Memahami Pesan Amirul Mukminin hafizhahullah Tidak semua kata adalah pesan, tetapi beberapa pesan adalah pesan-pesan kecil yang berjalan di ...
Tidak semua kata adalah pesan, tetapi beberapa pesan adalah pesan-pesan kecil yang berjalan di atas kertas; ketika engkau membacanya, engkau melihat di balik huruf-hurufnya ada para pria, di balik ungkapan-ungkapannya ada sejarah, dan di balik makna-maknanya ada sebuah proyek yang ingin membentuk manusia, masyarakat, dan negara dalam bingkai keimanan dan amal. Dan dari jenis inilah pesan ucapan selamat yang ditujukan oleh Amirul Mu'minin, Syaikh Maulawi Hibatullah Akhundzadah hafizhahullah pada Idul Adha (tahun 1447 Hijriyah / 2026 Masehi) yang penuh berkah. Ia bukanlah pidato tahunan yang lewat begitu saja, bukan pula kata-kata basa-basi yang diucapkan pada momen hari raya lalu berakhir seiring berakhirnya hari raya, melainkan sebuah pernyataan yang menggambar peta jalan, memperbarui definisi tujuan, menentukan hubungan seorang muslim dengan Rabbnya, hubungan negara dengan risalahnya, dan hubungan masyarakat dengan tanggung jawabnya.
Pernyataan ini dimulai dari tempat yang semestinya dimulai oleh umat-umat yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ia tidak berangkat dari politik menuju agama, tidak pula dari dunia menuju akhirat, melainkan berangkat dari aqidah menuju seluruh kehidupan, dengan mengutip firman Allah Ta'ala: "Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam." Seolah seluruh pesan ini adalah tafsir praktis dari ayat yang agung ini; karena tidak ada nilai bagi kehidupan manusia jika ia terpisah dari tujuan besarnya, tidak ada makna bagi kekuatan jika tidak dalam membela kebenaran, dan tidak ada keberkahan dalam pembangunan jika tidak berdiri di atas fondasi keimanan.
Di sinilah gagasan sentral dari pernyataan ini tampak jelas; kehidupan dalam pandangan Islam bukanlah sekumpulan kepentingan yang terpisah-pisah, melainkan penghambaan yang menyeluruh kepada Allah 'Azza wa Jalla. Oleh karena itu, Amirul Mu'minin kembali mengingatkan bahwa tujuan sejati hidup manusia adalah beribadah kepada Allah, bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada-Nya, dan berpegang teguh pada hukum-hukum syariat-Nya. Ini bukanlah seruan pada ritual-ritual yang hampa, melainkan seruan untuk membangun manusia dari dalam dirinya, karena peradaban tidak tegak hanya dengan batu-batu, melainkan dengan hati nurani, dan tidak diciptakan oleh lembaga-lembaga semata, melainkan diciptakan sebelumnya oleh hati-hati yang beriman pada apa yang mereka perjuangkan.
Salah satu hal paling mendalam yang menarik perhatian dalam pernyataan ini adalah ia menghadirkan keamanan dan stabilitas sebagai nikmat ilahi yang patut disyukuri, bukan sekadar pencapaian politik yang dipamerkan di depan masyarakat. Ada perbedaan besar antara orang yang memandang keamanan sebagai perebutan kekuasaan, dan orang yang memandangnya sebagai amanah tanggung jawab. Kata-kata pesan ini sarat dengan makna tersebut; ia mengaitkan nikmat keamanan dengan tegaknya sistem syar'i, dan stabilitas dengan penjagaan hak-hak serta pencegahan kezhaliman. Seolah-olah pesan ini mengatakan bahwa keamanan sejati tidak lahir hanya dari moncong senjata, melainkan lahir dari keadilan hukum, integritas peradilan, dan ketakutan orang zhalim kepada Allah sebelum ketakutannya kepada hukuman.
