghanistan pada 2014–2020). Ia telah memimpin rakyatnya selama hampir setengah abad, namun ia justru mengeksploitasi mereka dan memanfaatkan potensi mereka untuk kepentingan pribadi dan ambisi partai. Ia menghancurkan tempat tinggal mereka, menyia-nyiakan harta benda mereka, meruntuhkan harapan-harapan mereka, dan menghancurkan masa depan mereka. Kini, Provinsi Jowzjan, sebagaimana provinsi-provinsi lain di Afghanistan, telah kembali menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari negara, setelah sebelumnya berada di bawah kendali partai-partai dan menjadi pusat aktivitas para elit yang membagi-bagi wilayah antar mereka sendiri, demi solidaritas kesukuan yang tercela baik secara syariat maupun akal sehat. Mereka melakukan itu bukan untuk melayani rakyat mereka, melainkan untuk "menghisap darah" mereka, mengisi kantong-kantong mereka dengan hasil keringat dan kerja keras rakyat, serta membangun istana-istana mewah bagi diri mereka sendiri, bernilai jutaan dolar, baik di dalam maupun luar negeri.

Hari ini, Provinsi Jowzjan, layaknya provinsi lainnya, hidup di bawah satu panji dan satu pemimpin. Seorang pemimpin yang terbakar cintanya untuk rakyat dan tanah airnya, yang berbelas kasih terhadap setiap individu rakyatnya, dan tidak membedakan mereka dalam memberikan nasihat maupun layanan. Provinsi Jowzjan kini menyaksikan peresmian proyek-proyek ekonomi besar, sesuatu yang tidak pernah berhasil dicapai oleh Abdul Rashid Dostum maupun orang-orang sepertinya untuk penduduk provinsi ini selama beberapa dekade.

Dikatakan bahwa Dostum tidak pernah berbicara tentang pembangunan atau meletakkan batu bata demi batu bata, karena ia tidak memiliki prestasi apa pun di bidang tersebut untuk rakyat, meskipun ia menduduki posisi nomor dua di negara itu. Kepedulian utamanya hanyalah tinggal dengan santai ke kediamannya, menghabiskan hari-harinya hingga hari Jumat, dan pada hari tersebut mengumpulkan ratusan orang di "Jisr-e Khurasan" untuk menggelar festival permainan Buzkashi (pacuan kuda tradisional).

Namun hari ini, sosok Mawlawi Hanafi yang melakukan kunjungan ke Provinsi Jowzjan, tempat kelahirannya, hanya dengan dua atau tiga mobil pengiring. Ia tidak didampingi oleh banyak pengawal, jalan-jalan tidak ditutup untuknya, pasar-pasar tidak dilumpuhkan akibat kedatangannya, orang-orang tidak berkumpul untuk meneriakkan slogan-slogan, tidak ada keributan atau kebisingan yang dibuat-buat, jalanan dan gang-gang tidak diterangi lampu khusus, dinding-dinding tidak dihias, tidak ada spanduk atau poster yang dipasang untuk menyambutnya, tidak ada tangan atau kepala yang dipaksa untuk bertepuk, dan tidak ada seorang pun yang tersakiti.

Ketika ia berbicara dengan warga negaranya, ia tidak hanya berbicara tentang provinsinya, tetapi tentang seluruh Afghanistan. Ia membahas progres pekerjaan di Kanal Qosh Tepa, kemajuan proyek jalan di Mazar-i-Sharif, perkembangan jalan lingkar dari Faryab ke Herat, pekerjaan di jalan Sar-e Pol ke Faryab, serta jalur dari Ghor ke Herat.

Ia tidak berbicara tentang satu provinsi sambil mengabaikan provinsi lain, atau satu distrik sambil melupakan distrik lain, atau satu desa sambil mengabaikan desa lainnya. Hal ini karena ia mewakili pemerintahan yang inklusif dan bekerja di bawah komando seorang Amir yang penuh nasihat dan belas kasih.

Sebaliknya, ketika Abdul Rashid Dostum ingin melintasi Kota Jowzjan, semua jalan menuju dan keluar dari kota tersebut ditutup oleh milisinya setidaknya satu jam sebelumnya. Keributan dan kebisingan menguasai suasana, sorak-sorai pendukungnya bergema, kondisi rakyat tidak diperhatikan, dan tangan-tangan orang miskin serta mereka yang membutuhkan tidak pernah mencapai dirinya. Dengan demikian, ia dan orang-orang sepertinya memaksakan diri mereka kepada rakyat sebagai "pemimpin", tanpa pernah memberi nasihat atau pelayanan. Betapa banyak kezhaliman dan kesewenang-wenangan yang telah mereka lakukan terhadap rakyat ini!

Pada dasarnya, seorang pemimpin yang bangkit dari tengah-tengah rakyat dan melayani dengan segenap usaha dan tenaganya, dapat melewati kota dengan sederhana menggunakan mobil, tanpa perlu menutup jalan-jalan. Ia dapat bergerak di antara kerumunan masyarakat dan mengunjungi berbagai wilayah di provinsinya.

