Mengenang Amir Qatar, Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah: "Amal-Amal yang Abadi dalam Lembaran Sejarah" Oleh: Syaikh...
"Amal-Amal yang Abadi dalam Lembaran Sejarah"
Oleh: Syaikh Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, penutup para nabi, beserta seluruh keluarga dan sahabat beliau.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Ali Imran: 185)
Saya menulis makalah ini tiga hari setelah wafatnya Amir al-Walid Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah, sebagai bentuk penghormatan kepada seorang pemimpin yang saya memiliki hubungan baik dengannya dan pertemuan-pertemuan yang saya banggakan kenangannya, serta sebagai keinginan untuk mendokumentasikan perjalanan seorang pemimpin yang telah meninggalkan jejak nyata dalam sejarah negerinya, memiliki kehadiran aktif dalam sejumlah persoalan bangsa Arab dan Islam, serta sikap-sikap yang tetap menjadi saksi atas perhatiannya terhadap persoalan-persoalan mereka, kedekatannya dengan kegelisahan rakyatnya, dan keberpihakannya terhadap banyak persoalan adil mereka.
Sesungguhnya masa pemerintahan Amir al-Walid rahimahullah bertepatan dengan fase krusial dalam sejarah Negara Qatar modern, yang selama masa itu negara mengalami transformasi luas dalam pembangunan negara dan institusinya, pengelolaan sumber daya, pengembangan ekonomi, investasi pada sumber daya manusia, serta penguatan kehadirannya di tingkat Arab, Islam, regional, dan internasional. Sejak beliau memegang tampuk pemerintahan pada tanggal 27 Juni 1995, Qatar melangkah maju dalam sebuah proyek nasional yang luas yang tidak membatasi konsep kebangkitan pada kelimpahan kekayaan atau luasnya pembangunan fisik semata, melainkan mengarahkan upaya pemanfaatan potensi yang tersedia untuk membangun manusia, mengembangkan institusi, menumbuhkan ekonomi, dan memperluas bidang-bidang pendidikan, kesehatan, penelitian ilmiah, budaya, media, dan olahraga, secara paralel dengan membangun kebijakan luar negeri yang lebih menonjol, lebih independen, dan lebih terbuka terhadap persoalan-persoalan kawasan dan dunia. Transformasi-transformasi yang berkelanjutan ini telah turut andil dalam membentuk sebagian besar ciri khas Qatar kontemporer, dan pada transisinya dalam waktu singkat ke fase baru dalam sejarahnya. Oleh karena itu, nama Amir al-Walid dalam ingatan umum masyarakat Qatar dan Arab menjadi identik dengan fase fondasional yang penting dari fase-fase kebangkitan modern, dan dengan sebuah proyek yang meninggalkan jejak jelas pada struktur negara, pilihan-pilihan pembangunan dan politiknya, serta kedudukan yang mulai dibangun Qatar untuk dirinya sendiri di tingkat regional dan internasional.
Pertama: Amir al-Walid Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah: Masa Pertumbuhan, Tahun-Tahun Pembentukan, dan Awal Proyek Kebangkitan
Amir al-Walid Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah dilahirkan di Doha pada tahun 1952, pada masa ketika Qatar sedang menjalani tahun-tahun awal pendirian institusi negara modern, sebelum memperoleh kemerdekaannya pada tanggal 3 September 1971. Dalam lingkungan yang sedang membentuk ciri khas negara dan memperluas tanggung jawabnya itu, Syaikh Hamad tumbuh besar dan menempuh pendidikannya di Qatar, sebelum kemudian pergi ke Inggris untuk belajar di Akademi Militer Kerajaan Sandhurst, yang beliau lulus pada tahun 1971, lalu kembali ke tanah airnya, bergabung dengan Angkatan Bersenjata Qatar, dan memulai perjalanan panjang dalam kerja militer dan kepemimpinan yang selama itu beliau turut andil dalam mengembangkan institusi militer, menatanya, dan meningkatkan kemampuannya.
Pada tanggal 31 Mei 1977, Syaikh Hamad bin Khalifah dilantik sebagai Putra Mahkota, dan pada periode yang sama beliau memikul tanggung jawab-tanggung jawab penting dalam urusan pertahanan, sehingga dimulailah sebuah fase yang berlangsung hampir 18 tahun, yang selama itu beliau dekat dengan dokumen-dokumen dan transformasi-transformasi terpenting negara. Kedudukan sebagai Putra Mahkota selama bertahun-tahun yang panjang itu memungkinkan beliau mengenal institusi-institusi negara dari dalam, mengikuti perkembangan angkatan bersenjata, dan mendekatkan diri pada persoalan-persoalan perencanaan, ekonomi, dan pembangunan, di samping mengemban tanggung jawab di bidang kepemudaan dan olahraga. Pada tahun 1989, beliau menjabat sebagai Ketua Dewan Tertinggi Perencanaan, sehingga hubungan langsungnya dengan dokumen-dokumen pembangunan serta kebijakan-kebijakan ekonomi dan sosial semakin erat, dan beliau menjadi lebih memahami sumber daya dan potensi Qatar serta tantangan-tantangan yang dihadapinya pada masa ketika kawasan dan dunia memasuki transformasi-transformasi ekonomi dan politik yang berlangsung cepat.
Dari pengalaman panjang inilah visinya tentang masa depan negara mengkristal. Beliau menyadari bahwa luas wilayah yang kecil dan jumlah penduduk yang sedikit tidak menghalanginya untuk membangun sebuah negara yang memiliki kehadiran dan pengaruh besar, sebagaimana kepemilikan sumber daya alam saja tidak cukup untuk mewujudkan kebangkitan; kekayaan dapat berubah menjadi kesempatan historis jika dikelola dengan baik investasinya, dan dapat pula tetap menjadi sumber daya yang terbatas dampaknya jika pendapatannya dihabiskan tanpa membangun manusia dan institusi. Hal inilah yang membuat beliau menyadari pentingnya menghubungkan ekonomi yang kuat dengan kemauan yang kuat, serta independensi keputusan dengan kemampuan internal negara dan kesinambungan pembangunan di segala bidang.
Ketika beliau memegang tampuk pemerintahan pada tanggal 27 Juni 1995, beliau telah menghabiskan bertahun-tahun di posisi-posisi kepemimpinan, pertahanan, dan perencanaan. Oleh karena itu, beliau memasuki fase pemerintahan dengan memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang negara dan potensinya. Sejak tahun-tahun awal, mulai tampak garis-garis besar sebuah proyek luas dalam berbagai arah yang saling terkait, mulai dari pendirian Qatar Foundation untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Pengembangan Masyarakat, peluncuran saluran media Al Jazeera, hingga kerja dalam proyek-proyek besar pengembangan industri gas alam cair yang mulai diekspor Qatar secara komersial pada akhir dekade 1990-an, secara paralel dengan perluasan infrastruktur, pembaruan institusi-institusi negara, dan penguatan keterbukaan ekonomi dan internasionalnya.
Peluncuran Visi Nasional Qatar (2030) pada tahun 2008 memberikan kerangka strategis yang jelas bagi berbagai bidang tersebut, yang bertumpu pada empat pilar yang saling terkait: pembangunan manusia, pembangunan sosial, pembangunan ekonomi, dan pembangunan lingkungan. Pilar-pilar ini mengekspresikan kematangan gagasan yang telah dimulai sejak bertahun-tahun sebelumnya, yaitu bahwa masa depan Qatar tidak dapat dibangun dengan ekonomi saja, dan bahwa kekayaan harus ditransformasikan menjadi masyarakat yang terdidik, sehat, dan seimbang, ekonomi yang mampu berkelanjutan, serta lingkungan yang terjaga.
Kedua: Transformasi Ekonomi di Masa Pemerintahan Amir al-Walid rahimahullah; Fondasi yang Menjadi Landasan Kebangkitan Qatar Modern
Transformasi ekonomi yang dialami Negara Qatar di masa pemerintahan Amir al-Walid rahimahullah tidak dapat dijelaskan oleh kelimpahan finansial semata, karena memiliki kekayaan adalah satu hal, sedangkan kemampuan mengelolanya dan mengubahnya menjadi kekuatan yang berkelanjutan adalah hal yang lain. Banyak negara telah dikenal memiliki sumber daya alam yang melimpah tanpa keberhasilan membangun ekonomi yang kokoh atau institusi-institusi yang mampu bertahan.