Dari sinilah penekanan pernyataan bahwa hak-hak syar'i seluruh warga negara terjaga dan terpelihara, serta kezhaliman dilarang dan diperangi. Isu ini bukanlah rincian administratif dalam pesan, melainkan jantung pesan yang berdenyut; karena bangsa-bangsa mungkin dapat menanggung kemiskinan untuk suatu waktu, dan dapat bersabar menghadapi kesulitan selama bertahun-tahun, tetapi mereka tidak dapat hidup lama di bawah cengkeraman kezhaliman. Keadilan dalam pandangan Islam bukanlah anugerah dari penguasa kepada rakyat, melainkan kewajiban yang diwajibkan Allah atas semua orang, dan dipikul tanggung jawabnya oleh setiap orang yang diserahi urusan manusia.
Oleh karena itu, pernyataan ini tidak hanya berhenti pada penyebutan pengadilan syar'i dan penerapan hukum-hukumnya, melainkan beralih ke sisi lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu aspek perbaikan moral dan sosial. Syariat pada hakikatnya bukanlah sekadar batasan-batasan (hukuman), melainkan bangunan yang utuh bagi manusia dan masyarakat. Karena itu, para ulama, dai, dan pejabat amar ma'ruf nahi mungkar diajak untuk melipatgandakan upaya mereka dalam mengajarkan urusan agama kepada masyarakat dan menyadarkan mereka akan kewajiban syar'i mereka. Ketidaktahuan (kebodohan) adalah musuh utama umat, dan ilmu adalah penjaga yang memelihara aqidah, meluruskan perilaku, dan membentuk generasi.
Jika pesan ini telah berbicara tentang agama, ia tidak melupakan manusia. Di sela-sela kata-katanya, terdapat kehadiran yang jelas bagi anak yatim, janda, penyandang disabilitas, dan orang-orang yang membutuhkan. Kelompok-kelompok ini adalah tolok ukur moral sejati bagi masyarakat mana pun; karena kekuatan bangsa tidak diukur hanya dari kekayaan yang dimilikinya, melainkan dari rahmat yang diberikannya. Betapa indahnya peringatan ini hadir di hari Idul Adha, di mana meja-meja kebahagiaan meluas, agar maknanya adalah bahwa hari raya tidak sempurna kecuali jika kegembiraan masuk ke rumah-rumah mereka yang terampas haknya, dan takbir yang mengumandang di masjid-masjid harus berubah menjadi rahmat yang berjalan di pasar-pasar, rumah-rumah, dan jalanan.
Kemudian pernyataan ini beralih ke lingkup yang lebih luas, yaitu lingkup hubungan internasional. Di sinilah keseimbangan visi tampak; ia menegaskan upaya membangun hubungan politik dan ekonomi dengan negara-negara di dunia, khususnya negara-negara Islam, dalam kerangka prinsip-prinsip syariat Islam. Isolasi bukanlah tujuan, dan peleburan diri bukanlah pilihan. Yang dituntut adalah kehadiran yang bermartabat di dunia, yang menjaga identitas tanpa memutus jembatan, berpegang pada prinsip tanpa menutup diri dari kepentingan yang sah.
Dan salah satu bagian paling fasih dari pesan ini adalah kata-kata yang ditujukan oleh Amirul Mukminin kepada para pejabat Imarah Islam, yang mengajak mereka untuk melayani masyarakat, membuka pintu bagi kebutuhan mereka, dan mempercepat penyelesaian urusan mereka. Kata-kata ini mengingatkan kembali pada sebuah kebenaran yang sering dilupakan oleh para pemilik jabatan: bahwa kekuasaan dalam Islam adalah beban (taklif), bukan kehormatan (tasyrif), pelayanan bukan previlege, dan tanggung jawab bukan keuntungan. Dan bangsa yang melihat pejabatnya lebih dekat dengan masyarakat daripada pintu rumah mereka, lebih mampu mempercayai masa depannya daripada bangsa yang dipisahkan antara rakyat dan penguasanya oleh tembok-tembok dan benteng.