Dan saya tidak mengklaim kesucian siapa pun di hadapan Allah, saya berkata dengan berdasar pada fenomena dan realita: Keduanya adalah dua pria dari provinsi yang sama dan etnis yang sama. Salah satunya dibesarkan di lingkungan jihad dan pengorbanan, belajar di madrasah, sehingga ia mempelajari kemanusiaan, rasa hormat, kerendahan hati, ketulusan nasihat, dan empati. Akibatnya, tidak ada seorang pun yang tersakiti olehnya, dan tidak ada yang mengingatnya dengan keburukan. Sementara yang lainnya dibesarkan dalam lingkungan egoisme dan kesombongan, jauh dari pendidikan agama dan penyucian jiwa Islami. Ia memaksakan diri sebagai pemimpin atas kaumnya, mengeksploitasi perasaan mereka untuk mencapai ketenaran dan kekuasaan, lalu meninggalkan mereka begitu saja tanpa berbuat apa-apa untuk mereka.

Singkatnya, saya menghadirkan tokoh dari Imarah Islam ini sebagai contoh dari tokoh-tokoh sistem Islam, dengan merujuk pada sejumlah perilaku dan sikap praktisnya yang mencerminkan semangat pelayanan, kerendahan hati, dan tanggung jawab. Padahal, sejauh yang saya ketahui, seluruh tokoh pemimpin Imarah Islam adalah orang-orang yang kepedulian terbesar mereka adalah melayani rakyat dan berkorban demi agama dan tanah air. Mereka dibedakan oleh seperangkat sifat dan karakteristik yang menghubungkan mereka dengan aqidah, serta mengarahkan tindakan mereka menuju pelayanan masyarakat dan penegakan keadilan. Mereka hadir dengan integritas, jauh dari bias dan hawa nafsu pribadi, serta memiliki kode etik unik yang menjadikan mereka sebagai model kepemimpinan yang menggabungkan kompetensi dan ketakwaan dalam mengelola urusan masyarakat, sebuah model yang tidak ditemukan dalam sistem lain. Semoga Allah melindungi dan menjaga mereka semua.

Majalah Ash Shumud Edisi 245 Dzulhijjah 1447 Hijriyah.

https://www.alsomood.af/%d8%b1%d8%ac%d8%a7%d9%84-%d8%a7%d9%84%d9%86%d8%b8%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b3%d9%84%d8%a7%d9%85%d9%8a-%d8%ad%d9%8a%d9%86-%d9%8a%d9%83%d9%88%d9%86-%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%b3%d8%a4%d9%88%d9%84/

COMMENTS

Nama

Afghanistan,25,Aksi,1,Artikel,73,Buletin Kabar Dunia Islam,1,Data Kebiadaban Israel,5,Daulah Utsmaniyah,1,Doa,8,Dokumenter Perjuangan Palestina,13,Dukungan Untuk Palestina,10,Dukungan untuk Perjuangan Palestina,55,Duta Besar Palestina,5,Ebook,32,Fatwa Boikot,8,Film Dokumenter Palestina,11,Hamas,30,Ikhwanul Muslimin,7,Isi Buku,4,Israel,4,Isu Syiah,4,Kajian,15,Karya Ilmiah,7,Kecerdasan Tak Lazim,5,Kesaksian Musuh,1,Kisah Syuhada,2,Laporan Strategis Palestina,3,Lembaga Kemanusiaan,1,Markaz Al-Imam Al-Albani Yordania,2,Membongkar Hoaks,2,Menjawab Syubhat,4,Palestina-Diaspora,2,Palestina-Jalur Gaza,11,Palestina-Tepi Barat,3,Survei,4,Thaliban,25,Tulisan Ustadz Budi Ashari,67,Ulama-Ustadz-Akademisi,112,Ustadz Budi Ashari,68,Video,66,Wawancara,3,
ltr
item
Ya-Aqsha Media: Tokoh-Tokoh Pemimpin Islam, Ketika Pejabat Menjadi Pelayan Umat
Tokoh-Tokoh Pemimpin Islam, Ketika Pejabat Menjadi Pelayan Umat
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSnoQSOEDmlDenYrv8Uyid2VGcw__zfzMmhgbNJ5zlBOCgUPi3Tp2kdYtJT5Sz7sZGSv0MqhpMIlFiZwSxu9elFOjtSMb9iPqDTuoQBSq4pKyJW3cMyLRV0jkx7b_RDUFvKxwiajVbGvLBxjeFrEgiQWruYjGPQ2WL27OGktTqQoFIVvFMPnFwvIrTQ2sa/w640-h426/Tokoh-Tokoh%20Pemimpin%20Islam,%20Ketika%20Pejabat%20Menjadi%20Pelayan%20Umat.png
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSnoQSOEDmlDenYrv8Uyid2VGcw__zfzMmhgbNJ5zlBOCgUPi3Tp2kdYtJT5Sz7sZGSv0MqhpMIlFiZwSxu9elFOjtSMb9iPqDTuoQBSq4pKyJW3cMyLRV0jkx7b_RDUFvKxwiajVbGvLBxjeFrEgiQWruYjGPQ2WL27OGktTqQoFIVvFMPnFwvIrTQ2sa/s72-w640-c-h426/Tokoh-Tokoh%20Pemimpin%20Islam,%20Ketika%20Pejabat%20Menjadi%20Pelayan%20Umat.png
Ya-Aqsha Media
https://ya-aqsha.blogspot.com/2026/06/tokoh-tokoh-politik-islamketika-pejabat.html
https://ya-aqsha.blogspot.com/
https://ya-aqsha.blogspot.com/
https://ya-aqsha.blogspot.com/2026/06/tokoh-tokoh-politik-islamketika-pejabat.html
true
1607972164486125252
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content