Gas alam berada di jantung transformasi ini. Negara Qatar memiliki di Ladang Utara (North Field) salah satu cadangan gas alam terbesar di dunia. Qatar mulai mengekspor gas alam cair secara komersial pada akhir tahun 1996, dan muatan pertama tiba di Jepang pada bulan Januari 1997, sehingga negara memasuki fase baru dalam sejarah ekonominya. Sejak saat itu, industri gas berkembang dengan langkah-langkah yang cepat, dan di Ras Laffan dibangun sebuah sistem industri dan logistik raksasa yang menghubungkan produksi dengan pengolahan, pencairan, penyimpanan, dan pengangkutan laut, secara paralel dengan pembangunan armada kapal tanker gas dan pembentukan kemitraan dengan perusahaan-perusahaan energi besar dunia, serta adopsi kontrak-kontrak jangka panjang yang memberikan stabilitas dan kapasitas ekspansi yang besar bagi industri tersebut.
Dalam waktu kurang dari satu dekade sejak dimulainya ekspor, pada tahun 2006 Negara Qatar telah menjadi eksportir gas alam cair terbesar di dunia, dan ekspansi proyek-proyek serta jalur-jalur produksi terus berlanjut hingga kapasitas produksi mencapai sekitar 77 juta ton per tahun pada tahun 2010. Hal ini merupakan transformasi yang luar biasa dalam sejarah sebuah negara yang terbatas dalam luas wilayah dan jumlah penduduknya. Doha beralih dari posisi produsen energi kecil menjadi pelaku yang berpengaruh di pasar-pasar global, dan hubungan-hubungan ekonominya meluas ke Asia, Eropa, dan kawasan-kawasan lainnya, sementara pasokannya memperoleh signifikansi yang semakin meningkat dalam perhitungan keamanan energi di sejumlah besar negara.
Pengelolaan sektor ini menempati kedudukan yang sangat penting dalam pemikiran Amir al-Walid rahimahullah. Beliau menyadari bahwa ekonomi yang bergantung pada satu sumber daya akan rentan terhadap fluktuasi pasar, perubahan teknologi, dan pola konsumsi energi, betapapun besar pendapatannya pada suatu fase tertentu. Oleh karena itu, negara mengarahkan upaya pada pembangunan dua jalur yang saling melengkapi: pertama, menginvestasikan sebagian kekayaan di dalam negeri untuk mengembangkan kemampuan negara dan meningkatkan kualitas hidup manusia; kedua, mengalihkan sebagian lainnya menjadi aset-aset dan investasi jangka panjang yang menjaga hak-hak generasi mendatang dan memperluas sumber-sumber kekuatan ekonomi negara. Dalam kerangka inilah Otoritas Investasi Qatar (Qatar Investment Authority) didirikan pada tahun 2005, sebagai lengan investasi negara yang bertanggung jawab atas pengelolaan sebagian surplus negara dan diversifikasi asetnya di luar sektor energi. Tujuan dari otoritas ini adalah memiliki aset-aset dan kepentingan ekonomi yang tersebar di berbagai sektor dan pasar di seluruh dunia. Sebaliknya, basis ekonomi ini turut andil dalam membentuk posisi Qatar di luar perbatasannya. Negara yang memiliki sumber daya stabil, investasi internasional, serta jaringan kepentingan dan kemitraan yang luas, akan lebih mampu melindungi keputusannya dan membangun hubungannya berdasarkan kepentingan nasionalnya.
Transformasi ini tercermin secara jelas pada indikator-indikator ekonomi dan sosial, di mana ekonomi Qatar berkembang dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi selama masa pemerintahan Amir al-Walid, tingkat pendapatan per kapita naik ke jajaran yang tertinggi secara global, dan ukuran ekonomi membesar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, pentingnya angka-angka ini dalam membaca pengalaman negara terletak pada apa yang dimungkinkannya, yaitu kemampuan untuk membiayai sebuah proyek nasional yang luas, membangun cadangan dan investasi, mengembangkan pelayanan, serta memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi negara untuk bertindak secara independen dalam pilihan-pilihan ekonomi, politik, keamanan, budaya, dan sosialnya.
Ketiga: Reformasi Konstitusional dan Pembangunan Institusi-Institusi Nasional
Pertumbuhan ekonomi yang dialami Negara Qatar di masa pemerintahan Amir al-Walid Syekh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah merupakan bagian dari proyek yang lebih luas untuk membangun kembali kemampuan-kemampuan negara dan institusinya. Dalam bidang kelembagaan, masa pemerintahan Amir al-Walid rahimahullah menyaksikan langkah-langkah penting dalam pembangunan kerangka konstitusional dan kelembagaan negara. Pada tanggal 8 Maret 1999, diselenggarakan pemilihan umum pertama untuk Dewan Kota Pusat, yang diikuti oleh warga negara laki-laki dan perempuan baik sebagai pemilih maupun sebagai calon, sebagai tonggak baru dalam sejarah partisipasi publik di Qatar. Pada bulan Juli tahun yang sama, dibentuklah Komite Penyusunan Konstitusi Permanen, dan kemudian rancangan konstitusi diajukan dalam referendum rakyat pada tanggal 29 April 2003, yang memperoleh persetujuan luas, sebelum Konstitusi Permanen diundangkan pada tahun 2004 dan mulai berlaku pada tanggal 9 Juni 2005.
Langkah-langkah ini memperoleh signifikansinya dari fase di mana hal itu terjadi; negara sedang mengalami perluasan ekonomi dan demografis yang besar, dan transformasi ini membutuhkan pengembangan kerangka hukum yang mengatur kerja kekuasaan, institusi, hak, dan kewajiban. Konstitusi Permanen menetapkan prinsip-prinsip dasar yang berkaitan dengan sistem pemerintahan, supremasi hukum, dan pemisahan kekuasaan, serta menentukan kerangka konstitusional bagi kerja institusi-institusi negara, sehingga menjadi rujukan hukum bagi fase baru yang sedang dimasuki Negara Qatar.
Pendapatan dari gas memiliki peran penting dalam memungkinkan negara berinvestasi pada infrastruktur, institusi, dan masyarakatnya. Jaringan jalan raya dan fasilitas umum meluas, sektor-sektor kelistrikan, air, dan telekomunikasi berkembang, pelayanan publik tumbuh, dan belanja untuk pendidikan, kesehatan, dan penelitian ilmiah meningkat, sementara Doha mulai bertransformasi secara perkotaan dan perekonomian, menjadi kota yang mampu menjadi tuan rumah bagi institusi, perusahaan, dan acara-acara internasional.
Wajah Doha berubah secara nyata selama fase ini, dengan pengembangan jaringan jalan raya, kelistrikan, air, telekomunikasi, dan fasilitas umum, serta dimulainya proyek-proyek strategis yang sebagian di antaranya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diselesaikan. Di antara yang paling menonjol adalah proyek Bandara Internasional Doha yang baru, yang perencanaannya dimulai di masa pemerintahan Amir al-Walid dan peletakan batu pertamanya dilakukan pada tahun 2004, sebelum kemudian diresmikan dengan nama Bandara Internasional Hamad pada tahun 2014, serta proyek pelabuhan baru yang pekerjaannya dimulai pada masa pemerintahan beliau dan kemudian diresmikan dengan nama Pelabuhan Hamad. Demikian pula menonjolnya proyek Kota Lusail sebagai salah satu proyek pengembangan perkotaan terbesar di negara ini, dan proyek Msheireb Downtown Doha yang menghadirkan kembali konsep kota modern yang terhubung dengan memori arsitekturnya, di samping rehabilitasi Souq Waqif (pasar yang sangat luas di pusat kota) dan peresmian Museum Seni Islam pada tahun 2008. Proyek-proyek ini, meskipun berbeda fungsinya, mengekspresikan sebuah visi tentang kota yang bersiap menyambut masa depan tanpa kehilangan keterhubungannya dengan sejarah dan identitasnya. Kebangkitan perkotaan ini merupakan bagian dari pembangunan ekonomi baru yang mampu bergerak dan terhubung dengan dunia.
