Wawancara Al-Jazeera dengan Menteri Luar Negeri Imarah Islam Afghanistan, Mawlawi Amir Khan Muttaqi (April 2025)

Menteri Luar Negeri Imarah Islam Afghanistan, Mawlawi Amir Khan Muttaqi: "Kebijakan Kami Berlandaskan Keseimbangan dan Keterbukaan deng...


Menteri Luar Negeri Imarah Islam Afghanistan, Mawlawi Amir Khan Muttaqi: "Kebijakan Kami Berlandaskan Keseimbangan dan Keterbukaan dengan Seluruh Negara"

Saluran Al Jazeera mengadakan wawancara tatap muka dengan Menteri Luar Negeri Imarah Islam Afghanistan, Maulawi Amir Khan Muttaqi, selama kunjungan resminya ke Negara Qatar pada tanggal 30 April 2025. Wawancara ini membahas sejumlah isu krusial yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan Afghanistan. Mengingat pentingnya topik pembahasan ini, Majalah Ash-Shumud menyajikan transkrip lengkapnya dalam uraian berikut.

Al Jazeera: Mari kita mulai dengan pertanyaan mengenai kunjungan Anda ke Doha. Apa tujuan dari kunjungan ini?

Menteri Luar Negeri: Bismillahirrahmanirrahim. Kunjungan kami ke Doha ini merupakan pemenuhan atas undangan resmi dari Negara Qatar, mengingat luasnya hubungan yang mengikat kedua negara ini. Saat ini, terbuka peluang berharga bagi Qatar untuk berinvestasi di Afghanistan serta memperkuat kerja sama dan komunikasi antara kedua belah pihak di berbagai bidang. Kami berada di sini untuk mewujudkan tujuan tersebut, dan kami memiliki sejumlah pertemuan yang telah dijadwalkan dengan berbagai pejabat dan pihak terkait.

Al Jazeera: Apakah diperkirakan Qatar akan memainkan peran baru dalam isu Afghanistan?

Menteri Luar Negeri: Hubungan kami dengan Negara Qatar telah lama terjalin dengan sangat istimewa. Qatar sejak awal telah menjadi tuan rumah bagi kantor politik kami, dan negosiasi kami dengan pihak Amerika juga berlangsung di wilayahnya. Qatar telah memainkan peran yang positif dan konstruktif. Kini, kita memasuki babak baru yang ditandai dengan beragam peluang kerja sama, baik di bidang investasi, perdagangan, maupun kerja sama di sektor politik, budaya, dan ekonomi.

Babak panjang yang penuh dengan perang, gejolak, dan kekacauan selama empat dekade telah berakhir, dan babak baru stabilitas serta kerja sama telah dimulai. Kami sangat menghargai dukungan Negara Qatar, dan kami memandang kemitraan mereka dengan Afghanistan sebagai sesuatu yang sangat penting dalam lanskap politik Afghanistan.

Al Jazeera: Bagaimana Anda menilai situasi keamanan dan politik di Afghanistan saat ini?

Menteri Luar Negeri: Untuk pertama kalinya dalam hampir 45 tahun, Afghanistan menyaksikan pemerintahan pusat yang bersatu dan mampu menegakkan otoritasnya di seluruh penjuru negeri. Gejala perpecahan dan konflik internal telah berakhir. Tingkat keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya telah tercapai; di masa lalu, stabilitas tidak pernah bertahan lebih dari beberapa bulan, sedangkan hari ini kita hampir memasuki tahun ke-4 pemerintahan Taliban, dan kita menyaksikan kondisi keamanan yang stabil dan luar biasa. Warga negara juga mulai merasakan kepercayaan dan ketenangan yang semakin meningkat terhadap pemerintah, dan mereka mulai terlibat dalam kehidupan politik.

Hubungan luar negeri kami juga mengalami perluasan yang nyata, baik di tingkat regional maupun internasional. Singkatnya, situasi keamanan dan politik bergerak ke arah yang positif, dengan kemajuan yang signifikan di bidang politik, diiringi oleh kondisi keamanan yang sepenuhnya stabil.

Al Jazeera: Sejauh mana upaya pengakuan terhadap pemerintah Afghanistan (yang baru)?

