Komandan Nael Abu Obeid... Sosok Pemimpin yang Rendah Hati dengan Wajah yang Selalu Tersenyum Ada sesuatu pada wajah-wajah tertentu yang ta...
Ada sesuatu pada wajah-wajah tertentu yang tak mampu diungkapkan oleh kata-kata; senyum yang rendah hati, tatapan penuh kasih yang tak memerlukan banyak bicara, dan cara berjabat tangan yang membuat Anda merasa bahwa orang di hadapan Anda tidak memandang Anda sekadar sebagai angka, bawahan, atau lawan, melainkan sebagai sesama manusia, terlepas dari segala perbedaan pandangan atau posisi. Mungkin, wajah-wajah seperti inilah yang akan bertahan lama dalam ingatan, serta meninggalkan jejak mendalam dalam kehidupan dan hati banyak orang.
Begitulah sosok Nael Abu Obeid, yang akrab disapa "Abu Atiyyah", tetap terukir dalam ingatan mereka yang mengenalnya. Kesaksian tentang dirinya tidak hanya datang dari keluarga dan rekan-rekan seperjuangannya, tetapi juga dari orang-orang yang secara politik dikategorikan sebagai lawan dari organisasi tempat sang syuhada berafiliasi.
Perilaku yang Tulus dan Luar Biasa!
Bagi mereka yang mengenalnya secara dekat, sosok Abu Atiyyah tidak sekadar terpaku pada perannya sebagai seorang komandan militer di Gerakan Hamas. Ia lebih diingat sebagai seorang pria yang, ketika berpapasan dengan mereka di jalan, akan berhenti, turun dari mobilnya, dan menghampiri mereka untuk berjabat tangan dengan hangat serta menyapa dengan ramah.
Mungkin sebagian orang menganggap detail-detail ini remeh dalam kehidupan seorang pria yang telah mendedikasikan lebih dari tiga dekade untuk perjuangan perlawanan. Namun, justru hal-hal kecil inilah yang lebih banyak mengungkap kepribadiannya dibandingkan dengan sekadar pernyataan-pernyataan militer.
Orang mungkin mengenal seorang pemimpin dari sikap, pidato, dan keputusannya. Namun, mereka yang hidup bersamanya mengenal sisi kemanusiaannya dari lekuk wajahnya dan tatapan matanya, dari senyum dan cara berjabat tangannya, serta dari kerendahan hati dan perlakuannya terhadap sesama, terutama terhadap mereka yang tidak memiliki pengaruh atau kepentingan apa pun baginya.
Di Balik Misi Militer... Ia Adalah Manusia Terlebih Dahulu
Nael Abu Obeid lahir pada tahun 1973 di Kamp Pengungsi Yibna, Rafah. Ia tumbuh di antara gang-gang sempit yang dinding-dindingnya menyimpan memori pengungsian dan detail kehidupan yang keras di bawah pendudukan. Pada usia dua puluh tahun, ia bergabung dengan barisan perlawanan. Waktu pun berlalu, ia tumbuh menjadi seorang komandan militer, menikah, dikaruniai enam orang anak, dan mendedikasikan lebih dari tiga dekade hidupnya di jalan perjuangan melawan pendudukan.
Dalam sebuah serangan udara Israel yang menargetkan lokasinya di sebelah barat Khan Yunis, Abu Obeid gugur sebagai syahid pada 15 September 2026. Bersama beliau, seorang anak perempuan bernama Amal Yasser Omar, yang baru berusia delapan tahun, juga turut gugur sebagai syahid.
Dalam sebuah pernyataannya, Brigade Al-Qassam turut berduka cita atas kepergian Abu Atiyyah, seraya menyoroti berbagai tonggak dalam perjalanan jihadnya, mulai dari bergabungnya dengan brigade pada tahun 1993, perannya dalam operasi "Taufan Al-Aqsa", hingga akhir dari perjalanan jihadnya yang terhormat sebagai Komandan Brigade Rafah, menggantikan komandan besar yang syahid, Muhammad Shabana.
Inilah biografi yang mungkin akan diceritakan dalam berita: seorang pria di jajaran kepemimpinan perlawanan, seorang komandan militer, dan seorang ayah dari enam orang anak, yang gugur dalam serangan Israel. Namun, di balik judul-judul berita tersebut, tersimpan potret lain yang tetap melekat dalam ingatan mereka yang mengenalnya secara dekat.
Yang menarik dari kesaksian mereka adalah bahwa narasumbernya bukan rekan seperjuangan dalam gerakan tersebut, melainkan orang-orang yang kerap mengkritik Gerakan Hamas. Meski demikian, mereka menulis tentang kepergiannya dengan rasa duka, mengenang sisi kemanusiaan yang mereka kenal dalam kehidupan dan interaksi sehari-hari mereka. Sebagian dari mereka bersaksi: "Aku bersaksi bahwa ia adalah pria yang baik dan ramah. Aku tidak pernah mendengar ia menyakiti siapa pun." Mereka mengingat bahwa setiap kali berpapasan di jalan, Abu Obeid akan menghentikan mobilnya, turun, dan menghampiri untuk berjabat tangan dengan hangat serta menyapa dengan ramah.
Mungkin ini tampak sebagai momen sekilas dalam kehidupan seorang pria yang menjalani bertahun-tahun dalam kondisi yang luar biasa sulit. Namun, hal ini mengungkap sisi penting tentang bagaimana seseorang meninggalkan jejaknya pada orang lain. Hubungan antarmanusia tidak hanya dibangun dalam momen-momen besar, tetapi juga terbentuk dari detail-detail kecil: cara berjabat tangan, nada bicara, senyuman, dan kemampuan untuk memperlakukan orang lain sebagai sesama manusia, sebelum melihat perbedaan pendapat atau posisi politik.