Perhatian terhadap manusia meluas ke bidang sosial; kehadiran institusi-institusi yang menangani keluarga, perempuan, anak-anak, pemuda, dan penyandang disabilitas menguat, dan partisipasi perempuan Qatar dalam pendidikan, dunia kerja, dan kehidupan publik meluas. Bagian penting dari perjalanan ini terkait dengan upaya-upaya besar yang dipimpin oleh Yang Mulia Syaikhah Moza binti Nasser dalam pendidikan, pembangunan sosial, dan pemberdayaan manusia, dalam sebuah visi yang menjadikan keluarga, pengetahuan, dan kesetaraan peluang sebagai elemen-elemen fundamental dalam pembangunan masyarakat.
Pengembangan sektor kesehatan di masa pemerintahan Amir al-Walid rahimahullah berjalan dalam arah yang sama dengan pembangunan fisik; Hamad Medical Corporation berkembang, kemampuan rumah sakit dan pusat-pusat spesialis meningkat, dan mulai didirikan proyek-proyek medis dan penelitian lanjutan, di antaranya proyek Sidra Medicine yang kemudian berkembang menjadi institusi yang berspesialisasi dalam kesehatan perempuan dan anak serta penelitian medis. Kesehatan adalah bagian dari proyek yang terpadu untuk mendukung pembangunan manusia, keselamatan manusia, dan kemampuannya untuk berproduksi dan memberikan kontribusi.
Dalam bidang media, negara mengambil langkah-langkah yang memiliki dampak luas dalam membentuk kehadiran Qatar di tingkat Arab dan internasional. Saluran Al Jazeera diluncurkan pada tanggal 1 November 1996, dan membuka ruang bagi model kerja jurnalistik dan diskusi politik yang berbeda di dunia Arab, kemudian Kementerian Informasi dibubarkan pada tahun 1998, dalam konteks kecenderungan untuk merumuskan ulang hubungan negara dengan bidang media. Terlepas dari perdebatan yang menyertai pengalaman Al Jazeera dan posisi-posisinya, dampaknya dalam mengubah lingkungan media Arab sulit untuk diingkari; Al Jazeera telah membuat Doha hadir dalam ruang publik Arab dan memberikan Qatar salah satu instrumen soft power-nya yang paling menonjol.
Pembangunan kemampuan negara juga mencakup bidang pertahanan dan keamanan, sebuah aspek yang dekat dengan Amir al-Walid berkat pengalaman panjangnya di angkatan bersenjata dan kementerian pertahanan. Qatar pada masa pemerintahan beliau berupaya memodernisasi kemampuan-kemampuan pertahanannya dan memperkuat kemitraan-kemitraan keamanan internasionalnya, terutama hubungan strategis dengan Amerika Serikat, secara paralel dengan menerapkan kebijakan luar negeri yang menjaga saluran-saluran komunikasi tetap terbuka dengan berbagai kekuatan regional. Keseimbangan ini terkait dengan visi yang lebih luas tentang keamanan nasional yang memandang bahwa perlindungan negara kecil tidak bertumpu pada kekuatan militer semata, melainkan pada kombinasi antara kemampuan pertahanan, aliansi, hubungan yang luas, kekuatan ekonomi, dan kehadiran diplomatik.
Keempat: Pendidikan dalam Daftar Prioritas Strategis Amir al-Walid rahimahullah
Yang Mulia Amir al-Walid rahimahullah memandang bahwa manusia adalah poros pembangunan dan tujuan utamanya, di mana pendidikan, penelitian ilmiah, pelayanan kesehatan, dan pembangunan sosial berjalan beriringan dengan ekspansi ekonomi dan pembangunan fisik, dalam sebuah konsepsi yang melihat bahwa negara yang kuat adalah negara yang membangun kemampuan sumber daya manusianya tegak lurus dengan pembangunan ekonomi dan infrastrukturnya.
Di antara pencapaian bidang pendidikan terpenting dari Amir al-Walid rahimahullah adalah pendirian Qatar Foundation untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Pengembangan Masyarakat pada tahun 1995, pada tahun yang sama ketika Amir al-Walid memegang tampuk pemerintahan, sebuah kebetulan waktu yang membawa makna yang jelas tentang kedudukan penting yang ditempati bidang pendidikan dalam proyek negara sejak permulaannya. Ini dianggap sebagai orientasi strategis yang bertujuan menjadikan pengetahuan sebagai salah satu pilar kebangkitan di Negara Qatar, dan secara bertahap mengalihkan masyarakat dari ketergantungan pada ekonomi berbasis sumber daya alam ke ekonomi di mana pengetahuan, penelitian, dan inovasi menjadi elemen-elemen fundamental dalam membentuk masa depan. Education City menarik cabang-cabang dari universitas-universitas global terkemuka, yang berspesialisasi dalam bidang-bidang khusus, di antaranya kedokteran, hubungan internasional, media, komputasi, manajemen bisnis, seni, dan desain, di samping berkembangnya institusi-institusi penelitian dan akademik Qatar yang kemudian menjadi bagian dari Universitas Hamad bin Khalifa dan ekosistem Qatar Foundation yang lebih luas.
Investasi dalam bidang pendidikan tinggi berjalan seiring dengan perluasan yang signifikan dalam dukungan terhadap penelitian ilmiah, pendirian pusat-pusat spesialis, dan dorongan untuk studi-studi di bidang kedokteran, energi, teknik, komputasi, ilmu sosial, humaniora, dan bidang-bidang lainnya, yang mencerminkan perubahan dalam pemahaman tentang fungsi universitas itu sendiri; universitas tidak lagi sekadar tempat pemberian gelar, melainkan institusi untuk memproduksi pengetahuan, menyiapkan peneliti, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan negara dan masyarakat.
Perhatian terhadap pendidikan tidak berhenti pada batas-batas Negara Qatar, melainkan berkembang menjadi bagian dari kehadiran kemanusiaan internasionalnya, terutama melalui inisiatif-inisiatif yang dipimpin oleh Yang Mulia Syaikhah Moza binti Nasser untuk melayani anak-anak dan pemuda yang terampas hak pendidikannya akibat kemiskinan, perang dan kekerasan, atau pengungsian. Di antara inisiatif yang paling menonjol adalah Yayasan Education Above All yang diluncurkan pada tahun 2012, yang bertujuan memperluas akses pendidikan di masyarakat-masyarakat yang paling rentan, melalui berbagai program yang bekerja sama dengan organisasi-organisasi internasional, pemerintah, dan lembaga-lembaga kemanusiaan.
Oleh karena itu, pembelaan terhadap hak pendidikan menjadi bagian dari pesan kemanusiaan yang dikaitkan dengan nama Qatar, dan jalur ini terus berkembang setelah masa pemerintahan Amir al-Walid hingga Majelis Umum PBB, atas inisiatif Qatar, mengadopsi resolusi penetapan tanggal 9 September sebagai Hari Internasional untuk Perlindungan Pendidikan dari Serangan, sebuah perpanjangan yang jelas dari filosofi yang menjadikan pendidikan sebagai hak asasi manusia yang tidak boleh dirampas oleh perang dari anak-anak dan pemuda.
Kelima: Olahraga dan Piala Dunia Qatar… Sebuah Proyek Nasional yang Mempercepat Pembangunan Negara Modern
Olahraga menempati kedudukan yang terdepan dalam visi Amir al-Walid rahimahullah, dan perhatian ini merupakan bagian dari proyek pembangunan negara dan penguatan kehadiran internasionalnya. Olahraga secara bertahap bertransformasi menjadi salah satu instrumen pembangunan, soft power, dan komunikasi antarbangsa. Qatar berinvestasi pada fasilitas-fasilitas olahraga, penyelenggaraan kejuaraan-kejuaraan internasional, dan pengembangan institusi-institusi yang menangani pembinaan atlet, hingga kemenangan Qatar pada bulan Desember 2010 dalam meraih hak menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022 menjadi puncak dari perjalanan panjang yang dimulai pada masa pemerintahan Amir al-Walid, dan pada saat yang sama menjadi titik tolak bagi fase baru perkembangan perkotaan dan infrastruktur, yang kemudian disempurnakan di bawah kepemimpinan Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani. Pencapaian ini memperoleh signifikansi bersejarah yang istimewa, di mana Negara Qatar menjadi negara Arab dan Timur Tengah pertama yang menyelenggarakan putaran final Piala Dunia FIFA, yang memberikan dimensi pada proyek ini melampaui batas-batas olahraga hingga merepresentasikan kawasan Arab dan budayanya di hadapan dunia.