Menteri Luar Negeri: Kami memulai upaya ini dari titik nol, dan alhamdulillah, hari ini kami telah mencapai tahap di mana kami memiliki perwakilan diplomatik di 41 negara di seluruh dunia. Kami telah membuka kedutaan dan konsulat kami, sementara kedutaan sejumlah negara di Kabul juga tetap terbuka. Selain itu, hubungan perdagangan kami telah meluas secara signifikan.

Di bidang politik, kami telah meraih banyak pencapaian penting. Selama 4 tahun terakhir, kami telah mengambil langkah-langkah besar di berbagai sektor. Saat ini, hubungan kami dengan beberapa negara telah berjalan normal, dan dengan negara-negara lain masih dalam tahap pertumbuhan dan perluasan. Kami terus menyaksikan kemajuan yang berkelanjutan ke arah ini.

Al Jazeera: Baru-baru ini, tahanan Amerika telah dibebaskan melalui mediasi Qatar. Langkah ini mendorong kami untuk bertanya tentang hubungan Anda dengan Amerika Serikat; bagaimana kondisinya saat ini?

Menteri Luar Negeri: Kami telah menandatangani kesepakatan dengan Amerika Serikat di Doha, dan kesepakatan tersebut mencakup beberapa poin. Semua poin yang menjadi tanggung jawab Imarah Islam telah dilaksanakan sepenuhnya. Sebagai contoh, disepakati bahwa pasukan asing diberikan waktu 14 bulan untuk meninggalkan Afghanistan tanpa menghadapi serangan selama periode tersebut, dan hal itu telah dilaksanakan. Kesepakatan juga mencakup bahwa wilayah Afghanistan tidak akan digunakan untuk menyerang pihak mana pun, dan kami juga telah mematuhi hal tersebut. Tahanan dari pemerintahan sebelumnya juga telah dibebaskan. Segala sesuatu yang menjadi tanggung jawab kami telah kami laksanakan secara penuh.

Namun, terkait pihak Amerika, sayangnya ada beberapa poin yang belum dilaksanakan hingga saat ini, seperti pembebasan tahanan kami, yang baru terlaksana belakangan ini akibat perkembangan di lapangan. Kesepakatan juga menetapkan penghapusan nama-nama pejabat Imarah Islam dari daftar hitam, namun hal itu belum terwujud. Ada janji untuk menghapus daftar hadiah buronan, dan hal ini baru-baru ini terlaksana dalam tahap baru, meski sebelumnya dirahasiakan. Poin mendasar lainnya adalah bahwa Amerika Serikat tidak boleh campur tangan dalam bentuk apa pun dalam urusan Afghanistan, dan kami kini menuntut agar semua poin ini dilaksanakan.

Seiring dengan perkembangan terbaru dan kunjungan delegasi Amerika ke Kabul, Anda telah melihat dampak yang ditimbulkannya. Kami menganggap ini sebagai awal dari babak baru dalam hubungan, dan kami berharap hubungan ini akan berkembang secara bertahap.

Kebijakan Imarah Islam adalah kebijakan yang seimbang. Sebagaimana kami menginginkan hubungan baik dengan negara-negara tetangga, kami juga menginginkan hubungan serupa dengan negara-negara di dunia, termasuk negara-negara Barat dan Amerika Serikat. Jika pihak lain berkomitmen pada keseimbangan ini, kita dapat mencapai kemajuan bersama di bidang ekonomi, politik, dan diplomatik.

Al Jazeera: Apakah ada perbedaan kebijakan antara pemerintahan sebelumnya di bawah Presiden Joe Biden dengan kedatangan Trump? Apakah ada perubahan dalam hubungan dan komunikasi dengan Anda, khususnya di bidang ekonomi?

Menteri Luar Negeri: Sebagaimana Anda ketahui, kesepakatan antara kami dan Amerika Serikat ditandatangani selama masa pemerintahan mantan Presiden Donald Trump. Saat itu, negosiasi berlangsung dan kami mencapai kesepakatan komprehensif, yang berdasarkan kesepakatan itulah pasukan Amerika menarik diri dari Afghanistan. Dengan kembalinya Presiden Trump ke tampuk kekuasaan, delegasi Amerika tingkat tinggi mengunjungi Kabul untuk pertama kalinya, dan komunikasi langsung pun dimulai. Kami berharap hubungan ini akan mengalami perkembangan positif. Namun, mewujudkan kemajuan ini memerlukan keberanian politik, dan kepentingan kedua belah pihak harus diperhatikan.

