Yerusalem di Ambang Bahaya.. Dr. Jamal Amr: Pendudukan Melaksanakan Proyek Paling Berbahaya untuk Mempercepat Yahudisasi di Al-Aqsha Kota Ye...
Kota Yerusalem yang diduduki sedang mengalami fase yang digambarkan sebagai yang paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terjadi seiring dengan percepatan tindakan-tindakan Israel di dalam Masjid Al-Aqsha dan Kota Tua, di tengah meningkatnya pengaruh kelompok-kelompok agama dan nasionalis ekstrem dalam lanskap politik Israel.
Pemandangan penyerbuan massal, pelaksanaan doa Talmud, dan pengibaran bendera Israel di halaman Al-Aqsha kini telah menjadi bagian dari realitas sehari-hari. Hal ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan warga Palestina bahwa pendudukan sedang beralih dari kebijakan "manajemen konflik" menuju pemaksaan fakta kedaulatan dan agama yang baru secara paksa.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Pusat Informasi Palestina, pakar urusan Yerusalem, Jamal Amr, memperingatkan bahwa apa yang terjadi di Yerusalem "tidak lagi sekadar tindakan keamanan atau politik yang bersifat sementara." Melainkan, ini merupakan sebuah proyek terpadu untuk membentuk ulang identitas kota tua Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha, yang berujung pada pemaksaan pembagian waktu dan ruang, serta upaya mengubah narasi ekstremis yang bersumber dari Taurat menjadi sebuah realitas yang nyata.
Al-Aqsha.. Dari Manajemen Konflik Menuju Pemaksaan Kedaulatan Agama
Dr. Jamal Amr menyatakan bahwa tindakan-tindakan Israel di Masjid Al-Aqsha telah "melampaui tahap manajemen konflik atau bahkan upaya mempertahankan bentuk keseimbangan yang ada." Ia menegaskan bahwa pendudukan kini bertindak "secara sepihak, tanpa sedikit pun mempertimbangkan pihak Palestina maupun perwalian Yordania."
Ia menambahkan bahwa kelompok-kelompok agama ekstremis yang sebelumnya dianggap marjinal, kini telah menjadi penentu keputusan dan memiliki pengaruh terbesar di dalam entitas Israel. Ia menjelaskan bahwa pemandangan yang muncul di dalam Al-Aqsha berupa tarian, doa Talmud, dan pengibaran bendera, "dulunya hanyalah mimpi bagi rabi ekstremis Meir Kahane, namun para pengikutnya kini menerapkannya di lapangan."
Ia mengindikasikan bahwa kelompok-kelompok ini "menyeret seluruh proyek Zionis menuju ekstremisme agama dan nasionalisme yang lebih dalam," seraya memperingatkan bahwa pengaruh mereka meluas secara belum pernah terjadi sebelumnya di dalam pemerintahan Israel dan lembaga-lembaga pembuat keputusan.
Terpecahnya Masyarakat Israel dan Bangkitnya Arus Agama
Dr. Jamal Amr menjelaskan bahwa masyarakat Israel sedang mengalami transformasi internal yang mendalam, yang ditandai dengan kemunduran kaum kiri dan kelompok sekuler tradisional, berbanding terbalik dengan meningkatnya pengaruh partai-partai agama dan nasionalis garis keras.
Ia mengatakan bahwa "sosialisme dan kaum kiri Israel hampir menghilang sepenuhnya," sembari mencatat pada saat yang sama bahwa kubu kanan ekstrem itu sendiri "tidak bersatu, melainkan hidup dalam kondisi perpecahan dan persaingan yang sengit."
Ia menambahkan bahwa sebagian kelompok agama masih mengharamkan penyerbuan ke Masjid Al-Aqsha, sementara kelompok lain mendorong penyerbuan total dan pemaksaan ritual Talmud di dalamnya. Ia mengindikasikan bahwa para rabi yang dekat dengan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, "telah memfatwakan kebolehan memasuki Kubah Shakhrah, Masjid Al-Qibli, dan Masjid Al-Marwani."
Ia melanjutkan bahwa konflik di dalam arus agama terjadi antara kelompok "Sapi Merah" dan arus nasionalis ekstrem, namun benang merah yang menyatukan mereka adalah upaya untuk memaksakan kendali penuh atas Al-Aqsha.
Masjid Ibrahimi sebagai Contoh, dan Al-Aqsha Menuju Jalan yang Sama
Dr. Jamal Amr memperingatkan akan terulangnya skenario Masjid Ibrahimi di Masjid Al-Aqsha, menegaskan bahwa pendudukan mengandalkan kebijakan "gradualisme yang lambat" dalam memaksakan fakta-fakta baru.
Ia mengatakan bahwa apa yang terjadi di Masjid Ibrahimi setelah pembantaian yang dilakukan oleh pemukim ekstremis Baruch Goldstein "merupakan contoh yang jelas dari apa yang ingin diterapkan di Al-Aqsha." Ia menjelaskan bahwa pendudukan berhasil di sana dalam memaksakan pembagian waktu dan ruang, kemudian memperluas kendali mereka ke bagian-bagian yang paling sensitif di dalam kompleks tersebut.
Ia menambahkan bahwa pendudukan "tidak lagi menyembunyikan ambisinya," setelah mendeklarasikan Masjid Ibrahimi sebagai bagian dari apa yang mereka sebut "warisan Yahudi." Ia mengindikasikan bahwa kelompok-kelompok ekstremis berbicara secara terbuka tentang penghancuran Masjid Al-Aqsha dan pembangunan Kuil (Haikal) Sulaiman yang mereka klaim di atasnya, khususnya di area Kubah Shakhrah.
