Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah Berikut ini teksnya: فكنت أتمنى سؤال واحد فقط ، هل قلتم مرة أن ( معالم في الطريق ) ه...
Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah
Berikut ini teksnya:
فكنت أتمنى سؤال واحد فقط ، هل قلتم مرة أن ( معالم في الطريق ) هو توحيد كُتب بأسلوب عصري؟
فقال فضيلة الشيخ محمد ناصر الدين الألباني- رحمه الله :
أنا أقول إنه في هذا الكتاب فصل قيّم جداً، أظن عنوانه: ( لا إله إلا الله، منهج حياة ) هذا الذي أقوله..
وأنا قلتُ آنفاً، ومثل ما يقولوا عندنا بالشام [غير واضح] الرجل ليس عالماً، لكن له كلمات عليها نور، عليها علم.. مثل : منهج حياة..
أنا أعتقد إن العنوان هذا كثير من إخوانا السلفيين ما تبنوا معناه، أنه ( لا إله إلا الله منهج حياة ) .
المرجع : شريط ( الاعتدال ) للشيخ الألباني ، الجزء الأول
Ada orang bertanya: “Saya berharap bisa bertanya satu pertanyaan saja, sekali lagi apa komentar Anda tentang Ma’alim Fith Thariq, apakah dia buku tauhid dengan gaya modern?
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah menjawab:
“Saya katakan bahwa dalam kitab tersebut terdapat pembahasan yang sangat berharga. Saya kira nama penjudulan seperti Laa Ilaha illallah Minhajul Hayah, inilah yang saya katakan ….
Yang saya katakan tadi, dan yang semisal dikatakan oleh orang-orang di Syam kepada kami (perkataan tidak jelas) dia bukanlah seorang ulama, tetapi dia memiliki perkataan yang memiliki cahaya dan ilmu, semisal: manhaj hayah ..
Saya yakin, sesungguhnya penjudulan ini banyak dari saudara kami para salafiyin tidak memiliki kepandaian terhadap maknanya, bahwa (Laa Ilaha Illallah adalah manhaj kehidupan). referensi: kaset caramah Syaikh Al Albani berjudul Al I’tidal Juz. 1. (Mudzakarah Al Watsaiq Al Jaliyyah, Hal. 48, lihat juga Al Watsaiq Ad Difa’iyah ‘An ‘Ulama As Salafiyah Asy Syar’iyah, Hal. 60)
Teks yang kedua:
العلامة الألباني : سيد قطب جدد دعوة الإسلام
في قلوب الشباب
سئل عن كتاب سيد قطب : ( جاهلية القرن العشرين ) فأنكر الشيخ أن يوصف القرن العشرين بالجاهلية ثم قال : ( ثم إن في كلام سيد قطب رحمه الله وفي بعض تصانيفه مما يشعر الباحث أنه كان قد أصابه شيء من التـحمس الزائد للإسلام في سبيل توضيـحه للناس ، ولعل عذره في ذلك أنه كان يكتب بلغة أدبية ، ففي بعض المسائل الفقهية كحديثه عن حق العمال في كتابه : ( العدالة الاجتماعية ) أخذ يكتب بالتوحيد وبعبارات قوية تـحيي في نفوس المؤمنين الثقة بدينهم وإيمانهم ، فهو من هذه الخلفية في الواقع قد جدد دعوة الإسلام في قلوب الشباب وإن كنا نلمس أحياناً أن له بعض الكلمات تدل على أنه لم يساعده وقته على أن يـحرر فكره من بعض المسائل التي كان يكتب حولها أو يتـحدث فيها ) ا.هـ
المرجع: كتاب (حياة الألباني وآثاره وثناء العلماء عليه) تصنيف محمد بن إبراهيم الشيباني ، الجزء الأول
Al ‘Allamah Al Albani: Sayyid Quthb Memperbarui Da’wah Islam dalam Dada Para Pemuda
Beliau ditanya tentang kitab Sayyid Quthb (Jahiliyah Abad 20), Syaikh menolak abad 20 disifati dengan jahiliyah, kemudian dia berkata:
“Kemudian, pada ucapan Sayyid Quthb Rahimahullah dan pada sebagian karyanya terkandung di dalamnya pembahasan yang begitu menyentuh, bahwasanya beliau dalam menjelaskan kepada manusia dibarengi semangat menggelora terhadap Islam, semoga itu adalah sebagai ‘uzur baginya, beliau menulis dengan bahasa sastra, lalu pada sebagian masalah fiqih seperti pembicaraannya tentang hak para pekerja dalam kitab Al ‘Adaalah Al Ijtima’iyah, dia menulis tentang tauhid dengan kata-kata yang begitu kuat yang menghidupkan jiwa orang-orang beriman yang percaya dengan agama dan keimanan mereka. Maka, itulah yang melatarbelakangi kenyataan bahwa dia telah memperbaharui dakwah Islam di dalam dada para pemuda. Jika kami menemukan kadang-kadang bahwa beliau memiliki sebagian perkataan yang menunjukkan bahwa beliau tidaklah terbantu oleh waktu untuk melepaskan pemikirannya pada sebagian permasalahan yang dahulu pernah ditulisnya atau dibicarakannya.” Referensi: Hayatu Al Albani wa Aatsaruhu wa Tsana’u Al ‘Ulama ‘Alaih, Juz. 1, disusun oleh Muhammad bin Ibrahim Asy Syaibani. (Mudzakarah Al Watsaiq Al Jaliyyah, Hal. 49, lihat juga Al Watsaiq Ad Difa’iyah ‘An ‘Ulama As Salafiyah Asy Syar’iyah, Hal. 61)
https://risalah.id/sayyid-quthb-di-mata-para-ulama/
* * *
Syekh Al bani didebat oleh salah seorang pengikut madkhaliyah
Pada video di link ini : https://youtu.be/7QRyofHgDYM?si=Rqb9sS-Rkh6Om21s
Salah seorang pengikut GARIS KERAS DR. Rabi’ Al madkhali berdialog dengan Syekh al bani dan nampak mendebat syekh demi membela gurunya.
Murid Rabi’ Al madkhali ini seolah tidak terima dengan pernyataan syekh Al bani yang mengkritik dan menilai DR.Rabi’ al madkhali dalam (uslub) bahasa dan sikapnya sangat keras dalam membantah khususnya kepada Sayyid qutb sebagaimana dalam bukunya yang berjudul “Adhwau Al Islamiyah ‘ala ‘aqidati Sayyid qutb”.
Berikut saya deskripsikan sebagian dialognya secara ringkas ..
Penanya: Syekh Rabi', saat kunjungan kita sebelumnya, kita membahas buku "adwau al islamiyah ‘ala ‘aqidati Sayyid Qutb," dan Anda mengatakan bahwa didalamnya mengandung uslub yang keras. Saya meminta bukti dari Anda, dan Anda telah menjanjikan saya pada waktu yang lain dengan saudara Abu Kamil. Saya juga meminta bukti dari Anda, tetapi Anda mengatakan bahwa saat ini belum tersedia. Saya ingin melihat uslub yang keras dalam buku-bukunya agar saya bisa menasihatinya.
Syekh: Baiklah, tetapi apakah engkau belum membaca buku-bukunya?
(الشيخ: طيب، وأنت ما قرأت كتبَه؟)
Penanya: Saya sudah membaca buku-bukunya, tetapi saya tidak menemukannya.
Syekh: Subhanallah !
(! الشيخ: سبحان الله )
Penanya: Ya, berikan kami bukti uslubnya yang keras dalam buku beliau “adwau al islamiyah ‘ala ‘aqidati Sayyid Qutb.”
Syekh: Lalu apa yang melatarbelakangi semua ini, ya ustadz?
( الشيخ: ثم ماذا وراء هذا يا أستاذ؟ )
Penanya: Maksud saya, beliau seorang yang Insya Allah kami menganggapnya diatas kebaikan. Orang-orang berkata, "sudahlah, Syekh Nashir (Albani) mengatakan uslubnya tidak benar dan beliau keras." kami ingin melihat di mana letak kekerasannya ?
Syekh: Uslub yang keras ada di semua bukunya.
(الشيخ: في كل كتبه الشدة موجودة )
[ Syekh kemudian meminta salah seorang muridnya untuk diberikan kepadanya buku yang dimaksud. Dan membacakan diantara isi bukunya untuk membuktikannya ]
Sekarang di sini beliau berkata: "Ini menunjukkan kegigihan Sayyid Qutb dalam mencela para Sahabat Rasulullah, ...dan kegigihannya dalam menuduh semua masyarakat Islam sebagai masyarakat jahiliyah—yaitu, kafir.”