Mengingat isu-isu internasional saat ini dan kondisi di Afghanistan yang ditandai dengan stabilitas keamanan dan adanya pemerintahan yang bersatu, tanpa gejolak atau konflik internal, kami menegaskan bahwa pemerintah Afghanistan menerapkan kebijakan yang seimbang. Berdasarkan fakta-fakta ini, kami optimis bahwa kemajuan dalam hubungan dengan Amerika Serikat dapat dicapai. Namun, hal itu bergantung pada sejauh mana pihak Amerika bersedia untuk melangkah maju dan mengambil langkah-langkah praktis. Sementara dari sisi kami, tidak ada hambatan apa pun yang menghalangi kemajuan ini.

Al Jazeera: Secara spesifik, poin-poin apa yang masih menjadi perselisihan dengan Amerika Serikat yang Anda harapkan dapat diselesaikan bersama Presiden Trump?

Menteri Luar Negeri: Kami telah menegaskan berkali-kali, dan terus menegaskan kepada pihak Amerika, perlunya mereka memiliki pemahaman yang benar dan komprehensif tentang situasi di Afghanistan, serta menyadari sepenuhnya kebijakan yang kami terapkan, terutama karena kebijakan kami berlandaskan pada keseimbangan dan keterbukaan. Setelah 45 tahun konflik, Afghanistan telah memasuki babak baru di mana tidak ada lagi masalah keamanan, tidak ada aktivitas penanaman atau perdagangan narkoba, dan wilayah Afghanistan tidak digunakan untuk menyerang pihak lain. Jika fakta-fakta di lapangan ini dipahami, dan didasarkan pada pandangan yang realistis serta berpijak pada fakta, bukan pada propaganda media yang bias atau pernyataan pihak oposisi, maka akan ada peluang nyata untuk mencapai kemajuan dalam hubungan. Namun, jika mereka bersandar pada sumber-sumber yang tidak netral, akan sulit mencapai kesepahaman bersama.

Kami pada tahap ini berupaya membangun hubungan positif dengan Amerika Serikat, meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam beberapa isu global, seperti sikap teguh kami dalam mendukung perjuangan Palestina yang adil, dan berdiri di sisi rakyat Palestina yang terzhalimi di Gaza, yang kami anggap sebagai tanggung jawab moral. Kami mungkin berbeda pendapat dengan Amerika Serikat dalam hal ini, namun hal tersebut tidak seharusnya berdampak negatif pada hubungan bilateral, karena tidak ada perselisihan mendasar di antara kami yang memerlukan konfrontasi.

Al Jazeera: Sejauh mana upaya pengangkatan sanksi terhadap Afghanistan, misalnya di sektor perbankan?

Menteri Luar Negeri: Afghanistan baru saja keluar dari perang yang berlangsung lebih dari 45 tahun, dan sudah semestinya rakyatnya diperlakukan dengan belas kasih dan keadilan.

Sanksi yang saat ini diberlakukan terhadap Afghanistan adalah zhalim dan tidak beralasan, serta merupakan pelanggaran terhadap hak-hak rakyat Afghanistan. Pembekuan aset keuangan Afghanistan juga merupakan perampasan hak yang sah secara tidak legal.

Kami menuntut agar semua sanksi dicabut sepenuhnya, membuka ruang bagi perdagangan yang sah, dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kerja sama bilateral. Pihak-pihak yang memberlakukan sanksi ini seharusnya tidak mendorong rakyat Afghanistan untuk beralih ke cara-cara yang tidak legal atau tidak resmi dalam transaksi perdagangan mereka. Memang, telah terjadi beberapa perbaikan, namun itu belum cukup. Sanksi harus diakhiri secara total, karena tidak memiliki dasar hukum atau logika apa pun, dan tidak melayani stabilitas maupun pembangunan di Afghanistan.

Al Jazeera: Bagaimana respon kawasan terhadap Anda? Bagaimana negara-negara regional berkontribusi dalam upaya pengangkatan sanksi dan mengatasi dampak ekonomi yang besar akibat berlanjutnya sanksi terhadap Afghanistan?