Persiapan Piala Dunia turut mempercepat pelaksanaan berbagai proyek strategis yang dibutuhkan Qatar dalam program pertumbuhan masa depannya; jaringan jalan raya, jembatan, dan terowongan meluas, sistem transportasi umum berkembang secara belum pernah terjadi sebelumnya, terutama Metro Doha yang membentuk ulang pergerakan di dalam ibu kota dan menghubungkan sejumlah kawasan vital serta fasilitas-fasilitas olahraga. Bandara Internasional Hamad juga mengalami perluasan berturut-turut untuk meningkatkan kapasitasnya, sementara fasilitas-fasilitas dan pelayanan publik, jaringan telekomunikasi, dan kawasan-kawasan di sekitar stadion turut berkembang secara paralel dengan ekspansi perkotaan di Kota Lusail dan kawasan-kawasan baru lainnya.
Penyelenggaraan Piala Dunia juga turut andil dalam mengembangkan sektor-sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, keamanan, manajemen acara, dan layanan digital, serta memberikan pengalaman kelembagaan yang luas dalam penyelenggaraan acara-acara besar dan penerimaan jutaan pengunjung. Hal ini juga mendorong pemikiran tentang konsep "warisan" (legacy) setelah berakhirnya turnamen. Kecenderungan ini terwujud secara jelas dalam perancangan sejumlah fasilitas dan kawasan di sekitarnya berdasarkan penggunaan jangka panjang, serta dalam menghubungkan investasi olahraga dengan proyek-proyek kota modern, transportasi, dan fasilitas umum, yang menjadikan persiapan Piala Dunia sebagai bagian dari proses pembaruan yang lebih luas yang membentuk ulang ruang-ruang penting dalam tata ruang Qatar. Dimensi simbolis dan peradaban dari Piala Dunia juga sangat penting; turnamen ini memungkinkan Qatar menampilkan dirinya dan dunia Arab melalui sebuah acara yang disaksikan oleh bangsa-bangsa dunia, serta memanfaatkan olahraga sebagai jembatan untuk saling mengenal antarbudaya, dan sebagai instrumen untuk memperkuat identitas nasional Arab dan Islam di tingkat internasional.
Keenam: Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri di Masa Pemerintahan Amir al-Walid rahimahullah
Kebijakan luar negeri pada masa pemerintahan Yang Mulia Amir al-Walid Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah merupakan salah satu bidang transformasi terpenting dalam pengalaman negara Qatar modern, karena pemberdayaan negara dari dalam tidak terpisah dari pembangunan kedudukannya di luar, dan kekuatan ekonomi menjadi basis yang memungkinkan Doha memperluas pilihan keputusannya, mendiversifikasi hubungannya, memasuki peran-peran regional dan internasional yang kompleks, serta beralih dari posisi negara kecil secara geografis ke posisi negara yang hadir secara nyata dalam politik, diplomasi, dan kemanusiaan. Transformasi ini muncul secara bertahap sejak paruh kedua dekade 1990-an, ketika Doha mulai merumuskan bagi dirinya sebuah pendekatan yang bertumpu pada independensi keputusan, keterbukaan terhadap berbagai kekuatan, dan pemeliharaan saluran-saluran komunikasi bahkan dengan pihak-pihak yang saling bertentangan. Pendekatan ini turut andil dalam menjadikan Qatar kemudian sebagai salah satu ibu kota yang dirujuk ketika krisis-krisis menjadi rumit dan saluran-saluran dialog tersumbat, yang terlihat jelas dalam sejumlah persoalan regional dan internasional di mana nama Doha dikaitkan dengan mediasi, rekonsiliasi, dan pendekatan sudut pandang.
Diplomasi Mediasi: Pendekatan Tetap Qatar
Diplomasi mediasi seiring waktu mengkristal sebagai salah satu pilar terpenting dari kebijakan luar negeri Qatar, dan bertumpu pada sejumlah landasan yang saling terkait: pertama, mempertahankan saluran komunikasi dengan pihak-pihak yang sulit dipertemukan di satu tempat; kedua, membangun tingkat kepercayaan yang menjadikan Doha diterima sebagai arena dialog; ketiga, tidak mencukupkan diri pada kontak politik langsung semata, melainkan menghubungkan mediasi dalam beberapa kasus dengan upaya-upaya bantuan kemanusiaan, rekonstruksi, dan dukungan stabilitas; keempat, memperlakukan konflik-konflik sebagai krisis-krisis yang kompleks di mana gencatan senjata saja tidak cukup jika sebab-sebab ketegangan, kemiskinan, dan kehancuran tetap ada.
Di Lebanon, peran Qatar menonjol dalam dua fase yang saling terkait: pertama, fase kemanusiaan dan rekonstruksi setelah perang Juli 2006, ketika Qatar berpartisipasi dalam membangun kembali sejumlah kawasan yang terkena dampak; kedua, fase politik ketika Doha menjadi tuan rumah bagi pihak-pihak Lebanon yang berselisih pada bulan Mei 2008 setelah krisis internal yang tajam yang nyaris mendorong negara itu kepada perpecahan dan kekerasan yang lebih dalam. Perundingan tersebut berakhir dengan Kesepakatan Doha, yang membuka jalan bagi pemilihan presiden dan pembentukan pemerintah persatuan nasional, serta turut andil dalam mengeluarkan Lebanon dari salah satu krisis politiknya yang paling berbahaya pada fase tersebut.
Di Sudan, peran ini lebih kompleks, karena konflik Darfur bukan sekadar perselisihan politik antara kekuatan-kekuatan yang bersaing, melainkan tragedi kemanusiaan yang berkepanjangan yang meninggalkan sejumlah besar pengungsi dan masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, sumber daya, dan fasilitas-fasilitas dasar mereka. Oleh karena itu, mediasi Qatar hadir dalam jalan panjang perundingan yang berakhir dengan Dokumen Doha untuk Perdamaian di Darfur pada tahun 2011. Namun, nilai peran Qatar tidak terletak pada penyelenggaraan perundingan semata, melainkan pada upaya menghubungkan penyelesaian dengan dimensi pembangunan dan kemanusiaan, karena perdamaian yang tidak dirasakan dampaknya oleh masyarakat dalam bentuk sekolah, air, kesehatan, perumahan, dan pekerjaan akan tetap rapuh, rentan runtuh pada krisis pertama.
Sedangkan pencapaian diplomatik Doha yang paling menonjol adalah penyelesaian konflik Afghanistan, yang merepresentasikan model yang jelas dari kebijakan membuka saluran-saluran komunikasi dengan pihak-pihak yang sulit dihubungi. Pada bulan Juni 2013, kantor politik gerakan Taliban dibuka di Doha, yang untuk pertama kalinya menyediakan kerangka dialog yang relatif stabil di luar medan pertempuran. Meskipun hasil-hasil besar dari jalur ini tercapai kemudian di masa pemerintahan Yang Mulia Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani, pembentukan saluran politik ini dimulai pada akhir masa pemerintahan Amir al-Walid, dan hal itu merupakan kelanjutan dari pendekatan yang memandang bahwa bahkan konflik-konflik yang paling sulit sekalipun tidak dapat selamanya tetap tanpa jendela untuk dialog.
Amir al-Walid rahimahullah dan Dukungan terhadap Aspirasi Rakyat serta Perlawanan terhadap Ketidakadilan dan Agresi
Di samping peran sebagai mediator yang diemban Qatar dalam sejumlah konflik regional, Amir al-Walid Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah dalam persoalan-persoalan lain mengambil sikap yang melampaui netralitas diplomatik menuju pembelaan hak-hak rakyat dan aspirasi mereka terhadap kebebasan, martabat, dan keadilan. Di sini perlu dibedakan antara peran-peran di mana Doha berupaya mendekatkan pihak-pihak yang bertikai, dan persoalan-persoalan yang dipandang oleh kepemimpinan Qatar bahwa esensinya berkaitan dengan hak-hak rakyat yang menuntut reformasi atau menghadapi penindasan dan kekerasan. Kecenderungan ini tampak jelas dengan revolusi-revolusi Arab yang pecah pada akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011, ketika kawasan memasuki fase bersejarah di mana massa yang luas keluar di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, Suriah, dan lainnya menuntut reformasi politik, keadilan sosial, dan diakhirinya puluhan tahun kediktatoran dan korupsi. Amir al-Walid rahimahullah termasuk di antara para pemimpin Arab yang menunjukkan tingkat pemahaman yang besar terhadap transformasi-transformasi ini, berangkat dari keyakinan bahwa stabilitas yang sesungguhnya tidak dapat dibangun di atas ketakutan dan kekuatan semata, dan bahwa mengabaikan tuntutan rakyat mungkin dapat menunda krisis tetapi tidak menyelesaikan sebab-sebabnya.