Bukankah ini Bahasa yang keras ?
( هذا مش شدة؟ )
Penanya: mana kerasnya? Di mana letaknya?
Syekh: "Yaitu, kafir."
( الشيخ: "أي: كافرة )
Engkau tahu dalam hadis sahih: "Sesungguhnya pada dirimu ada jahiliyah (kebodohan)" Apakah ini berarti dia kafir?
( أنت تعرف في الحديث الصحيح: "إن فيك جاهلية" هل هذا معناه أن هو كافر؟ )
Penanya: Tidak.
Syekh: Baiklah, jadi jika Sayyid Qutb mensifatkan masyarakatnya sebagai masyarakat jahiliyah, bagaimana kita bisa menafsirkan dan menyandarkan kepadanya bahwa dia mengkafirkan masyarakat ?
Engkau sebelumnya menyangkal adanya uslubnya yang keras dalam buku bukunya, dan engkau tidak melihatnya sedikitpun.
Ini (bukti) sesuatu darinya uslubnya yang keras, dan cukup bagimu pengakuanmu untuk saat ini.
Oleh karena itu, kita tidak ingin fanatik kepada individu-individu tertentu, dan tidak pula atas individu individu tertentu, artinya kita tidak ingin fanatik kepada Zaid maupun atas Zaid. Kita tidak fanatik kepada (saudara kita) Ar-Rabi' karena kebenaran bersamanya, kita juga tidak fanatik kepada Sayyid Qutb karena kebatilan dan kesalahannya bersamanya.
Kita ingin berada di antara keduanya (sebagaimana hadits), "berusaha lah sesuai yang diperintahkan dan dekatilah."
Seandainya aku menyiapkan waktu hanya untuk Rabi', aku hanya akan membuang-buang waktuku hingga aku menunjukkan yang mengisyaratkan bahwa padanya ada uslub yang keras...
Penanya: Ya, Anda mengatakan ada uslub yang keras.Baik, dari mana itu berasal? dari kata ini, misalnya?
Syekh: Ini diantara banyaknya uslubnya yang keras, semoga Allah memberkahimu. Namun, engkau harus membaca buku ini dengan saksama dan teliti, bukan bersama Zaid atau Amr, melainkan bersama kebenaran, baik dari segi uslub maupun tujuannya. Jadi, jika engkau membacanya maka akan menemukan (uslub keras) banyak sekali. Singkatnya, KITA SEJALAN DENGANNYA DALAM ILMU, BUKAN SEPENDAPAT DENGANNYA DALAM HAL USLUB.
----------
Dari sini kita bisa melihat bagaimana kualitas para pengikut madkhaliyah khususnya murid murid garis kerasnya. Mereka sampai ngotot dan bahkan nampak mendebat seorang syekh senior semacam syekh al bani demi membela buta gurunya, padahal beliau sudah menunjukkannya, subhanallah ..
Dalam buku "Adwau al islamiyah 'ala 'aqidati sayyid qutb", DR.Rabi' memang sangat tajam dan pedas membantah bahkan hingga keluar berbagai macam vonis,diantaranya menvonis Sayyid qutb sebagai takfiri bahkan melebihi kelompok khawarij dan rafidhoh. Gegabah dan mudah menvonis hanya karena ada kalimat kalimat yang konteksnya umum dan mutlak lantas dipahami secara khusus dan spesifik, seperti kata "Jahiliyah", yang secara umum maknanya ialah bodoh namun bisa secara spesifik dimaknai kafir, tergantung konteksnya kalimatnya kepada siapa ditujukan.
Dalam hal ini sayyid qutb sebenarnya menyinggung tentang masyarakat dilingkungannya di Mesir (bukan seluruh masyarakat muslim seperti yang disimpulkan Rabi' al madkahli), mereka meninggalkan berhukum kepada Allah (tauhid hakimiyah) sehingga mereka disebut jahiliyah.
Beginilah kalau lebih mengedepankan buruk sangka dan kebencian akhirnya hilang sikap adil dan objektifitas lalu serampangan dalam menvonis, wallahul musta'an
https://www.facebook.com/100007499086781/posts/pfbid0a1wXaufeHEdpHe9xa8PMF81LwYDbprwaxH6D5kS6yBhxEbZhbrFkmZRt9Z7dN9nql/

COMMENTS