Menteri Luar Negeri: Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan negara-negara di kawasan, terutama di bidang perdagangan. Sebagaimana diketahui, Afghanistan adalah negara yang tidak memiliki akses ke laut (landlocked), dengan populasi sekitar 40 juta jiwa, dan sangat bergantung pada impor karena tidak memiliki volume ekspor yang besar. Hal ini membuat kebutuhan kami akan perdagangan menjadi sangat mendesak. Kami telah berhasil membangun hubungan diplomatik dan ekonomi yang kuat dengan negara-negara tetangga, serta hubungan budaya dengan beberapa di antaranya. Di bidang ini, kami saat ini tidak menghadapi hambatan yang berarti. Sejumlah negara di kawasan juga telah mengakui perwakilan kami setingkat duta besar, dan kami bercita-cita untuk membangun hubungan serupa dengan seluruh negara di dunia.

Al Jazeera: Rusia telah menghapus nama "Gerakan Taliban" dari daftar organisasi terlarang. Hal ini mendorong kami untuk bertanya tentang sejauh mana dampaknya terhadap hubungan Anda dengan Rusia, serta pengaruhnya terhadap situasi internal Afghanistan?

Menteri Luar Negeri: Kami sangat menghargai langkah Rusia yang terbaru ini. Sebelumnya, ada hambatan yang menghalangi perluasan hubungan antara kami, dan kini setelah hambatan itu hilang, jalan telah terbuka untuk memperkuat kerja sama, terutama di bidang perdagangan dengan negara-negara di kawasan. Afghanistan terletak di jantung Asia dan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan Asia Selatan dan Asia Tengah, serta merupakan jalur transit alami. Kami bercita-cita agar negara kami menjadi mata rantai yang menghubungkan wilayah utara dan selatan. Rusia juga dapat memanfaatkan posisi geografis yang strategis ini. Oleh karena itu, langkah dari pihak Rusia ini sangat positif dan penting, serta telah membuka pintu bagi lebih banyak perkembangan di masa depan. Kami memandang keputusan ini tepat, baik dari segi waktu maupun substansinya.

Al Jazeera: Seperti apa bentuk kemajuan ini? Apakah perkembangan ini mendorong Anda untuk semakin dekat dengan China, misalnya? Di antara China, Amerika Serikat, dan Rusia, di mana posisi Anda saat ini?

Menteri Luar Negeri: Posisi geografis dan kondisi politik Afghanistan menuntut kami untuk menerapkan kebijakan yang seimbang, dan itulah kebijakan yang kami anut. Melalui kebijakan ini, kami berupaya membangun hubungan positif dengan semua negara. Negara mana pun yang berinisiatif untuk memperkuat kerja sama, baik di bidang perdagangan, politik, maupun budaya, kami siap untuk berinteraksi dan bekerja sama dengannya di berbagai bidang.

Kami tidak ingin Afghanistan dipaksa untuk mengambil sikap bermusuhan terhadap suatu negara hanya untuk mendekati negara lain. Kami menginginkan hubungan baik dengan semua pihak.

Kami telah mempelajari pendekatan ini secara mendalam dan menemukan bahwa hal ini sangat menguntungkan bagi negara kami. Afghanistan tidak akan lagi menjadi medan pertempuran atau arena persaingan negatif antara kekuatan besar atau negara-negara regional. Jika ada persaingan, kami menginginkan persaingan yang positif di bidang ekonomi, perdagangan, transit, teknologi, dan dialog. Kami sepenuhnya siap untuk bekerja sama di semua bidang ini, dan kebijakan kami tidak didasarkan pada niat untuk merugikan pihak mana pun, melainkan berlandaskan pada netralitas dan keseimbangan.

Al Jazeera: Itulah yang Anda cita-citakan, Tuan Menteri. Namun, bagaimana kondisi saat ini? Terutama dengan perkembangan terbaru bersama Rusia, kedatangan Presiden Trump, dan hubungan ekonomi dengan China, apakah hal-hal ini saat ini benar-benar berdampak pada kondisi ekonomi di Afghanistan?

Menteri Luar Negeri: Afghanistan adalah bagian dari dunia ini dan hidup di dalamnya, dan dunia ini ibarat sebuah desa. Sudah menjadi hal yang wajar jika setiap konflik ekonomi, militer, atau keamanan memiliki dampak pada semua pihak. Namun, kami tidak mengharapkan dampak tersebut akan terlalu besar bagi Afghanistan, karena hubungan kami dengan berbagai negara dibangun di atas prinsip keseimbangan. Hubungan ekonomi kami dengan banyak negara telah menguat, dan jika ada kelemahan di satu sisi, sisi lainnya akan tetap terbuka, sehingga membatasi dampak negatif. Kami berharap tidak akan terjadi konflik di kawasan yang berdampak buruk bagi Afghanistan.

