Kehidupan Sengsara Bagi Mereka yang Berperang di Barisan Penjajah

Para Prajurit yang Bertempur, Lalu Ditinggalkan Oleh: Hasibullah Qanit Berakhirnya perang di Afghanistan bukanlah akhir yang adil bagi merek...


Para Prajurit yang Bertempur, Lalu Ditinggalkan

Oleh: Hasibullah Qanit

Berakhirnya perang di Afghanistan bukanlah akhir yang adil bagi mereka yang telah bertempur di garis depan bersama pasukan Amerika. Setelah penarikan pasukan asing dan runtuhnya pemerintahan yang didukung Washington, pertempuran ribuan mantan tentara Afghanistan berpindah ke medan lain: ke tanah pengasingan, dan ke dalam relung jiwa mereka sendiri. Di sanalah babak-babak baru kehilangan mulai terungkap, yang tidak lagi diukur dari jumlah korban tewas maupun peta penguasaan wilayah, melainkan dari terkoyaknya identitas dan hancurnya makna hidup.

Selama dua dekade, para prajurit ini merupakan bagian dari sebuah proyek militer dan politik besar yang disajikan kepada mereka sebagai jalan menuju stabilitas, perlindungan, dan masa depan yang lebih baik. Mereka bertempur, menerjemahkan, dan terlibat dalam operasi-operasi yang rumit, dengan keyakinan bahwa berakhirnya misi akan membuka pintu-pintu keselamatan bagi mereka. Namun, begitu tirai perang diturunkan, segala persamaan berubah; janji-janji ditarik mundur, dan para sekutu kecil ini ditinggalkan sendirian menghadapi takdir yang berat.

Sebuah laporan terbaru dari majalah Time Amerika kembali menyoroti tragedi sunyi ini, mengungkap realitas psikologis dan sosial yang sangat kejam yang dialami oleh puluhan ribu warga Afghanistan yang tinggal di Amerika Serikat. Trauma perang berpadu dengan trauma migrasi, kehilangan tanah air terjadi berbarengan dengan kehilangan peran, sehingga banyak dari mereka mendapati diri mereka terjebak di antara masa lalu yang tidak bisa mereka kembali, dan masa kini yang tidak memberikan mereka rasa memiliki.

Masalahnya tidak hanya terletak pada kerasnya kehidupan semata, melainkan pada kekosongan batin yang ditinggalkan oleh berakhirnya sebuah proyek secara tiba-tiba, yang selama bertahun-tahun mereka hidup di bawah naungannya. Prajurit yang dulu memikul senjata dan merasa menjadi bagian dari sebuah persamaan besar, kini bekerja di bidang pekerjaan-pekerjaan marjinal yang jauh dari keahlian dan sejarah hidup mereka. Sementara itu, program-program dukungan psikologis yang serius nyaris tidak ada, dan jaringan-jaringan dukungan sosial semakin melemah. Seiring berjalannya waktu, keheningan berubah menjadi beban, dan keterasingan menjadi gaya hidup.

Insiden-insiden tragis yang tersebar telah mengembalikan isu ini ke permukaan wacana publik. Kisah-kisah seperti kisah Rahmanullah Lakanwal, atau Jamal Wali yang tewas dalam konfrontasi dengan polisi Amerika setelah ia mengungkapkan dengan penuh amarah perasaannya telah dikhianati, bukanlah sekadar peristiwa biasa, melainkan sinyal tentang kedalaman kehancuran psikologis yang diderita oleh banyak mantan prajurit ini. Kalimat yang diucapkan oleh Wali, "Andai saja saya bekerja dengan Taliban daripada bekerja dengan kalian," bukanlah sebuah sikap politik, melainkan sebuah pengakuan yang menyayat hati tentang harga dari sebuah pilihan yang diambil di masa ketika keselamatan masih terasa seperti ilusi.

Majalah Time menggambarkan orang-orang Afghanistan ini sebagai generasi tanpa akar yang kokoh; mereka dicabut dari konteks sosial mereka, kehilangan keluarga, bahasa, makanan, dan memori kolektif, tanpa masyarakat baru yang mampu menggantikan rasa memiliki atau keamanan tersebut. Banyak dari mereka hidup di negara-negara bagian yang terpencil, jauh dari komunitas-komunitas yang mendukung, yang semakin memperparah perasaan terisolasi dan terpinggirkan.

Para penerjemah dan mantan prajurit menceritakan bahwa kekhawatiran yang terus-menerus akan nasib keluarga yang masih tertinggal di Afghanistan, ditambah dengan krisis ekonomi dan hambatan budaya, telah mengubah kehidupan sehari-hari menjadi pergulatan psikologis yang tiada henti. Masa depan suram, masa lalu sarat dengan penyesalan, dan masa kini tidak memberikan jawaban apa pun. Di tengah meningkatnya retorika anti-pengungsi dan semakin ketatnya kebijakan terkait izin tinggal, banyak dari mereka merasa telah berpindah dari kotak "sekutu" ke kotak "beban".