Tunisia adalah buaian dari gelombang transformasi ini, dan Qatar menyikapi perubahan yang terjadi setelah jatuhnya rezim Presiden Zainal Abidin bin Ali sebagai ekspresi dari kehendak rakyat Tunisia untuk membangun fase politik baru. Qatar mendukung jalur transisi politik dan ekonomi, serta membangun hubungan erat dengan pemerintah dan kekuatan-kekuatan politik yang dihasilkan oleh fase baru tersebut. Sikap Qatar tidak didasarkan pada pemilihan alternatif bagi rakyat Tunisia, melainkan pada penghormatan terhadap apa yang dihasilkan oleh kotak suara dan dukungan terhadap pengalaman baru pada fase yang menghadapi tantangan-tantangan ekonomi, politik, dan keamanan yang besar. Perhatian Qatar terhadap Tunisia terus berlanjut melalui kerja sama ekonomi, investasi, dan pembangunan, berangkat dari visi yang melihat bahwa keberhasilan transformasi politik membutuhkan pembangunan yang menyediakan lapangan kerja dan kehidupan yang layak bagi masyarakat, jika tidak, sebab-sebab kemarahan sosial akan tetap ada betapapun pemerintah berganti.
Di Mesir, Amir al-Walid mengikuti dengan penuh perhatian revolusi rakyat yang meletus pada tanggal 25 Januari 2011 dan berakhir dengan pengunduran diri Presiden Husni Mubarak pada tanggal 11 Februari tahun yang sama. Doha menyikapi fase baru tersebut sebagai pilihan Mesir yang harus dihormati. Setelah pemilihan umum yang menyusul revolusi, Doha mendukung Negara Mesir secara ekonomi pada fase yang sangat sulit, memberikan bantuan, deposito, dan investasi yang bertujuan menopang ekonomi Mesir dan mempertahankan kemampuannya menghadapi tekanan-tekanan yang semakin meningkat. Inti dari sikap yang mengkristal di masa pemerintahan Amir al-Walid rahimahullah terkait dengan dukungan terhadap hak rakyat Mesir untuk memilih pemimpin mereka melalui sarana politik dan pemilihan umum, serta memandang kehendak rakyat sebagai fondasi penting bagi stabilitas politik yang berkelanjutan.
Di Yaman, peran Qatar menggabungkan antara dukungan terhadap aspirasi rakyat Yaman untuk reformasi dan perubahan dengan upaya menjauhkan negara itu dari tergelincir ke dalam perang yang luas. Qatar sebelum tahun 2011 telah mengakumulasi pengalaman dalam mediasi konflik-konflik Yaman, kemudian menyikapi protes-protes rakyat yang luas sebagai krisis politik yang tidak dapat diselesaikan dengan kekuatan semata, dan mendukung upaya-upaya yang bertujuan untuk peralihan kekuasaan dan penumpahan darah. Perhatian politik ini tidak terpisah dari dimensi kemanusiaan dan pembangunan; kehadiran Qatar meluas ke proyek-proyek bantuan, kesehatan, pendidikan, air, dan dukungan bagi masyarakat miskin, yang mencerminkan pemahaman yang lebih luas bahwa persoalan-persoalan Yaman tidak dapat direduksi pada perebutan kekuasaan semata, melainkan juga terkait dengan kemiskinan, lemahnya pembangunan, dan rapuhnya institusi-institusi negara.
Di Sudan, perhatian Amir al-Walid rahimahullah mengambil sikap yang sesuai dengan kekhasan negara ini dan kompleksitas krisis-krisisnya; peran Qatar tidak didasarkan pada dukungan terhadap perubahan politik atau keberpihakan pada satu pihak melawan pihak lain, melainkan lebih kepada dukungan terhadap rakyat Sudan untuk mencapai perdamaian dan stabilitas, serta upaya meringankan dampak-dampak perang dan konflik yang telah menguras banyak wilayah negara. Peran ini menonjol secara khusus dalam konflik Darfur, di mana Doha menjadi tuan rumah perundingan-perundingan panjang antara pemerintah Sudan dan sejumlah gerakan bersenjata, yang berakhir dengan penandatanganan Dokumen Doha untuk Perdamaian di Darfur pada tahun 2011, dalam upaya membuka jalan menuju pengakhiran konflik dan penanganan sebagian sebab-sebab politik, sosial, dan ekonominya. Kehadiran Qatar meluas ke dukungan proyek-proyek pembangunan, rekonstruksi, dan pelayanan dasar di Darfur, termasuk pembangunan desa-desa, kompleks pelayanan, fasilitas pendidikan dan kesehatan, proyek air, dan mata pencaharian, dalam upaya menangani lingkungan di mana konflik-konflik terus berulang ketika kemiskinan, marginalisasi, dan ketiadaan layanan berkumpul bersama perpecahan politik dan sosial.
Di Lebanon, sikap Amir al-Walid rahimahullah menonjol secara jelas selama agresi Israel pada musim panas tahun 2006. Negara Qatar berdiri di pihak Lebanon dan rakyatnya, mengecam serangan-serangan yang menargetkan warga sipil dan infrastruktur, serta bergerak secara politik dan diplomatik untuk mendukung penghentian perang dan perlindungan rakyat Lebanon. Sikap Qatar tidak berhenti pada batas-batas kecaman, melainkan setelah berakhirnya perang beralih ke kontribusi dalam rekonstruksi kawasan-kawasan yang terkena dampak, terutama di Lebanon Selatan, melalui pembangunan kembali kota-kota kecil, desa-desa, perumahan, dan fasilitas umum yang dihancurkan oleh perang, dalam sebuah sikap yang menggabungkan solidaritas politik dengan aksi kemanusiaan dan pembangunan langsung. Amir al-Walid berkeinginan mengunjungi kawasan-kawasan yang terkena dampak setelah perang, dalam sebuah langkah yang membawa makna kemanusiaan dan politik tentang keberpihakan pada rakyat Lebanon dalam ujian mereka. Kehadiran Qatar ini kemudian disempurnakan dengan peran yang dimainkan Doha dalam mengumpulkan pihak-pihak Lebanon yang berselisih, hingga tercapainya Kesepakatan Doha pada bulan Mei 2008, yang mencerminkan aspek penting dari visinya dalam menangani krisis-krisis umat: berdiri bersama rakyat dalam menghadapi agresi eksternal, turut andil dalam menyembuhkan luka-luka perang dan membangun kembali, lalu berupaya mengumpulkan anak-anak bangsa melalui dialog ketika mereka terancam oleh perpecahan internal.
Di Suriah, hubungan antara Doha dan Damaskus sebelum tahun 2011 erat secara politik dan ekonomi, dan oleh karena itu perubahan sikap Qatar memperoleh makna yang istimewa. Dengan meluasnya protes dan meningkatnya penggunaan kekuatan militer terhadap warga sipil, Qatar beralih dari seruan untuk reformasi dan dialog menuju dukungan terhadap tuntutan rakyat Suriah, kemudian menjadi salah satu negara pendukung paling menonjol bagi oposisi Suriah secara politik dan kemanusiaan. Doha pada bulan November 2012 menjadi tuan rumah pertemuan-pertemuan yang menghasilkan pembentukan Koalisi Nasional untuk Kekuatan Revolusi dan Oposisi Suriah, kemudian menyaksikan KTT Arab yang diselenggarakan di Doha pada bulan Maret 2013 dengan partisipasi para perwakilan oposisi Suriah di kursi Suriah. Sikap Qatar yang mendukung aspirasi rakyat Suriah berlanjut setelah peralihan kekuasaan dari Amir al-Walid kepada Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani, dan Qatar tetap menjadi salah satu negara Arab yang paling konsisten dalam sikap politik dan kemanusiaannya terhadap rakyat Suriah. Dukungan ini kemudian, setelah transformasi yang dialami Suriah pada akhir tahun 2024, beralih ke dukungan bagi stabilitas negara Suriah yang baru, persatuannya, pemulihannya, dan pembangunan kembali sektor-sektor vitalnya.
