Kebijakan-Kebijakan Imarah Islam yang Menghidupkan Kembali Harapan Rakyat Afghanistan Penulis: Muhammad Shadiq Al-Rafi'i Sejak beberapa ...
Penulis: Muhammad Shadiq Al-Rafi'i
Sejak beberapa waktu terakhir, hubungan Afghanistan dengan beberapa negara tetangga diwarnai oleh ketegangan yang terus meningkat dan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini berujung pada konfrontasi militer, penutupan perlintasan bersama, terhentinya lalu lintas dan perdagangan, menumpuknya ratusan truk pengangkut barang, kerusakan pada banyak komoditas, serta terputusnya rantai pasokan. Selain itu, hal ini juga mengganggu kepentingan ribuan warga yang bergantung pada perlintasan tersebut untuk mobilitas dan mata pencaharian mereka, yang pada akhirnya menurunkan volume perdagangan antara kedua negara dan merugikan para pedagang serta masyarakat umum kedua belah pihak. Semua ini terjadi di saat yang seharusnya hubungan antara kedua negara dibangun di atas dasar nilai-nilai Islam yang sama, serta ikatan agama, sejarah, dan geografi, ditambah dengan perbatasan panjang yang menyatukan mereka, yang semestinya menjadi jembatan komunikasi dan kerja sama, bukan pemicu perselisihan dan konflik.
Akar ketegangan saat ini bermula dari serangkaian kebijakan yang diadopsi oleh Imarah Islam sejak mengambil alih kekuasaan. Kebijakan-kebijakan ini merepresentasikan transformasi besar dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam lanskap politik Afghanistan modern. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai strategi fundamental yang membentuk kemandirian mereka dalam pemerintahan dan politik, serta mencerminkan visi jangka panjang mereka untuk masa depan Afghanistan. Perhatian mereka tertuju pada pembangunan sistem pemerintahan yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam dan visi kebangsaan, jauh dari campur tangan atau tekanan eksternal, maupun ketergantungan pada kekuatan regional dan internasional.
Meskipun kebijakan-kebijakan ini merupakan hak yang sah bagi negara berdaulat mana pun, sesuatu yang mungkin belum pernah terjadi dalam sejarah politik Afghanistan, namun hal ini mengejutkan beberapa negara tetangga. Negara-negara tersebut, selama beberapa dekade terakhir, terbiasa memperlakukan Afghanistan sebagai negara yang rapuh dan lemah dalam pengambilan keputusan, serta memanfaatkan kekosongan internal dan realitas politik yang diwarnai oleh kekacauan dan perpecahan. Kondisi tersebut sebelumnya memberikan ruang yang luas bagi mereka untuk melakukan pengaruh, intervensi, dan penyusupan hingga ke ranah politik dan keamanan Afghanistan.
Sejak awal, Imarah Islam telah mengadopsi kebijakan strategis umum yang mencerminkan tekad yang jelas untuk mencapai kedaulatan penuh atas seluruh urusan negara, termasuk kebijakan luar negeri, perdagangan, keamanan, pengelolaan perbatasan, dan sektor-sektor vital lainnya. Perubahan radikal dalam tata kelola pemerintahan dan politik ini tidak disukai oleh beberapa negara yang sebelumnya memandang Afghanistan sebagai arena terbuka bagi kepentingan mereka. Hal inilah yang memicu akumulasi ketegangan dan berbagai upaya penekanan, baik melalui jalur ekonomi maupun keamanan, dengan tujuan mengembalikan keadaan seperti sedia kala.
Tujuan dari kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Imarah Islam sebagai strategi, yang tampak jelas dalam langkah-langkah terbaru mereka, adalah sebagai berikut:
– Agar Afghanistan menjadi penentu nasib politiknya sendiri, tidak tunduk dalam keputusannya pada paksaan eksternal, dan tidak berjalan sesuai agenda yang dipaksakan oleh kekuatan global atau regional, melainkan menetapkan kebijakan dalam dan luar negerinya berdasarkan kepentingan rakyatnya, serta sesuai dengan visi independennya yang bersumber dari nilai-nilai agama dan prinsip-prinsip kebangsaannya.
– Agar tidak menjadi negara yang selalu konsumtif dan bergantung pada impor, yang mengandalkan kehidupan dan ekonominya pada pihak luar, serta menunggu syarat-syarat keras yang diposisikan sebagai imbalan atas bantuan atau impor, melainkan berusaha keras untuk bertransformasi menjadi negara yang produktif dan mandiri, membangkitkan industri lokal, menginvestasikan kekayaan alamnya, mengembangkan pertanian dan perdagangan dalam negeri, serta membuka peluang untuk mengandalkan kompetensi sumber daya manusia nasional.
– Untuk menampilkan citra indah Afghanistan setelah menghilang di bawah badai tantangan dan masalah, citra yang selama ini tertutup oleh kehancuran, pendudukan, dan perang. Citra sebuah negara yang mulia karena imannya, kaya akan budayanya, menjulang tinggi dengan sejarahnya, dan sarat dengan nilai-nilai serta tradisi aslinya. Agar wajah cerahnya kembali ke permukaan, dan menunjukkan kepada dunia bahwa Afghanistan bukan hanya medan konflik, melainkan tanah air bagi rakyat yang mulia dan gagah berani, tanah peradaban dan keimanan, pusat ilmu dan jihad, serta masyarakat yang mendambakan stabilitas dan kebangkitan, yang membangun masa depannya dengan tangannya sendiri terlepas dari segala tantangan dan rintangan.