Di sisi lain, terdapat peringatan keras terhadap kezhaliman, dengan nada yang mengingatkan pada khutbah-khutbah para pendahulu dan kata-kata para ulama rabbani. Kezhaliman, betapapun kuatnya ia tampak, membawa benih kehancurannya di dalam dirinya, karena Allah Subhanahu wa ta'ala memberi penangguhan tetapi tidak mengabaikan, dan doa orang yang terzhalimi tidak akan hilang antara langit dan bumi. Ini adalah sunnatullah (hukum alam) sebelum menjadi dalil agama; tidak ada negara yang runtuh, tidak ada imperium yang runtuh, kecuali ketika mereka mengira bahwa kekuatan dapat menggantikan keadilan.
Adapun paragraf yang membahas tentang para pengungsi yang kembali ke tanah air, ia membawa dimensi kemanusiaan dan nasional yang sangat penting. Mereka tidak kembali sebagai individu-individu yang tercerai-berai, melainkan bersama mereka kembali sejarah penderitaan, kerinduan, dan penantian. Oleh karena itu, merawat mereka dan memudahkan kembalinya stabilitas mereka bukanlah sekadar tindakan administratif, melainkan kewajiban moral dan nasional yang dituntut oleh kesetiaan kepada putra-putra negeri.
Kemudian pesan ini mencapai puncak spiritualnya ketika berbicara tentang perlunya menjaga sistem syar'i sebagai buah dari darah para syuhada dan pengorbanan para mujahidin. Di sini pernyataan tidak berbicara tentang lembaga politik semata, melainkan tentang amanah historis yang telah dibayar oleh umat dengan usia, penderitaan, dan jihad panjang putra-putranya. Dan untuk itulah ia menyerukan persatuan, kekompakan, dan berdiri dalam satu barisan dalam menghadapi segala ancaman terhadap keamanan dan stabilitas.
Di bagian penutup, cakrawala meluas hingga mencakup seluruh umat Islam; di mana para jemaah haji diarahkan untuk memperbanyak doa bagi kaum muslimin yang tertindas di timur dan barat bumi. Seolah-olah Afghanistan, saat merayakan hari rayanya, tidak melupakan luka umat yang besar, dan tidak memisahkan diri dari keprihatinan kaum muslimin di mana pun mereka berada. Inilah makna sejati persaudaraan Islam: bahwa seorang muslim merasakan hatinya lebih luas dari batas-batas geografi, dan doanya melampaui negerinya untuk memeluk penderitaan seluruh umatnya.
Sesungguhnya orang yang merenungkan pernyataan ini tidak hanya membaca ucapan selamat hari raya, melainkan membaca visi yang utuh tentang kehidupan, negara, dan masyarakat; visi yang menjadikan tauhid sebagai fondasi, keadilan sebagai metode, ilmu sebagai sarana, rahmat sebagai akhlak, persatuan sebagai kebutuhan, dan pelayanan kepada masyarakat sebagai ibadah. Oleh karena itu, pesan ini bukanlah pembicaraan satu hari raya semata, melainkan pengingat abadi bahwa bangsa-bangsa yang beriman tidak dibangun dengan kebisingan dan slogan-slogan, melainkan dibangun ketika aqidah bertransformasi menjadi amal, nilai-nilai menjadi perilaku, dan pengorbanan menjadi peradaban.
Dan itulah pelajaran terbesar yang dibawa oleh pernyataan Amirul Mu'minin: bahwa hari raya sejati bukanlah pada pakaian baru, atau pada hari yang lewat di antara hari-hari sepanjang tahun, melainkan pada umat yang memperbarui janjinya dengan Allah, memelihara agamanya, menjaga persatuannya, dan membangun masa depannya di atas fondasi keimanan, keadilan, dan rahmat.
Majalah Al Somood Edisi 246
https://www.alsomood.af/%d9%82%d8%b1%d8%a7%d8%a1%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d8%a8%d9%8a%d8%a7%d9%86-%d8%a3%d9%85%d9%8a%d8%b1-%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%a4%d9%85%d9%86%d9%8a%d9%86-%d8%ad%d9%81%d8%b8%d9%87-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87/

COMMENTS