Pengurangan Intensitas Operasi Jihad di Afghanistan (Tahun 2020) Imarah Islam Afghanistan sangat menyadari kerusakan dan penderitaan yang te...
Imarah Islam Afghanistan sangat menyadari kerusakan dan penderitaan yang terus menimpa rakyat Afghanistan akibat pendudukan Amerika. Oleh karena itu, Imarah Islam berusaha sekuat tenaga untuk mengakhirinya, dengan terus melanjutkan perlawanan jihad bersenjata dan mengintensifkan upaya diplomasi politik hingga berhasil memaksa musuhnya duduk di meja perundingan.
Setelah melalui beberapa tahap perundingan yang alot dan memakan waktu lebih dari setahun, tercapailah sebuah kesepakatan bersejarah antara Imarah Islam di satu pihak dan Amerika Serikat di pihak lain. Kesepakatan ini menetapkan penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan dalam kurun waktu 14 bulan.
Kesepakatan ini merupakan pencapaian penting dan kemenangan gemilang bagi rakyat muslim Afghanistan. Melalui kesepakatan ini, mereka akan terbebas dari pendudukan yang zhalim, yang selama ini telah mengacaukan kehidupan mereka, menghilangkan ketenangan mereka, dan melakukan kejahatan-kejahatan yang tak terampuni terhadap mereka.
Para mujahidin Imarah Islam Afghanistan bukanlah orang-orang yang nekat, terobsesi dengan perang, maupun haus darah. Mereka adalah para pejuang yang disiplin, senantiasa berpegang teguh pada hukum-hukum Allah, serta memiliki sifat dan akhlak yang luhur. Mereka mematuhi etika perang yang telah ditetapkan oleh syariat Islam yang suci, sekaligus mempertimbangkan aspek kemaslahatan dan kemudharatan, serta selalu memikirkan akibat dan konsekuensi dari setiap tindakan.
Oleh karena itu, segera setelah penandatanganan kesepakatan, Imarah Islam secara signifikan mengurangi operasi jihadnya. Mereka tidak mengumumkan operasi apa pun untuk "musim semi" (serangan musim semi), menghindari penyerangan terhadap ibu kota provinsi, dan tidak melancarkan operasi berskala besar di kota-kota utama.
Mereka juga menjauhkan diri dari tindakan-tindakan provokatif yang dapat mendatangkan bencana bagi rakyat Afghanistan yang tertindas, terutama pada fase sensitif penarikan pasukan Barat ini. Tujuan utama Imarah Islam pada tahap ini adalah berupaya mengakhiri pendudukan yang selama ini menindas rakyat Afghanistan.
Pengurangan operasi ini bukanlah tanda kelemahan atau kelesuan Imarah Islam, melainkan bukti nyata akan kekuatan dan persatuan barisan mereka.
Hal ini juga tidak berarti bahwa mereka telah meninggalkan jihad di jalan Allah atau berpaling dari perlawanan bersenjata. Melainkan, ini adalah fase sementara yang harus dilalui demi mencapai tujuan-tujuan yang lebih besar. Mereka memiliki teladan yang baik pada sahabat Nabi yang mulia, Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, yang berkata:
لقد رأيتنا مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- ليلة الأحزاب، وأخذتنا ريحٌ شديدة ٌوقرٌّ، فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: ألا رجلٌ يأتيني بخبر القوم، جعله الله معي يوم القيامة. فسكتنا فلم يجبه منا أحد. ثم قال: ألا رجلٌ يأتينا بخبر القوم، جعله الله معي يوم القيامة. فسكتنا فلم يجبه منا أحد. ثم قال: ألا رجلٌ يأتينا بخبر القوم، جعله الله معي يوم القيامة. فلم يجبه منا أحد. فقال: قم يا حذيفة. قال فلم أجد بداً إذ دعاني باسمي إلا أن أقوم. قال: اذهب فأتني بخبر القوم، ولا تذعرهم علي. فلما وليت من عنده، جعلت كأني أمشي في حمام حتى أتيتهم، فرأيت أبا سفيان يصلي ظهره بالنار، فوضعت سهماً في كبد القوس فأردت أن أرميه فذكرت قول رسول الله -صلى الله عليه وسلم- لا تذعرهم علي، ولو رميته لأصبته. ورجعت وأنا أمشي في مثل الحمام، فلما أتيته فأخبرته خبر القوم، وفرغت قررت، فألبسني رسول الله -صلى الله عليه وسلم- من فضل عباءة كانت عليه يصلي فيها، فلم أزل نائماً حتى أصبحت، فلما أصبحت قال قم يا نومان. متفق عليه.
"Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada malam peristiwa Ahzab (Perang Khandaq). Tiba-tiba angin kencang dan hawa dingin menerpa kami. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Adakah seseorang yang mau pergi membawakan kabar tentang keadaan kaum (musuh) itu, maka Allah akan menjadikannya bersamaku pada hari kiamat?' Kami pun terdiam, tidak ada seorang pun di antara kami yang menjawabnya. Kemudian beliau bersabda lagi: 'Adakah seseorang yang mau pergi membawakan kabar tentang keadaan kaum itu, maka Allah akan menjadikannya bersamaku pada hari kiamat?' Kami pun terdiam, tidak ada seorang pun yang menjawabnya. Lalu beliau bersabda untuk ketiga kalinya: 'Adakah seseorang yang mau pergi membawakan kabar tentang keadaan kaum itu, maka Allah akan menjadikannya bersamaku pada hari kiamat?' Kami tetap terdiam dan tidak ada yang menjawab. Kemudian beliau bersabda: 'Berdirilah wahai Hudzaifah.' Aku berkata: 'Aku tidak menemukan jalan lain ketika beliau memanggil namaku selain harus berdiri.' Beliau bersabda: 'Pergilah dan bawakan kepadaku kabar tentang keadaan kaum itu, dan janganlah engkau membuat mereka gentar (atau: janganlah engkau membahayakan diriku karena mereka).' Ketika aku berpaling dari hadapan beliau, aku berjalan seolah-olah aku sedang berjalan di dalam air mandi (karena dinginnya). Hingga aku sampai kepada mereka, aku melihat Abu Sufyan sedang menghangatkan punggungnya di dekat api. Aku pun memasang anak panah pada busurku dan berniat untuk memanahnya, namun aku teringat pesan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: 'Janganlah engkau membuat mereka gentar.' Seandainya aku memanahnya, niscaya aku akan mengenainya. Aku pun kembali dengan berjalan seolah-olah sedang berjalan di dalam air mandi. Ketika aku sampai kepada beliau dan menyampaikan kabar tentang keadaan kaum itu, serta telah selesai melapor, aku pun merasa kedinginan. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakaikan kepadaku sebagian dari selimut yang beliau gunakan untuk shalat, sehingga aku terus tertidur hingga waktu pagi. Ketika pagi tiba, beliau bersabda: 'Bangunlah wahai Nu'man.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Sebaliknya, pasukan Afghanistan (pemerintah sebelumnya) justru meningkatkan serangan mereka terhadap para mujahidin dan rakyat Afghanistan, yang terkadang memaksa para mujahidin untuk melakukan operasi balasan atau pencegahan.
Selain itu, administrasi Kabul melancarkan kampanye media yang ganas untuk mencoreng citra para mujahidin. Mereka membesar-besarkan operasi yang dilakukan, menyebarkan berita bohong dan palsu tentang mereka, serta mengumumkan angka kerugian fiktif. Tujuannya adalah untuk memicu kemarahan pihak Barat dan menciptakan suasana yang mendukung perpanjangan durasi konflik serta kelanjutan pendudukan.
Lengan intelijen mereka juga melancarkan operasi dan peledakan acak yang menargetkan warga sipil yang tidak berdosa melalui agen-agen mereka dari kelompok ISIS. Setelah itu, mereka mengarahkan jari tuduhan kepada Imarah Islam, menempatkan berbagai hambatan di jalan menuju perdamaian yang sejati, serta mengobarkan api konflik sektarian dan etnis.
Namun, upaya-upaya yang terkutuk dan aktivitas jahat ini akan segera gagal. Para penjajah sedang dalam proses kepergian, dan dengan berakhirnya pendudukan, kehancuran bagi mereka adalah suatu kepastian. Dan Allah Maha Berkuasa atas segala urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Majalah Al Somood Edisi 178, 17 Rabiul Akhir 1442 H / 2 Desember 2020 M
https://www.alsomood.af/%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%81%D8%AA%D8%AA%D8%A7%D8%AD%D9%8A%D8%A9-%D8%AA%D9%82%D9%84%D9%8A%D8%B5-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%85%D9%84%D9%8A%D8%A7%D8%AA-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%87%D8%A7%D8%AF%D9%8A%D8%A9/

COMMENTS