Di Libya, sikap Qatar mengambil bentuk yang lebih nyata akibat eskalasi militer yang menyertai revolusi sejak minggu-minggu pertamanya. Qatar mendukung kekuatan-kekuatan yang menentang rezim Kolonel Muammar al-Qaddafi, mendukung gerakan Arab dan internasional untuk melindungi warga sipil, dan berpartisipasi dalam upaya-upaya politik dan internasional yang menyertai kejatuhan rezim tersebut. Meskipun Libya kemudian mengalami perpecahan dan konflik yang kompleks, sikap resmi Qatar tetap mendukung persatuan dan stabilitas negara itu, serta tercapainya penyelesaian politik yang memungkinkan rakyat Libya membangun institusi negara mereka jauh dari pusaran perang dan perpecahan.
Persoalan Palestina lebih dalam dari sekadar ditempatkan dalam konteks revolusi-revolusi Arab; persoalan ini merupakan salah satu isu umat yang paling hadir dalam pemikiran dan kebijakan Amir al-Walid, dan sikap beliau terhadapnya menggabungkan antara pembelaan politik terhadap hak-hak Palestina dengan aksi kemanusiaan dan pembangunan langsung. Kunjungannya ke Jalur Gaza pada tanggal 23 Oktober 2012 merepresentasikan tonggak yang menonjol dalam perjalanan ini, di mana Qatar selama kunjungan tersebut mengumumkan proyek-proyek rekonstruksi dengan nilai hampir 400 juta dolar, mencakup perumahan, jalan raya, infrastruktur, dan proyek-proyek pelayanan lainnya. Kehadiran Qatar kemudian meluas mencakup sektor-sektor pendidikan, kesehatan, bantuan kemanusiaan, dan fasilitas umum, sehingga dukungan tersebut menjadi terkait dengan gagasan yang jelas bahwa pembelaan terhadap hak rakyat Palestina tidak dapat dipisahkan dari bantuan untuk bertahan, bertahan hidup, dan hidup bermartabat di tanah mereka.
Visi ini tidak terbatas pada negara-negara tersebut saja; perhatian Qatar, dengan berbagai tingkatan dan instrumen, meluas ke Somalia, Lebanon, Darfur, Afghanistan, dan masyarakat-masyarakat lain yang menderita akibat perang, perpecahan, atau krisis kemanusiaan. Benang merah yang menghubungkan sikap-sikap ini, meskipun berbeda kondisi setiap negara, adalah upaya untuk menggabungkan antara politik dan kewajiban kemanusiaan, antara penghormatan terhadap kehendak rakyat dan upaya meringankan penderitaan mereka, serta antara dukungan terhadap hak-hak dan upaya mencegah runtuhnya negara-negara dan masyarakat. Dari sudut pandang inilah dapat dipahami aspek penting dari visi Amir al-Walid rahimahullah terhadap persoalan-persoalan umat; beliau tidak memandang kekuatan Qatar semata-mata sebagai kemampuan untuk melindungi kepentingan nasionalnya, melainkan sebagai tanggung jawab yang memungkinkannya untuk turut andil, sebatas kemampuannya, dalam membela yang tertindas, membantu yang tertimpa musibah, membuka pintu-pintu dialog, dan mendukung bangsa-bangsa dalam upaya mereka menuju kehidupan yang lebih aman, lebih adil, dan lebih bermartabat.
Ketujuh: Aksi Kemanusiaan… Bantuan Darurat dan Pembangunan Berkelanjutan
Aksi kemanusiaan membentuk salah satu dimensi penting dalam kehadiran Negara Qatar di luar negeri selama masa pemerintahan Amir al-Walid Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah, di mana fase tersebut menyaksikan meluasnya aktivitas lembaga-lembaga amal dan kemanusiaan Qatar, terutama Qatar Charity dan Bulan Sabit Merah Qatar, kemudian lembaga-lembaga dan inisiatif-inisiatif lain yang aktif di bidang-bidang bantuan, pendidikan, kesehatan, dan pembangunan. Dengan meluasnya aktivitas ini secara geografis, aksi kemanusiaan tidak lagi terbatas pada respons terhadap bencana dan perang serta penyediaan bantuan darurat semata, melainkan semakin mengarah pada proyek-proyek yang lebih berkelanjutan yang membantu masyarakat memulihkan kemampuan mereka untuk hidup dan berproduksi.
Bidang-bidang kerja ini beragam antara pembangunan sekolah, pusat kesehatan, dan masjid, pengeboran sumur dan penyediaan sumber air, penjaminan anak yatim, bantuan bagi pengungsi dan pengungsi internal, pembangunan perumahan dan desa-desa permukiman, di samping dukungan untuk proyek-proyek pertanian, kejuruan, usaha kecil, dan sumber mata pencaharian. Upaya-upaya ini meluas ke wilayah-wilayah luas di dunia Arab dan Islam, Asia, Afrika, dan lainnya, sesuai dengan kebutuhan setiap masyarakat dan sifat kondisi yang dihadapinya. Di kawasan-kawasan konflik, prioritasnya adalah bantuan darurat, pengobatan, pengungsian, dan pendidikan, sementara program-program di masyarakat miskin dan yang terkena dampak kekeringan mengarah pada air, pertanian, kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi keluarga.
Pengalaman-pengalaman yang telah disebutkan sebelumnya di Palestina, Suriah, Sudan, Somalia, Yaman, Afghanistan, dan lainnya mengungkapkan bahwa aksi kemanusiaan Qatar mulai menggabungkan antara respons terhadap kebutuhan nyata dan penanganan sebab-sebab kerentanan dalam jangka panjang. Di samping pangan, obat-obatan, dan pengungsian, muncul proyek-proyek untuk merehabilitasi sekolah, rumah sakit, dan jaringan air, membangun perumahan dan desa-desa, serta mendukung pertanian, ketahanan pangan, pelatihan kejuruan, dan proyek-proyek produktif. Pendekatan ini berkembang pada tahun-tahun berikutnya secara lebih luas, hingga beberapa program mencapai dukungan bagi rantai produksi pertanian dan pangan yang terintegrasi, dalam sebuah transisi yang jelas dari memberikan bantuan kepada manusia pada saat dibutuhkan menjadi membantunya memiliki alat-alat yang memungkinkannya untuk mandiri dan memulihkan perannya yang produktif dalam masyarakatnya.
Kecenderungan ini memiliki dimensi kemanusiaan yang jelas; manusia yang terkena dampak perang atau kemiskinan tidak hanya membutuhkan bantuan darurat, tetapi juga membutuhkan sekolah yang menjaga masa depan anak-anaknya, rumah sakit yang menjaga kesehatannya, air bersih yang menjaga kehidupannya, tempat tinggal yang mengembalikan sedikit stabilitas baginya, dan kesempatan kerja yang menjaga martabatnya serta membantunya menghidupi keluarganya. Dari sinilah proyek-proyek pendidikan, kesehatan, air, perumahan, pertanian, dan pemberdayaan keluarga memperoleh perkembangan khusus dalam aktivitas kemanusiaan Qatar, karena memindahkan sebagian dari konsep kerja amal dari penanganan akibat-akibat krisis menuju kontribusi dalam membangun kemampuan masyarakat untuk mengatasinya.
Demikianlah dimensi kemanusiaan terintegrasi dengan instrumen-instrumen lainnya dalam kehadiran Qatar di luar negeri; di samping diplomasi, mediasi, dan dukungan terhadap persoalan-persoalan yang adil, terdapat pula kerja lapangan yang menjangkau kehidupan masyarakat dan kebutuhan sehari-hari mereka. Negara Qatar di masa pemerintahan Yang Mulia Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani hafizhahullah terus mengembangkan dan memperluas langkah ini, hingga aksi kemanusiaan dan pembangunan, di samping mediasi dan dialog, menjadi salah satu ciri khas kehadiran Qatar di banyak kawasan krisis di seluruh dunia.
