Afghanistan dan Nikmatnya Sistem Islam Oleh: Abu Salman Di antara nikmat Allah yang terbesar bagi rakyat Afghanistan belakangan ini adalah n...
Oleh: Abu Salman
Di antara nikmat Allah yang terbesar bagi rakyat Afghanistan belakangan ini adalah nikmat sistem Islam yang terwujud dalam Imarah Islam. Sebuah nikmat istimewa yang lebih dari segalanya memfokuskan pada penjagaan agama, menjadikan agama sebagai prioritas utama tujuannya, dan mengagungkan kalimat Allah, jauh dari seruan-seruan fanatisme kesukuan, bahasa, kepartaian, dan sejenisnya. Sehingga terciptalah keamanan dalam segala bentuknya, dan Afghanistan pun tiba di tepi pantai keamanan dan kedamaian, di saat bahtera keamanan di kawasan ini tengah terhempas badai yang meluas. Tidak berhenti sampai di situ, mereka pun mulai melaksanakan proyek-proyek besar di seluruh penjuru negeri, yang kelak akan mengubah Afghanistan menjadi negara yang berdaya dan berpengaruh dalam berbagai isu dunia.
Terlepas dari propaganda yang tersebar luas menyerang Imarah Islam, dan terlepas dari musuh-musuh yang mengintai, apa yang kita saksikan di tengah masyarakat luas Afghanistan sangatlah berbeda dengan apa yang ditampilkan di layar televisi dan halaman media sosial, seolah-olah keduanya adalah dua negara yang sama sekali berbeda: yang pertama adalah apa yang terlihat di layar, yang penuh dengan masalah, hidup dalam keterbelakangan dan masalah; sedangkan yang kedua adalah apa yang terjadi di lapangan nyata, yang tengah menikmati sistem Islam yang didambakan selama puluhan tahun, telah mengenakan jubah keamanan dan stabilitas, serta bangkit menuju kemajuan dan kemakmuran.
Di sini saya akan menceritakan dua kisah sebagai sedikit dari banyak hal, yang menunjukkan bahwa sistem Islam dapat diterima oleh mayoritas rakyat Afghanistan.
Kisah pertama
"Saya sedang berada di Bandara Internasional Kabul, menunggu di ruang keberangkatan pesawat, lalu pandangan saya tertuju pada seorang Syaikh yang sudah sangat sepuh. Saya mendekatinya dan memulai percakapan, lalu di tengah obrolan saya menanyakan kondisi Afghanistan saat ini dan masa lalunya, serta dari provinsi mana ia berasal. Ia menjawab bahwa aslinya ia dari Provinsi Badghis, namun ia telah tinggal di Kabul sejak kecil.
Ketika ia menyebutkan hal itu, saya langsung bertanya tentang kondisi Kabul dan Badghis di masa lalu, khususnya pada masa perang saudara. Ia mengatakan bahwa ia telah menyaksikan dengan mata kepala nya sendiri kezhaliman yang dilakukan oleh para pemimpin faksi, dan bahwa Kabul telah dibagi-bagikan di antara faksi-faksi tersebut, sehingga setiap wilayah berada di bawah kendali faksi tertentu. Jika ada orang yang ingin memasuki suatu wilayah, ia akan ditanya tentang bahasanya; jika ia bukan penutur bahasa wilayah tersebut, ia akan dibunuh tanpa penyelidikan, dengan alasan bahwa ia bukan dari etnis mereka.
Ia menambahkan mengenai Provinsi Badghis bahwa salah satu pemimpin faksi datang ke desa-desa, lalu memilih siapa saja yang ia inginkan dari kalangan gadis dan pemuda, dan mungkin saja saat melewati kawanan domba ia mengambil sesukanya dan membunuh sang penggembala. Sungguh, kekacauan dan kerusuhan benar-benar merajalela di tempat itu dalam makna yang sesungguhnya.
Kemudian saya bertanya kepadanya tentang masa republik, ia menjawab bahwa itu adalah masa yang penuh dengan korupsi dan fanatisme kepartaian dalam bentuk lain, dan negara ini berada di bawah pendudukan. Lalu saya menanyakan kondisi saat ini, ia menjawab sambil memuji Allah: Segala puji bagi Allah atas segala karunia-Nya, kemerdekaan dan keamanan telah kembali, dan negara ini telah terbebas dari banyak tantangan. Ia menegaskan bahwa kemajuan yang dicapai hari ini melebihi apa yang ada pada masa Mohammad Zahir Shah yang kekuasaannya berlangsung selama empat puluh tahun."
Kisah kedua
Adapun kisah kedua: Saya sedang duduk di kursi belakang sebuah taksi di Kota Herat, ada seorang pria duduk di depan saya di sebelah sopir, dan mereka sedang membicarakan kondisi saat ini serta membandingkan antara Imarah Islam dan masa republik, sementara saya hanya mendengarkan.
Pria itu berkata: Semoga Allah merahmati bapak-bapak mereka, yang ia maksud adalah para tokoh Imarah Islam, karena mereka telah menggulung karpet para politisi terdahulu, dan menutup lembaran para pelaku fitnah dan kerusuhan. Ia menegaskan bahwa di masa lalu, jika seorang pejabat datang, jalanan akan ditutup, dan ia dikawal oleh sejumlah besar pengawal, tidak ada yang mempedulikan rakyat biasa di jalanan. Adapun hari ini, seorang pejabat datang hanya dengan dua pengawal, atau mungkin datang tanpa pengawalan yang berarti, tanpa menutup jalanan, tanpa gemerlap keramaian dan perayaan, dan tanpa menelantarkan hak-hak rakyat biasa.
Ia menambahkan bahwa di masa lalu mereka tidak bisa keluar dari rumah karena takut pencurian dan perampokan harta, dan para wanita mereka tidak keluar sendirian. Ia juga menyebutkan bahwa kota terkadang lumpuh karena kedatangan seorang pejabat, atau diadakannya sebuah pesta partai, atau perayaan sebuah acara politik, tanpa ada layanan nyata yang diberikan kepada masyarakat, melainkan hanya demi kepentingan pribadi."
Kedua kisah ini merupakan dua teladan yang menunjukkan sebuah kebenaran yang jelas, yaitu bahwa masyarakat luas Afghanistan merasa puas dengan pemerintahan Imarah Islam dan apa yang telah dicapainya hingga saat ini di bumi Afghanistan, dan bahwa mereka telah muak dengan sistem-sistem lain yang telah menyia-nyiakan harapan mereka dan menghancurkannya begitu saja. Dan propaganda yang tersebar di dunia maya hanyalah ilusi yang mewakili segelintir kecil para pelaku korupsi terdahulu yang telah kehilangan jabatan dan kursi mereka di pemerintahan sebelumnya.
Kesimpulannya, kembalinya Imarah Islam ke tampuk kekuasaan bukanlah peristiwa yang lewat begitu saja, melainkan merupakan upaya untuk mengakhiri rencana-rencana destruktif yang ingin ditanamkan secara bertahap oleh para penjajah di Afghanistan tercinta, yang mungkin belum diketahui oleh masyarakat luas di negara ini. Oleh karena itu, semua pihak harus bersyukur atas nikmat yang agung ini, yang menjadi karunia bagi Afghanistan di era sekarang.
Majalah Al Somood Edisi 243

COMMENTS