Ia melanjutkan kesaksiannya: "Ia melihatku saat sedang bertakziah menjelang perang di Kamp Yibna. Saat itu, ia baru saja meraih gelar magister. Ia datang dan duduk di sampingku. Kami berbicara cukup lama tentang niatnya untuk mengabdikan diri dan bekerja sebagai dosen di universitas. Di dalam dirinya terdapat keinginan yang sangat kuat terhadap ilmu pengetahuan. Aku menasihatinya untuk tidak berhenti belajar. Ia sama sekali tidak membuatku merasa sedang berhadapan dengan seorang pejabat. Kami pun tidak menemukan satu pun hal yang kami perselisihkan selama percakapan itu. Kemudian, perang genosida itu datang. Dan aku tidak lagi mendengar namanya hingga malam ini."
Dan yang paling menyentuh hatiku saat menulis baris-baris ini adalah ungkapan dari sang saksi tersebut: "Ia sama sekali tidak membuatku merasa sedang berhadapan dengan seorang pejabat. Kami pun tidak menemukan satu pun hal yang kami perselisihkan selama percakapan itu."
Kemudian, perang genosida itu datang, dan masa depan yang ia impikan itu tak pernah terwujud. Pria yang bercita-cita tentang universitas dan mengajar, serta seorang ayah dari enam orang anak, mengakhiri hidupnya dalam sebuah serangan Israel. Bersamanya, turut terhenti sebuah kehidupan yang ia impikan di tanah air yang merdeka, di mana ia berharap dapat melangkah ke arah yang berbeda: menuntut ilmu, bekerja, membina keluarga, membesarkan anak-anak, dan mengejar impian-impian pribadinya.
Di sinilah kisah kepergiannya menjadi lebih dari sekadar berita tentang gugurnya seorang komandan. Kisah ini mengungkap sisi seorang manusia yang memiliki kehidupan yang melampaui gelar yang ia sandang di medan perjuangan terus-menerus melawan pendudukan demi meraih kebebasan dan kehidupan yang bermartabat.
Jejak yang Melampaui Perbedaan
Kesaksian-kesaksian yang disampaikan tentang Abu Atiyyah dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda-beda mengungkap rahasia kehidupannya dan hakikat kepribadiannya. Seseorang tidak hanya meninggalkan jejaknya pada mereka yang serupa dengannya; jejak itu meluas hingga kepada keluarga, saudara, teman, tetangga, dan rekan-rekannya, bahkan bisa sampai kepada mereka yang berbeda pandangan dengannya di lorong-lorong politik.
Banyak kata-kata yang terucap semasa hidup seseorang mungkin akan terlupakan, tetapi sulit untuk melupakan cara ia memperlakukan orang lain. Orang-orang akan selalu mengingat siapa yang menjaga martabat mereka, siapa yang berbuat baik kepada mereka, siapa yang selalu dekat dengan mereka, dan siapa yang tidak menjadikan jabatan atau kekuasaannya sebagai alasan untuk bersikap angkuh.
Di sinilah akhlak dalam kehidupan para pemegang peran publik menjadi lebih dari sekadar sifat pribadi; ia menjadi bagian integral dari citra mereka di mata masyarakat. Kepemimpinan tidak hanya terlihat di atas mimbar atau di posisi pengambilan keputusan, tetapi juga tercermin dalam interaksi sehari-hari, serta dalam tingkat kerendahan hati yang tetap dipertahankan seseorang ketika jabatannya semakin tinggi.
Kisah-Kisah yang Belum Terungkap
Mungkin kisah Nael Abu Obeid hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang belum terungkap; kisah tentang pria-pria yang hidup jauh dari sorotan, menempuh jalan mereka tanpa mengharapkan orang-orang mengetahui cerita mereka, namun mereka meninggalkan jejak di sebuah rumah, di antara keluarga, rekan, dan tetangga, bahkan mungkin di hati seseorang yang pernah berbeda pandangan dengan mereka. Sebab, tidak semua yang tersisa dari seseorang adalah jabatan, foto, atau biografi tertulis. Bisa jadi itu hanyalah sebuah senyuman, jabat tangan yang hangat, kata-kata yang baik, atau percakapan singkat tentang ilmu pengetahuan dan kehidupan. Detail-detail yang tidak pernah terekam oleh kamera ini, justru menjadi hal yang paling berharga untuk diingat setelah kepergiannya.
Dan mungkin inilah kisah terindah yang tersisa dari Abu Atiyyah: bahwa seorang lawan politik mengenalnya sebagai pria yang baik dan ramah, yang tidak pernah terdengar menyakiti siapa pun, dan yang selalu bersedia berhenti dari mobilnya hanya untuk berjabat tangan dengan hangat. Bahwa seorang pria yang menghabiskan lebih dari tiga dekade di jalan penuh duri, tetap dikenang oleh mereka yang mengenalnya karena wajahnya yang selalu berseri, kerendahan hatinya, dan akhlaknya yang mulia. Hal-hal ini mungkin tampak sepele secara lahiriah, tetapi ketika seseorang telah tiada, hal-hal inilah yang menjadi warisan paling berharga yang ia tinggalkan. Beberapa kisah mungkin tidak pernah sampai kepada khalayak, dan beberapa nama mungkin tidak diabadikan oleh platform media, tetapi kesan yang baik tidak selalu memerlukan panggung untuk bisa abadi.
17 September 2026
Pusat Informasi Palestina
https://palinfo.com/news/2026/09/17/1118284/

COMMENTS