Kedelapan: Amir al-Walid rahimahullah dan Para Ulama serta Ahli Ilmu
Perhatian Amir al-Walid Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah terhadap para ulama, pemikir, peneliti, ahli ilmu, dan sastrawan merupakan bagian dari visinya tentang negara Qatar modern dan perannya dalam kebangkitan peradaban. Siapa pun yang mengikuti kehidupan keilmuan di Negara Qatar selama masa pemerintahan beliau akan melihat kedudukan yang dinikmati oleh para ulama, penuntut ilmu, syaikh, dai, dosen, dan pusat-pusat penelitian. Negara ini menyaksikan perluasan dalam konferensi-konferensi pemikiran dan syariat, seminar-seminar ilmiah, dan forum-forum dialog yang mengumpulkan para ulama dan pemikir terbaik dunia Islam, dan Doha menjadi stasiun pertemuan bagi para pemilik opini dan pemikiran dari berbagai mazhab dan ijtihad, dalam kerangka yang bertumpu pada penghormatan, dialog, dan pelayanan terhadap persoalan-persoalan umat.
Di antara tokoh keilmuan yang paling menonjol yang namanya dikaitkan dengan Qatar selama fase tersebut adalah Al-Fadhil al-Allamah Syaikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi rahimahullah, yang tinggal di Negara Qatar selama berpuluh-puluh tahun dan turut andil dalam kebangkitan ilmiah dan dakwahnya, serta mengetuai Persatuan Ulama Muslim Internasional (International Union of Muslim Scholars-IUMS) sejak pendiriannya pada tahun 2004. Syaikh al-Qaradhawi menikmati kedudukan ilmiah yang besar di negara ini, dan kehadirannya mencerminkan penghargaan pemimpin Qatar di masa pemerintahan Amir al-Walid terhadap ilmu syariat, serta kepeduliannya agar para ulama tetap memiliki peran mereka dalam membimbing masyarakat, meneguhkan nilai-nilai moderat, dan memperkuat budaya dialog dan ijtihad.
Selain Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, Doha pada masa pemerintahan Amir al-Walid menjadi tuan rumah bagi sejumlah besar ulama, pemikir, dan dai, di antaranya Dr. Ali Muhyiddin al-Qaradaghi, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS), dan Dr. Ahmad al-Raisuni, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai ketua lembaga tersebut. Doha juga menyaksikan kehadiran tokoh-tokoh keilmuan terkemuka dari berbagai penjuru dunia Islam dalam konferensi-konferensi dialog, fikih, ekonomi Islam, pendidikan, persoalan keluarga, wakaf, dan aksi kemanusiaan.
Dalam konteks yang sama, Amir al-Walid memberikan perhatian terhadap institusi-institusi ilmiah yang melayani pemikiran Islam yang moderat, terutama Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS), yang menjadikan Doha sebagai kantor pusatnya, menghimpun dalam keanggotaannya ratusan ulama dari berbagai penjuru dunia, madzhab fiqih, dan aliran pemikiran, serta berupaya menangani persoalan-persoalan umat dari perspektif syariat yang menggabungkan antara keshahihan dalil dan fiqih realitas, serta menekankan pentingnya ijtihad kolektif, dialog, dan kerja sama antarulama. Keberadaan lembaga IUMS di Qatar menyediakan lingkungan yang kondusif untuk penyelenggaraan konferensi, seminar, dan pertemuan, serta turut andil dalam memperkuat kehadiran para ulama dalam diskusi-diskusi yang berkaitan dengan persoalan dan permasalahan umat.
Amir al-Walid rahimahullah dalam pertemuan-pertemuannya dengan para ulama dan cendekiawan cenderung lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, dan banyak bertanya tentang pengalaman bangsa-bangsa, sebab-sebab kebangkitan dan kemunduran mereka, tentang sejarah peradaban Islam, biografi para pemimpin dan reformis, serta pelajaran-pelajaran yang dapat diambil untuk membangun masa kini dan masa depan. Ketertarikannya terhadap sejarah bukanlah kemewahan tradisi atau kecenderungan romantisme masa lalu demi masa lalu, melainkan beliau memandangnya sebagai catatan pengalaman manusia, cermin untuk memahami sunnatullah yang mengatur naik turunnya negara-negara, dan sarana untuk memahami realitas berdasarkan apa yang telah diakumulasi oleh bangsa-bangsa dari pengalaman, kesalahan, dan pencapaian.
Ruh inilah yang barangkali menjadikan Negara Qatar sebagai lingkungan yang menarik bagi institusi-institusi ilmiah dan kebudayaan serta tujuan bagi para ulama dan peneliti, tempat bertemunya gagasan-gagasan dan didiskusikannya persoalan-persoalan umat, jauh dari banyaknya kendala yang menghambat dialog semacam ini di tempat lain. Amir al-Walid rahimahullah memiliki keyakinan yang kokoh bahwa investasi pada manusia dimulai dari ilmu, dan bahwa penghormatan terhadap para ulama, pemberian ruang bagi mereka, serta perlindungan terhadap institusi-institusi dakwah mereka untuk turut andil dalam kebangkitan masyarakat adalah tanda-tanda kemajuan dan kehormatan bangsa, dan bahwa negara yang memiliki kekayaan tetapi tidak memiliki pengetahuan akan tetap tidak berdaya untuk membuat masa depannya sendiri.
Kesembilan: Tahun 2013… Preseden Politik dalam Pembaruan Kepemimpinan dan Kelangsungan Proyek Negara
Tanggal 25 Juni 2013 telah membentuk fase penting dalam sejarah politik modern Negara Qatar, ketika Amir al-Walid Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah mengumumkan dalam pidato langsung kepada rakyat Qatar, penyerahan tampuk pemerintahan kepada Putra Mahkotanya saat itu, Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani, yang ketika itu berusia 33 tahun. Keputusan ini memperoleh signifikansi khusus karena diambil pada saat Amir al-Walid masih berada dalam posisi kuat dan mampu untuk melanjutkan pemerintahan. Amir al-Walid dalam pidato bersejarahnya ketika menyerahkan kekuasaan, mengekspresikan filosofi yang mendalam dalam memahami kekuasaan dan tanggung jawabnya ketika menegaskan bahwa pemerintahan baginya bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, melainkan tanggung jawab yang dituntut oleh kepentingan negara. Beliau berkata: "Allah mengetahui bahwa aku tidak menginginkan kekuasaan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, dan tidak mengejarnya karena dorongan pribadi, melainkan kepentingan negaralah yang menuntut kita untuk membawanya melintasi fase baru."
Keputusan Amir al-Walid merupakan kesimpulan yang logis dari sebuah fase dalam proyek politiknya, dan awal bagi fase lain dalam sejarah Qatar; fase di mana negara beralih dari kepemimpinan yang meletakkan fondasi bagi transformasi luas dalam struktur dan kedudukannya, kepada pemimpin muda yang melanjutkan pembangunan di atas fondasi-fondasi tersebut dan menghadapi tantangan zamannya. Pengalaman Qatar ini memberikan model bahwa pembaruan kepemimpinan dapat menjadi bagian dari kekuatan dan stabilitas negara, ketika dilakukan dalam kerangka kelembagaan yang jelas, dalam suasana saling percaya antargenerasi, dan dengan keyakinan bahwa kepentingan negara lebih penting daripada kepentingan pribadi, serta bahwa pembangunan negara tidak sempurna kecuali ketika negara mampu melanjutkan perjalanan setelah pendirinya meninggalkan posisi pengambilan keputusan.
Kesepuluh: Kesaksian Pribadi: Amir al-Walid rahimahullah Sebagaimana Saya Mengenalnya
Dari pertemuan-pertemuan dan majelis-majelis yang menghubungkan saya dengan Amir al-Walid rahimahullah, saya mengenal pada diri beliau perhatian yang jelas terhadap sejarah bangsa Arab dan Islam, biografi para pemimpin dan reformis, serta persoalan-persoalan masa kini dan masa depan. Beliau tekun mendengarkan para ulama, pemikir, dan ahli sejarah, berdiskusi dan bertanya kepada mereka tentang banyak persoalan, serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan ketertarikannya terhadap pengetahuan dan kesadarannya akan pentingnya pemikiran dan opini dalam memahami realitas dan membuat keputusan. Pertemuan-pertemuan tersebut meninggalkan dalam diri saya gambaran seorang tokoh yang menghargai para ahli ilmu, dan memandang bahwa mereka memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat, menjaga identitasnya, serta memberikan kontribusi dengan opini dan nasihat dalam persoalan-persoalan besar.