Kisah-kisah ini mengungkap sebuah sisi yang jarang dibahas dalam perang-perang modern: nasib mereka yang bertempur atas nama kekuatan-kekuatan besar, lalu mendapati diri mereka di luar perhitungan pasca-perang. Ini bukan sekadar cerita tentang pengungsian, melainkan sebuah kesaksian atas kegagalan moral dan politik, serta tentang harga kemanusiaan yang sangat mahal yang harus dibayar oleh kelompok-kelompok paling lemah ketika lembaran-lembaran konflik dilipat dan ditutup.

Pada akhirnya, menjadi jelas bahwa perang tidak berakhir dengan mundurnya pasukan maupun berubahnya peta. Ada perang-perang lain yang dimulai setelah keheningan, di dalam jiwa-jiwa yang patah, di mana janji-janji yang terlambat tidak lagi berguna dan kewarganegaraan baru tidak lagi bermakna. Ini adalah kisah tentang para prajurit yang pertama-tama kehilangan tanah mereka, kemudian kehilangan janji, dan hingga kini masih terus membayar harganya.

Majalah Al Somood Edisi 241

https://www.alsomood.af/%d8%a7%d9%84%d8%ac%d9%86%d9%88%d8%af-%d8%a7%d9%84%d8%b0%d9%8a%d9%86-%d9%82%d8%a7%d8%aa%d9%84%d9%88%d8%a7-%d8%ab%d9%85-%d8%aa%d9%8f%d8%b1%d9%83%d9%88%d8%a7/

COMMENTS

Nama

Afghanistan,67,Aksi,1,Artikel,74,Buletin Kabar Dunia Islam,1,Data Kebiadaban Israel,5,Daulah Utsmaniyah,1,Doa,8,Dokumenter Perjuangan Palestina,13,Dukungan Untuk Palestina,10,Dukungan untuk Perjuangan Palestina,57,Duta Besar Palestina,5,Ebook,32,Fatwa Boikot,8,Film Dokumenter Palestina,12,Hamas,31,Ikhwanul Muslimin,10,Isi Buku,4,Israel,4,Isu Syiah,4,Kajian,15,Karya Ilmiah,7,Kecerdasan Tak Lazim,6,Kesaksian Musuh,1,Kisah Syuhada,3,Laporan Strategis Palestina,3,Lembaga Kemanusiaan,1,Markaz Al-Imam Al-Albani Yordania,2,Membongkar Hoaks,2,Menjawab Syubhat,4,Palestina-Diaspora,2,Palestina-Jalur Gaza,11,Palestina-Tepi Barat,3,Survei,4,Takfir,1,Thaliban,68,Tulisan Ustadz Budi Ashari,67,Ulama-Ustadz-Akademisi,117,Ustadz Budi Ashari,68,Video,67,Wawancara,5,
ltr
item
Ya-Aqsha Media: Kehidupan Sengsara Bagi Mereka yang Berperang di Barisan Penjajah
Kehidupan Sengsara Bagi Mereka yang Berperang di Barisan Penjajah
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpl1dpHA39Vo7q-EmAxLgCE33nKoFcVOQg0Cnte-VwRO5XfnQFBfnkg81X3cIw8oEGEzPPdKHkuVI7fjiwNzD_9788XAs3dDk85QgD3ti8PwsPZ2ZpZxtzc8GXjQOgiKiJfnSlYTGC4Kbj7lrheyc6n8XHmGqxULl_UdaTt5vG3kH8cMrXQELuNrJ_7n5u/w640-h360/Kehidupan%20Sengsara%20Bagi%20Mereka%20yang%20Berperang%20di%20Barisan%20Penjajah.png
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpl1dpHA39Vo7q-EmAxLgCE33nKoFcVOQg0Cnte-VwRO5XfnQFBfnkg81X3cIw8oEGEzPPdKHkuVI7fjiwNzD_9788XAs3dDk85QgD3ti8PwsPZ2ZpZxtzc8GXjQOgiKiJfnSlYTGC4Kbj7lrheyc6n8XHmGqxULl_UdaTt5vG3kH8cMrXQELuNrJ_7n5u/s72-w640-c-h360/Kehidupan%20Sengsara%20Bagi%20Mereka%20yang%20Berperang%20di%20Barisan%20Penjajah.png
Ya-Aqsha Media
https://ya-aqsha.blogspot.com/2026/07/kehidupan-sengsara-bagi-mereka-yang.html
https://ya-aqsha.blogspot.com/
https://ya-aqsha.blogspot.com/
https://ya-aqsha.blogspot.com/2026/07/kehidupan-sengsara-bagi-mereka-yang.html
true
1607972164486125252
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content