Di Forum Doha 2025: Afghanistan Memulihkan Kehadiran hingga Membangun Arsitektur Keseimbangan Oleh: Shalahuddin Momand Di Doha, tempat peta ...
Oleh: Shalahuddin Momand
Di Doha, tempat peta politik bertemu dan kepentingan kekuatan regional serta internasional saling bersilangan, kehadiran delegasi Imarah Islam menonjol sebagai sebuah isyarat yang melampaui batas-batas protokol. Partisipasi dalam Forum Doha bukanlah sekadar formalitas belaka, melainkan sebuah pengumuman yang terukur tentang kembalinya Afghanistan ke panggung diskusi internasional dengan penuh keyakinan, serta dengan kalkulasi keseimbangan yang cermat untuk menjaga kemandirian sekaligus membuka pintu kemitraan.
Delegasi Imarah Islam duduk di jantung forum, dan Dr. Abdul Hai Qanit menyampaikan pidato yang ditandai dengan ketegasan dan keseimbangan. Ia memusatkan perhatian pada sebuah kebenaran yang kini telah jelas bagi siapa pun yang mengamati urusan Afghanistan: bahwa stabilitas keamanan yang telah tercipta di negara ini bukanlah sekadar wacana politik, melainkan realitas nyata yang berjalan di atas bumi, membuka perbatasan, dan menghidupkan kembali proyek-proyek perdagangan, energi, dan konektivitas regional. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Afghanistan hari ini siap untuk berdialog, tetapi dari posisi kesetaraan, saling menghormati, dan kedaulatan penuh, serta bahwa pintu-pintu Kabul terbuka bagi setiap kerja sama yang melayani rakyat Afghanistan dan memperkuat stabilitas kawasan.
Kehadiran ini, meskipun bersifat simbolis, membawa berbagai pesan ke berbagai arah. Di satu sisi, ini adalah pesan bagi Barat bahwa Imarah Islam telah membentangkan kendalinya di lapangan, dan mengelola urusan negara dengan realisme politik yang memprioritaskan aspek ekonomi dan kemanusiaan. Di sisi lain, ini adalah pidato yang ditujukan kepada para mitra regional bahwa Kabul tidak mencari aliansi yang berubah-ubah, melainkan hubungan yang seimbang dan berlandaskan pada kepentingan timbal balik.
Forum ini sekali lagi menegaskan bahwa perhatian negara-negara Teluk terhadap urusan Afghanistan tidak lagi terbatas pada bantuan kemanusiaan, melainkan telah menjadi bagian dari pendekatan strategis yang terintegrasi: Qatar menyediakan platform dialog dan menyeimbangkan hubungan, Uni Emirat Arab mendorong proyek-proyek infrastruktur dan investasi, sementara Arab Saudi dan Kuwait mendukung keamanan sosial dan pembangunan yang menjadi katup pengaman bagi stabilitas masa depan. Perbedaan peran ini telah menghasilkan jaringan dukungan yang tidak biasa, yang menyadari bahwa stabilitas Afghanistan adalah sebuah kebutuhan regional, bukan kemewahan politik.
Secara paralel, lingkaran-lingkaran kepentingan lain juga terbentuk di sekitar Afghanistan: Asia Tengah melihatnya sebagai gerbang keamanan, energi, dan jalur transit; Asia Selatan memandangnya sebagai simpul konektivitas perdagangan; dan Iran mengaitkan keamanan perbatasan dengan pengaktifan pertukaran perdagangan. Semua pihak menyadari bahwa Afghanistan bukanlah sekadar ruang geografis, melainkan simpul sentral dalam keamanan dan pergerakan ekonomi kawasan.
Bahkan Amerika Serikat, meski telah menarik diri dan retorikanya cenderung dingin, tidak sepenuhnya meninggalkan panggung. Mereka masih mengelola kehadirannya dari belakang, dalam pengawasan yang cermat dan keterlibatan selektif untuk memastikan bahwa timbangan kawasan tidak keluar dari batas-batas kepentingan utama mereka.
Dengan demikian, kehadiran Afghanistan di Forum Doha tampak sebagai sebuah langkah dalam konteks proses yang lebih luas: mematahkan isolasi, menegaskan kehadiran, dan merumus ulang hubungan Kabul dengan dunia. Namun, kehadiran ini disyaratkan oleh dua elemen krusial: pemantapan keamanan internal, dan keterbukaan diplomatik yang terukur yang tidak mengorbankan prinsip-prinsip dasar maupun menyia-nyiakan peluang.
Adapun pembacaan panggung dari perspektif yang lebih luas menunjukkan bahwa Imarah Islam sedang bergerak dalam fase baru diplomasi regional. Mereka tidak lagi mencari pengakuan tradisional, melainkan membangun pengakuan praktis yang berlandaskan pada realitas geopolitik yang sulit diabaikan. Dalam konteks ini, penampilan Dr. Abdul Hai Qanit menjadi model bagi sebuah pidato yang memadukan ketenangan strategis dan realisme politik, menghadirkan citra Afghanistan yang berdialog dari posisi yang yakin, bukan yang ragu-ragu.
Ia menekankan dalam intervensinya bahwa keamanan bukanlah sekadar pencapaian internal, melainkan keuntungan regional yang akan membuka pintu-pintu jalan, jalur transit, dan proyek-proyek konektivitas energi, serta bahwa negara terus melangkah menuju hubungan yang berlandaskan kesetaraan dan saling menghormati. Wacana ini menggambar ulang citra Afghanistan: sebuah negara yang telah keluar dari beberapa dekade perang, tetapi tidak keluar dari sejarah; melainkan kembali untuk menciptakan perannya di dalamnya.
Ibu kota-ibu kota regional sedang berusaha menghadapi kenyataan ini dengan pragmatisme yang jelas, karena mereka menyadari bahwa Kabul bukan lagi sekadar berkas yang dikelola dari luar, melainkan seorang pemain yang memiliki pilihan dan bobotnya sendiri. Di antara Washington yang mengawasi dari kejauhan, Moskow yang mencari perluasan jalur energi ke selatan, dan Beijing yang melihat Afghanistan sebagai gerbang proyek ekonominya, Imarah Islam muncul sebagai pemain yang berupaya memanfaatkan geografi, bukan untuk dimanfaatkan olehnya.
Apa yang terjadi di Doha bukanlah peristiwa yang lewat begitu saja, melainkan lembaran baru dalam lintasan kembalinya Afghanistan ke keseimbangan regional. Jika Imarah Islam mampu mengubah kehadiran simbolis ini menjadi proyek-proyek praktis, maka negara ini akan keluar dari lingkup objek politik menuju posisi aktor yang diperhitungkan, dan memiliki kemampuan untuk menggambar sebagian dari rona keseimbangan yang akan datang.
Majalah Al Somood Edisi 241
https://www.alsomood.af/%d8%a3%d9%81%d8%ba%d8%a7%d9%86%d8%b3%d8%aa%d8%a7%d9%86-%d9%81%d9%8a-%d9%85%d9%86%d8%aa%d8%af%d9%89-%d8%a7%d9%84%d8%af%d9%88%d8%ad%d8%a9-%d9%85%d9%86-%d8%a7%d8%b3%d8%aa%d8%b9%d8%a7%d8%af%d8%a9-%d8%a7/

COMMENTS