Saya memperhatikan dalam pembicaraannya bahwa beliau tidak berhenti pada detail-detail peristiwa sejarah semata, melainkan tertarik pada sebab-sebab, pelajaran, dan hikmah di baliknya, serta apa yang dapat kita ambil pelajaran dari pengalaman masa lalu dalam memahami masa kini dan membangun masa depan. Beliau mendengarkan dengan penuh perhatian siapa pun yang berbicara kepadanya, memberinya kesempatan yang cukup untuk memaparkan gagasannya, lalu mendiskusikan detail-detailnya. Persoalan-persoalan umat juga hadir dalam majelis-majelis tersebut, terutama Palestina, kondisi bangsa-bangsa Arab dan Islam, sebab-sebab perang dan konflik yang telah menguras energi banyak negara, serta jalan-jalan yang dapat membantu umat mengatasi krisis-krisisnya dan kebangkitannya kembali.
Pertemuan-pertemuan ini membantu saya memahami sebagian dari pengalaman Amir al-Walid dalam membangun Qatar modern; kebangkitan yang disaksikan negara pada masa pemerintahannya tidak dapat dijelaskan oleh kekayaan semata, karena uang membutuhkan visi yang mampu mengarahkannya, pikiran yang menentukan prioritas, dan institusi yang mengubah potensi menjadi amal yang kekal dan bermanfaat. Barangkali inilah yang menjelaskan sebagian ketertarikannya terhadap pendidikan, universitas, pusat penelitian, budaya, dan media, serta kedekatannya dengan para ulama dan pemikir; beliau menyadari bahwa pembangunan negara tidak sempurna dengan kekuatan ekonomi semata, melainkan juga membutuhkan pembangunan manusia, akal, dan kesadaran. Ini adalah kesaksian pribadi yang saya sampaikan sebagai bentuk penghormatan terhadap apa yang saya lihat dan saya kenal, dan semoga dapat turut menerangi aspek dari kepribadian intelektual dan kemanusiaannya yang tidak dapat disampaikan oleh dokumen-dokumen resmi dan angka-angka saja.
Kesebelas: Wafatnya Amir al-Walid rahimahullah… Perginya Sang Tokoh dan Bertahannya Jejak yang ditinggalkan
Pada pagi hari Ahad, tanggal 12 Juli 2026, diumumkan wafatnya Yang Mulia Amir al-Walid Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah, pada usia sekitar 74 tahun, setelah kehidupan yang terkait dengan fase transformasi yang luas dalam sejarah Negara Qatar modern. Liputan-liputan internasional saat wafatnya menggambarkan beliau sebagai salah satu arsitek paling menonjol dari transformasi yang membawa Qatar selama masa pemerintahannya, yang berlangsung dari tahun 1995 hingga 2013, ke posisi terdepan di bidang energi, investasi, media, dan diplomasi internasional.
Gema dari wafatnya Yang Mulia Amir al-Walid Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah, serta kata-kata ta'ziyah dan penghiburan yang berturut-turut datang dari para pemimpin negara, ulama, dan tokoh-tokoh publik di dunia Arab dan Islam serta di luarnya, mengungkapkan tingkat cinta dan penghargaan yang besar terhadap perjalanan seorang tokoh yang tidak membatasi perhatiannya pada batas-batas negaranya, melainkan dampaknya meluas ke persoalan-persoalan umatnya, penderitaan rakyatnya, dan aspirasi mereka. Kata-kata penghormatan tersebut mengenang perannya dalam kebangkitan Qatar modern, dalam pembangunan kedudukan dan kehadiran internasionalnya, serta mengingat upaya-upayanya dalam mediasi dan pendekatan sudut pandang, serta sikap-sikap kemanusiaannya terhadap bangsa-bangsa yang terkuras oleh perang dan krisis. Ini adalah makna-makna yang menegaskan bahwa jejak baik yang ditinggalkan seseorang dalam kehidupan manusia mungkin lebih kekal daripada jabatan, dan lebih jujur dari segala yang dikatakan setelah kepergian.
Kesedihan atas wafatnya Amir al-Walid rahimahullah tidak terbatas pada sikap-sikap resmi dan telegram-telegram ta'ziyah, melainkan dampaknya tampak jelas dalam perasaan rakyat Qatar dan kesedihan mereka yang mendalam, serta di kalangan luas masyarakat Arab dan Islam, bahkan di antara banyak warga bangsa-bangsa yang telah dijangkau oleh kebaikan dan aksi kemanusiaan Qatar. Rakyat Qatar menyadari bahwa mereka sedang melepas seorang pemimpin yang namanya dikaitkan dengan fase penting dalam sejarah negara mereka, dan yang pada masa pemerintahannya mereka menyaksikan apa yang terwujud berupa kebangkitan, pembangunan, perkembangan, dan pendirian Negara Qatar modern.
Penutup
Di akhir lembaran-lembaran ini, Amir al-Walid Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani rahimahullah tetap hadir melalui jejak yang beliau tinggalkan di negara dan umatnya, dan melalui fase penting dalam sejarah Qatar modern yang dikaitkan dengan nama beliau; fase di mana pembangunan meluas, institusi-institusi negara maju, perhatian terhadap manusia, ilmu, dan pendidikan menguat, serta Qatar membawa kehadiran yang nyata dalam persoalan-persoalan umatnya dan di forum mediasi, aksi kemanusiaan, serta pembelaan terhadap kaum tertindas.
Semoga Allah merahmati Amir al-Walid Syaikh Hamad bin Khalifah Al Tsani dengan rahmat yang luas, mengampuninya, memuliakan tempat tinggalnya, dan menempatkannya di surga-Nya yang luas. Semoga Allah membalasnya atas Negara Qatar, rakyatnya, dan umatnya dengan balasan yang terbaik, dan menjadikan apa yang beliau berikan dari kebaikan, apa yang beliau sumbangkan dari ilmu, pendidikan, dan pembangunan, serta apa yang beliau curahkan dalam membantu yang tertimpa musibah, membela yang tertindas, dan mendamaikan manusia, sebagai pemberat timbangan kebaikan beliau.
Kita memohon kepada Allah agar menjaga Qatar dan rakyatnya, melanggengkan bagi mereka nikmat keamanan, stabilitas, dan kemakmuran, serta memberikan taufik kepada Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani untuk setiap kebaikan, meneguhkan langkahnya dalam melanjutkan perjalanan pembangunan, pelayanan terhadap umat manusia, dan persoalan-persoalan umat, serta agar Doha tetap menjadi tuan rumah bagi kebaikan, ilmu, dan perdamaian, penopang kebenaran, dan penolong bagi yang membutuhkan dan tertindas di mana pun.
Daftar Pustaka
1. Diwan Amiri Negara Qatar. "Biografi: Yang Mulia Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani." Diwan Amiri, Negara Qatar.
2. Qatar Foundation untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Pengembangan Masyarakat. "Tentang Kami: Prinsip, Sejarah, dan Nilai-Nilai Kami." Qatar Foundation.
3. Qatar Foundation untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Pengembangan Masyarakat. "Tinjauan Umum 2021." Qatar Foundation, 2021.
4. Qatar Foundation untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Pengembangan Masyarakat. "Qatar Foundation Merayakan Hari Nasional Mengusung Slogan 'Ilmu untuk Melayani Manusia'." 17 Desember 2013.
5. Al-Hajri, Falih bin Husain. "Meletakkan Fondasi Kebangkitan Modernnya dan Menggambar Kedudukan Globalnya... Amir al-Walid... Tokoh yang Mengubah Wajah Qatar." Surat Kabar al-Arab, 13 Juli 2026.
6. Kementerian Pendidikan dan Pengajaran Tinggi, Negara Qatar. "Strategi Kementerian Pendidikan dan Pengajaran Tinggi 2024–2030: Menyalakan Api Pembelajaran." Doha: Kementerian Pendidikan dan Pengajaran Tinggi.
7. Al Jazeera Net. "Amir Qatar Menyerahkan Kekuasaan kepada Putra Mahkotanya." 25 Juni 2013.
8. Al Jazeera Net. "Teks Lengkap Pidato Syaikh Hamad bin Khalifah." 25 Juni 2013.
https://iumsonline.org/archives/135735

COMMENTS