Al Jazeera: Sekarang, setelah 4 tahun pemerintahan Anda, bagaimana dengan urusan dalam negeri? Apakah ada inisiatif baru untuk dialog masyarakat dan keterbukaan terhadap lebih banyak gerakan di dalam Afghanistan?

Menteri Luar Negeri: Kami tidak ingin mengulangi pengalaman pahit yang pernah dialami Afghanistan di masa lalu. Kami telah mengumumkan amnesti umum dan menegaskan bahwa Afghanistan adalah rumah bersama bagi seluruh rakyat Afghanistan. Semua orang harus hidup sebagai saudara tanpa diskriminasi berdasarkan afiliasi politik, suku, atau wilayah. Semua warga negara adalah setara, dan mereka telah menjalani kehidupan bersama di masa lalu, dan harus terus melakukannya sekarang.

Pemerintah mewakili semua orang, dan setiap warga negara berhak untuk berkomunikasi dengannya guna memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka tanpa diskriminasi. Saat ini, tidak ada krisis yang mengharuskan pembentukan persamaan atau solusi baru. Semua orang di dalam negara menikmati kebebasan untuk bepergian, berdagang, dan hidup, dan tidak ada yang terancam karena pendapat politik mereka. Situasi ini harus dipertahankan dan diperkuat.

Al Jazeera: Bagaimana dengan gerakan-gerakan politik, khususnya yang aktif di Afghanistan, dan misalnya Gerakan Taliban Pakistan (TTP)? Apa batasan komunikasi dan hubungan Anda dengan gerakan-gerakan ini?

Menteri Luar Negeri: Saat ini, tidak ada oposisi yang terorganisir atau berkelompok di dalam Afghanistan. Jika ada, itu hanya pada tingkat individu yang tinggal di luar negeri. Tidak ada oposisi yang beroperasi atas nama partai atau organisasi. Kami tidak menginginkan kembalinya gerakan-gerakan negatif tersebut. Adapun individu, kami menyambut kepulangan mereka dan pintu kami terbuka lebar bagi mereka. Mereka dapat berkomunikasi dengan kami dan hidup di tanah air mereka tanpa masalah apa pun.

Al Jazeera: Jika kita beralih membahas ketegangan yang terjadi saat ini antara India dan Pakistan, apa sikap Afghanistan terhadap ketegangan ini? Dan bagaimana Anda memantau ketegangan berbahaya yang sedang berlangsung?

Menteri Luar Negeri: Kebijakan resmi Imarah Islam sangat jelas; kami mengutuk semua peristiwa yang terjadi, baik di Pakistan maupun di India, dan kami telah menyatakan empati kepada kedua belah pihak. Kami tidak menginginkan ketegangan apa pun di kawasan ini, dan kami lebih memilih agar perselisihan diselesaikan melalui dialog. Kami berharap tidak akan ada krisis baru yang meletus di kawasan ini. Sikap kami adalah mendukung keamanan dan stabilitas. Kami memiliki hubungan perdagangan dengan Pakistan maupun India, dan kami berharap masalah-masalah ini dapat diselesaikan melalui sikap saling pengertian.

Al Jazeera: Namun, baru-baru ini terjadi perkembangan dalam hubungan, misalnya dengan Pakistan, termasuk deportasi pengungsi Afghanistan ke Afghanistan. Apakah hal ini memengaruhi ketegangan saat ini? Apakah ada hubungannya?

Menteri Luar Negeri: Situasi saat ini tidak mempengaruhi hubungan kami dengan Pakistan atau India, karena perselisihan itu terjadi di antara mereka, bukan antara kami dengan salah satu dari mereka. Kami menjaga hubungan diplomatik dengan kedua belah pihak dan berupaya untuk mengembangkannya serta meningkatkan levelnya. Tidak ada masalah langsung antara Afghanistan dengan salah satu dari kedua negara tersebut.

Al Jazeera: Apa tantangan terbesar yang dihadapi Afghanistan pada saat ini menurut pandangan Anda?