Ia menegaskan bahwa rencana-rencana ini "berjalan maju di tengah ketiadaan pencegahan yang nyata, dan melemahnya gelombang protes Arab dan Islam, yang memberikan kesan kepada pendudukan bahwa mereka dapat bergerak tanpa menanggung biaya politik."
Kota Tua Menjadi Barak Militer Terbuka
Dr. Jamal Amr menggambarkan apa yang dialami Kota Tua di Yerusalem sebagai "transformasi total dari ruang sipil bersejarah menjadi kamp militer yang tertutup."
Ia mengatakan bahwa Kota Tua, yang dulunya merupakan model kehidupan sipil dan warisan arsitektur, kini telah menjadi "hutan senapan, kamera, dan tentara," terutama selama perayaan-perayaan Israel seperti apa yang mereka sebut "Hari Penyatuan Yerusalem."
Ia menambahkan bahwa pasukan pendudukan menggunakan sistem pengawasan canggih dan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk melacak warga Palestina di dalam kota, menegaskan bahwa "segala sesuatu kini diawasi dan diprogram dengan tujuan untuk mengendalikan penduduk secara penuh dan mendorong mereka menuju pengusiran paksa."
Ia juga mengindikasikan meningkatnya upaya untuk menguasai properti-properti Palestina di sekitar Tembok Al-Buraq dan Bab Al-Silsilah (Gerbang Rantai), dalam kerangka kebijakan yang bertujuan memperluas permukiman Yahudi dan menghubungkannya dengan situs-situs di sekitar Al-Aqsha.
Memanfaatkan Perang dan Memaksakan Kebijakan Darurat
Dr. Jamal Amr menegaskan bahwa pendudukan memanfaatkan situasi kesibukan regional dan internasional akibat perang dan krisis yang sedang berlangsung untuk meloloskan rencana-rencana mereka di Yerusalem dan Al-Aqsha.
Ia mengatakan bahwa pemandangan perang, kehancuran, dan pengetatan keamanan di wilayah Palestina "telah berubah menjadi pesan-pesan intimidasi yang ditujukan kepada warga Yerusalem," yang intinya adalah bahwa setiap upaya protes atau perlawanan akan dihadapi dengan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia menambahkan bahwa pendudukan memberlakukan "kebijakan darurat yang permanen," baik melalui penangkapan, pembatasan, maupun penggunaan kekuatan berlebihan, dengan tujuan mengukuhkan fakta di lapangan dan melemahkan setiap kemampuan Palestina untuk menghadapi mereka di dalam Yerusalem.
Perwalian Yordania.. Antara Komitmen dan Ketidakberdayaan
Dalam pembicaraannya mengenai perwalian Yordania atas tempat-tempat suci, Dr. Jamal Amr mengatakan bahwa warga Palestina masih berpegang teguh pada peran Yordania dalam melindungi Masjid Al-Aqsha. Namun, skala serangan Israel saat ini "membuat perwalian tersebut tampak seolah-olah telah kehilangan substansinya."
Ia menambahkan bahwa pendudukan berusaha menyeret Yordania ke dalam posisi yang rumit, dan mendorongnya untuk menghadapi fakta-fakta baru tersebut sebagai *fait accompli* (fakta yang sudah terjadi). Ia menyerukan adanya tindakan Arab dan Islam yang luas yang melampaui sekadar pernyataan kecaman tradisional.
Pawai Bendera.. Pameran Kekuatan dan Penindasan Kolektif
Mengenai "Pawai Bendera", Dr. Jamal Amr menegaskan bahwa acara ini tidak lagi sekadar kegiatan Israel, melainkan telah berubah menjadi "alat untuk mempermalukan dan menindas warga Palestina di dalam kota mereka sendiri."
Ia mengatakan bahwa para peserta pawai menyerang toko-toko dan pedagang Palestina di bawah perlindungan keamanan dan militer yang ketat, sementara kehidupan warga Yerusalem pada hari itu berubah menjadi "neraka yang sesungguhnya."
Ia menambahkan bahwa warga Palestina di Yerusalem "kini menjadi target dalam hal mata pencaharian, pergerakan, keberadaan, dan bahkan citra psikologis mereka," di tengah perasaan yang semakin meningkat akan pengkhianatan dan isolasi.
Yerusalem di Antara Perdamaian dan Ledakan
Dr. Jamal Amr mengakhiri pembicaraannya dengan menegaskan bahwa Yerusalem "selalu menjadi kunci perang dan perdamaian," seraya mengindikasikan bahwa kota ini telah menyaksikan momen-momen penting dalam sejarahnya, seperti Revolusi Al-Buraq dan Revolusi Besar Palestina.
Ia mengatakan bahwa warga Yerusalem saat ini hidup dalam kondisi trauma dan tekanan yang luar biasa, pada saat kota tersebut "telah jatuh sepenuhnya ke dalam perangkap militer Israel." Ia memperingatkan bahwa kelangsungan realitas ini tanpa adanya sikap Palestina dan Arab yang komprehensif "akan membuka pintu bagi ledakan dan eskalasi yang lebih besar di masa depan."
Jumat, 15 Mei 2026
Pusat Informasi Palestina
https://palinfo.com/news/2026/05/15/1109101/

COMMENTS