Sihir yang Berbalik Menimpa Penyihirnya: Bagaimana Langkah Berani Imarah Islam Menjadi Bumerang Kejam bagi Pakistan? Oleh: Muhammad Musa Zar...
Sihir yang Berbalik Menimpa Penyihirnya: Bagaimana Langkah Berani Imarah Islam Menjadi Bumerang Kejam bagi Pakistan?
Oleh: Muhammad Musa Zaranji
Perkembangan terbaru di Afghanistan bukanlah sekadar detail sementara dalam catatan peristiwa, melainkan sebuah titik balik strategis yang membalikkan keseimbangan kekuatan tradisional di kawasan. Pakistan, yang selama beberapa dekade terbiasa memperlakukan Afghanistan sebagai mata rantai terlemah dan memanfaatkan krisis ekonominya dalam permainan pemerasan politik, terkejut ketika langkah berani yang diambil oleh Imarah Islam telah memukul fondasi persamaan ini, dan menyebabkan Islamabad menderita kerugian yang jauh lebih besar dari yang mereka perkirakan.
Selama bertahun-tahun, Pakistan telah menjadikan ekonomi Afghanistan sebagai kartu tekanan yang terus-menerus; menutup perlintasan kapan pun mereka mau, membukanya kapan pun mereka mau, memberlakukan pembatasan transit, dan menggunakan krisis pengungsi untuk menciptakan ketegangan guna menekan Kabul. Mereka percaya bahwa Afghanistan tidak akan mampu melepaskan diri dari ketergantungan ekonomi ini, yang dibangun di atas kerapuhan dan korupsi rezim sebelumnya.
Namun, seiring dengan stabilnya pemerintahan di Kabul, serta pembentukan institusi yang lebih disiplin dan manajemen yang lebih rapi, Imarah Islam mulai bergerak ke arah kemerdekaan keputusan ekonomi dan pelepasan belenggu lama. Inilah langkah berani yang dampaknya tidak diantisipasi oleh Islamabad.
Imarah Islam telah membuktikan, bahkan dengan pengakuan PBB sendiri, bahwa mereka mengelola urusan dalam negerinya dengan efisien dan terorganisir, baik dalam penanganan bencana, kepulangan lebih dari dua juta pengungsi, pemberantasan narkoba, maupun perbaikan hubungan regional. Akumulasi kesuksesan ini menunjukkan kepada dunia bahwa Afghanistan melangkah dengan mantap, sementara Pakistan tenggelam dalam inflasi ekonomi yang mencekik, krisis utang global, keruntuhan mata uangnya, dan konflik politik yang tak berkesudahan.
Dan karena Islamabad mengandalkan kelemahan Afghanistan untuk mengukuhkan pengaruhnya, keteguhan Kabul tidak hanya membuat Afghanistan kuat, melainkan justru mengungkap kerapuhan Pakistan.
Pakistan telah lama mengandalkan kartu perlintasan perdagangan untuk menekan Afghanistan. Mereka membayangkan bahwa perubahan apa pun dalam kebijakan ekonomi akan melumpuhkan pergerakan perdagangan di Kabul. Namun, ketika Imarah Islam bergerak untuk memberlakukan sistem yang adil dan mencegah eksploitasi, pukulan itu langsung berbalik menghantam Pakistan:
- Kerugian jutaan dolar setiap hari akibat terhentinya truk-truk pengangkut.
- Kemarahan para pedagang Pakistan yang perekonomiannya bergantung pada perdagangan dengan Afghanistan.
- Kenaikan harga di dalam Pakistan itu sendiri karena mereka adalah pihak yang paling diuntungkan dari jalur perdagangan ini.
Ketika Pakistan bertujuan untuk memberikan tekanan, mereka justru mendapati diri mereka sebagai pihak yang paling dirugikan.
Keputusan untuk mengusir ribuan pengungsi Afghanistan seharusnya mengguncang situasi di dalam negeri Afghanistan. Namun yang terjadi justru sebaliknya; Imarah Islam telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam mengelola kepulangan, menyediakan jalur kemanusiaan, dan reintegrasi keluarga.
Adapun Pakistan, telah kehilangan:
- Puluhan ribu pekerja yang merupakan tulang punggung sektor konstruksi, pertanian, dan jasa.
- Jutaan dolar dari remitansi dan konsumsi domestik yang menghidupkan pasar mereka.
- Reputasi hak asasi manusia mereka yang memburuk secara global setelah tindakan pengusiran paksa.
Pakistan telah mencoba melemparkan krisis ke arah Afghanistan, namun justru jatuh ke dalam lubang yang mereka gali sendiri.
Dunia hari ini mendengar dari Kabul sebuah wacana politik yang seimbang, seperti dalam percakapan Menteri Luar Negeri "Amir Khan Muttaqi" dengan Rosemary DiCarlo (diplomat amerika, sekjen pbb urusan politik dan perdamaian), menyaksikan kerja sama kemanusiaan yang solid, melihat penurunan bersejarah dalam penanaman narkoba, dan menyaksikan sebuah negara yang memegang kendali keamanannya tanpa kekacauan.
Sebaliknya, mereka melihat di Pakistan sebuah negara yang tergerus dari dalam, kehilangan kemampuan untuk mengendalikan lanskap regional, dan ditinggalkan oleh pengaruh yang selama ini mereka anggap abadi.
Apa yang terjadi bukanlah sekadar perubahan situasional, melainkan sebuah transformasi strategis:
Afghanistan tidak lagi menjadi kartu terlemah, dan kartu tekanan lama tidak lagi mempan.
Kesimpulan: Sihir yang berbalik menimpa penyihirnya
Pakistan ingin melemahkan Afghanistan, namun itu justru melemahkan dirinya sendiri.
Mereka ingin menggunakan krisis ekonomi mereka sebagai alat pemerasan, namun justru berubah menjadi beban yang membebani mereka.
Mereka ingin mengguncang dalam negeri Afghanistan, namun Afghanistan justru semakin kokoh.
Singkatnya: sihir yang berbalik menimpa penyihirnya, dan pemandangan hari ini menjadi lebih jelas dari sebelumnya: siapa pun yang ingin menekan Afghanistan, justru mendapati dirinya sendiri yang tertekan.
Majalah Al Somood Edisi 241
https://www.alsomood.af/%d8%a7%d9%84%d8%b3%d8%ad%d8%b1-%d8%a7%d9%84%d8%b0%d9%8a-%d8%a7%d9%86%d9%82%d9%84%d8%a8-%d8%b9%d9%84%d9%89-%d8%a7%d9%84%d8%b3%d8%a7%d8%ad%d8%b1-%d9%83%d9%8a%d9%81-%d8%aa%d8%ad%d9%88%d9%91%d9%84%d8%aa/

COMMENTS