– Untuk menghidupkan kembali harapan rakyat Afghanistan, rakyat yang telah menderita selama beberapa dekade akibat bencana perang, pendudukan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Kembalinya Imarah Islam ibarat hembusan harapan bagi jiwa rakyat yang telah letih oleh cobaan, sehingga ia kembali menanamkan kepercayaan dalam hati, memberikan harapan akan masa depan yang lebih adil dan stabil, serta membuka pintu harapan bagi generasi baru anak bangsa, yang mendambakan kehidupan yang bermartabat di bawah naungan kedaulatan, kebebasan, dan keadilan Islam, di mana nilai-nilai dijaga, tradisi dihormati, dan tanah air dibangun dengan tenaga putra-putrinya yang beriman dan tulus.
– Untuk menghilangkan kekhawatiran masyarakat internasional bahwa Afghanistan akan menjadi sarang bagi kelompok-kelompok yang memicu kekacauan. Imarah Islam menegaskan melalui pernyataan resmi dan kebijakan nyata, bahwa mereka tidak mengizinkan pihak mana pun menggunakan wilayah Afghanistan untuk merugikan negara lain atau mengancam keamanan masyarakat. Sebaliknya, mereka berupaya membangun hubungan yang seimbang berdasarkan saling menghormati dan kerja sama dengan dunia. Mereka juga menekankan bahwa tujuan utama mereka adalah membangun kembali negara, serta mewujudkan keamanan dan stabilitas internal, jauh dari ketegangan regional dan internasional. Mereka meyakinkan masyarakat internasional bahwa mereka berusaha mendirikan sistem pemerintahan yang baik yang menjaga hak-hak warga negara dan mencegah kekacauan serta ketidakteraturan yang dieksploitasi oleh kelompok ekstremis untuk menyebarkan fitnah dan kehancuran.
– Untuk membuktikan pula bahwa dalam politik, tidak ada teman yang abadi maupun musuh yang abadi, dan bahwa kepentingan nasional yang utama berada di atas semua pertimbangan sementara dan slogan-slogan yang berubah-ubah. Oleh karena itu, mereka mengelola hubungan luar negerinya dengan logika kebijaksanaan dan keseimbangan, serta bergerak dalam mekanisme yang terukur untuk menjamin keamanan, kemandirian, dan kemakmuran mereka, sekaligus menjaga martabat dan identitas rakyatnya. Melalui langkah-langkah praktisnya, mereka telah menunjukkan kesediaan untuk berinteraksi dengan negara mana pun, meskipun kemarin negara tersebut adalah lawan, selama hubungan tersebut dibangun di atas dasar keuntungan timbal balik, tidak melanggar kedaulatan negara, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam serta budaya populer yang berakar dalam masyarakat Afghanistan. Mereka menyadari bahwa politik adalah seni dari hal yang memungkinkan (the art of the possible), dan memahami bahwa keteguhan pada prinsip-prinsip tidak berarti kekakuan dalam hubungan, melainkan berarti bergerak dengan kesadaran dan tanggung jawab di dunia yang diatur oleh kepentingan, dengan syarat tidak menggadaikan prinsip dan tidak ada pengorbanan terhadap agama atau martabat bangsa.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya semua negara, termasuk negara-negara tetangga, untuk meninjau kembali kebijakan mereka terhadap Afghanistan, dan memulai hubungan dengannya melalui jalur perdagangan dan ekonomi. Mereka perlu menyesuaikan kebijakan sesuai dengan kondisi yang ada di Afghanistan, serta menerima perubahan positif yang telah terjadi di tanah Afghanistan, dengan menghormati pemerintahan dan rakyatnya. Sebab, pemerintahan Islam yang didambakan oleh rakyat Afghanistan telah terwujud di tanah Afghanistan, dan negara ini telah terbebas dari pendudukan, korupsi, dan sejenisnya. Afghanistan telah berubah secara total dari masa lalunya, dan dunia kini melihat Afghanistan yang baru di peta global, yang melangkah dengan mantap menuju stabilitas, kemajuan, dan kemakmuran. Afghanistan berkeinginan untuk membangun hubungan persahabatan dengan semua pihak, terutama negara-negara tetangga dan kawasan, dalam kerangka yang menghormati kedaulatan serta kemandirian politik dan ekonomi Afghanistan.
Secara ringkas, kembalinya Imarah Islam tidak lain adalah untuk mengembalikan elemen-elemen pemerintahan yang sukses, seperti mewujudkan keadilan, ketertiban administrasi, menjaga kepetingan umum, memberantas kezhaliman dan kesewenang-wenangan, serta memutus campur tangan pihak asing. Dengan demikian, akan terwujud kemandirian yang didambakan, ekonomi yang berkembang, dan keamanan yang berkelanjutan, sehingga terwujudlah harapan dan keinginan rakyat Afghanistan yang telah mengorbankan jiwa dan harta yang paling berharga demi mencapainya.
Majalah Al Somood Edisi 242
https://www.alsomood.af/%d8%a7%d9%84%d8%a5%d9%85%d8%a7%d8%b1%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b3%d9%84%d8%a7%d9%85%d9%8a%d8%a9-%d9%88%d8%b3%d9%8a%d8%a7%d8%b3%d8%a7%d8%aa-%d8%aa%d8%ad%d9%8a%d9%8a-%d8%a2%d9%85%d8%a7%d9%84-%d8%a7/

COMMENTS