Menteri Luar Negeri: Sebagaimana Anda ketahui, Afghanistan telah mengalami perang yang berlangsung selama 45 tahun, yang mengakibatkan kerusakan yang luas. Saat ini, seiring dengan pulihnya keamanan, jumlah penduduk bertambah, dan kebutuhan infrastruktur seperti jalan raya, bandara, teknologi, dan energi juga meningkat. Memenuhi kebutuhan ini memerlukan waktu dan sumber daya yang besar. Kami sedang menghadapi tantangan-tantangan ini, dan kami telah mulai bekerja untuk mengatasinya. Kami berharap Allah mengaruniakan kami keberhasilan dalam upaya ini.

Majalah Al Somood Edisi 233

https://www.alsomood.af/%d9%88%d8%b2%d9%8a%d8%b1-%d8%ae%d8%a7%d8%b1%d8%ac%d9%8a%d8%a9-%d8%a5%d9%85%d8%a7%d8%b1%d8%a9-%d8%a3%d9%81%d8%ba%d8%a7%d9%86%d8%b3%d8%aa%d8%a7%d9%86-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b3%d9%84%d8%a7%d9%85%d9%8a-2/

COMMENTS

Nama

Afghanistan,57,Aksi,1,Artikel,74,Buletin Kabar Dunia Islam,1,Data Kebiadaban Israel,5,Daulah Utsmaniyah,1,Doa,8,Dokumenter Perjuangan Palestina,13,Dukungan Untuk Palestina,10,Dukungan untuk Perjuangan Palestina,57,Duta Besar Palestina,5,Ebook,32,Fatwa Boikot,8,Film Dokumenter Palestina,12,Hamas,31,Ikhwanul Muslimin,10,Isi Buku,4,Israel,4,Isu Syiah,4,Kajian,15,Karya Ilmiah,7,Kecerdasan Tak Lazim,6,Kesaksian Musuh,1,Kisah Syuhada,3,Laporan Strategis Palestina,3,Lembaga Kemanusiaan,1,Markaz Al-Imam Al-Albani Yordania,2,Membongkar Hoaks,2,Menjawab Syubhat,4,Palestina-Diaspora,2,Palestina-Jalur Gaza,11,Palestina-Tepi Barat,3,Survei,4,Takfir,1,Thaliban,58,Tulisan Ustadz Budi Ashari,67,Ulama-Ustadz-Akademisi,117,Ustadz Budi Ashari,68,Video,67,Wawancara,5,
ltr
item
Ya-Aqsha Media: Wawancara Al-Jazeera dengan Menteri Luar Negeri Imarah Islam Afghanistan, Mawlawi Amir Khan Muttaqi (April 2025)
Wawancara Al-Jazeera dengan Menteri Luar Negeri Imarah Islam Afghanistan, Mawlawi Amir Khan Muttaqi (April 2025)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjA94W0y7EXQ6qVl1mn6kvjtVOdAW621loGlaTTLRBpJMa368iiN_bABquoesOPlUc7_uiyWQtwKY-BQ0RVHnLZqEBqxhM9l0OStW4Z2xNTQXwt8TcfXm3Jj2VKNGKN4_ywGQW6O_z07DZeLn3ufY7-CMpkBrp0wWkQLfnTIylR-OWeF7eNOpbED_qvjcPu/w640-h426/Wawancara%20Al-Jazeera%20dengan%20Menteri%20Luar%20Negeri%20Imarah%20Islam%20Afghanistan,%20Maulawi%20Amir%20Khan%20Muttaqi.png
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjA94W0y7EXQ6qVl1mn6kvjtVOdAW621loGlaTTLRBpJMa368iiN_bABquoesOPlUc7_uiyWQtwKY-BQ0RVHnLZqEBqxhM9l0OStW4Z2xNTQXwt8TcfXm3Jj2VKNGKN4_ywGQW6O_z07DZeLn3ufY7-CMpkBrp0wWkQLfnTIylR-OWeF7eNOpbED_qvjcPu/s72-w640-c-h426/Wawancara%20Al-Jazeera%20dengan%20Menteri%20Luar%20Negeri%20Imarah%20Islam%20Afghanistan,%20Maulawi%20Amir%20Khan%20Muttaqi.png
Ya-Aqsha Media
https://ya-aqsha.blogspot.com/2026/07/wawancara-al-jazeera-dengan-menteri.html
https://ya-aqsha.blogspot.com/
https://ya-aqsha.blogspot.com/
https://ya-aqsha.blogspot.com/2026/07/wawancara-al-jazeera-dengan-menteri.html
true
1607972164486125252
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content